PARADAPOS.COM - Kemenangan Spanyol di Piala Dunia baru-baru ini menyisakan lebih dari sekadar euforia. Di balik permainan segar dan penuh energi yang memukau banyak pihak, tersimpan sebuah pelajaran penting tentang keberanian memberikan kepercayaan kepada generasi muda. Keberhasilan La Roja tidak semata-mata lahir dari bakat alamiah para pemainnya, melainkan dari sebuah sistem yang berani memercayai talenta muda. Di saat yang hampir bersamaan, Komisi Pemilihan Umum (KPU) merilis data yang menunjukkan dominasi pemilih muda Indonesia dalam Pemilu 2029, membuka pertanyaan besar: mampukah Indonesia meniru jejak Spanyol dalam mengelola potensi generasi mudanya?
Dominasi Angka, Minim Ruang
Lamine Yamal dan Pau Cubarsi adalah dua nama yang menjadi simbol keberhasilan pembinaan usia muda di Spanyol. Mereka bukanlah pemain yang muncul secara tiba-tiba. Keduanya telah melalui proses penggemblengan, asahan, dan persiapan yang panjang sebelum akhirnya dipercaya mengisi pos kunci di timnas. “Mereka digembleng, diasah, dipersiapkan melalui pembinaan yang panjang,” tulis artikel tersebut. Yang membedakan Spanyol dengan negara lain adalah keberanian untuk memberikan kesempatan ketika waktunya tiba, tanpa rasa takut akan persepsi ketidakmatangan yang melekat pada usia muda.
Di Indonesia, cerita tentang generasi muda justru datang dari sudut yang berbeda. Data KPU menunjukkan bahwa dari total 214.354.667 pemilih dalam Pemilu 2029, generasi milenial mendominasi dengan porsi 32,13 persen, disusul Gen Z sebesar 24,56 persen. Jika digabungkan, kekuatan dua generasi ini melampaui 56,5 persen dari total pemilih nasional. Artinya, lebih dari separuh suara dalam pesta demokrasi mendatang akan berada di tangan mereka yang lahir dan tumbuh di era reformasi.
Ironi di Balik Bonus Demografi
Pertanyaan krusial pun muncul: mampukah Indonesia memperlakukan bonus demografi ini layaknya Spanyol mengelola generasi emas sepak bola mereka? Bisakah kelompok muda ini ditempa menjadi kekuatan transformatif yang dahsyat, atau justru dibiarkan menjadi sekadar komoditas suara pemilu seperti yang sudah-sudah?
Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar. Pada Pemilu 2019 dan 2024, jumlah pemilih milenial dan Gen Z juga mendominasi, masing-masing sekitar 49 persen dan 55 persen. Namun, modal kuat itu gagal mengubah lanskap demokrasi. “Pusat gravitasi demokrasi yang mestinya mulai bergeser ke generasi muda nyatanya masih diduduki kaum tua,” demikian pengamatan dalam artikel tersebut. Cara berpolitik pun belum banyak berubah. Keterlibatan anak muda sering kali berhenti sebagai angka statistik penentu kemenangan, tetapi terpinggirkan ketika kebijakan publik dirumuskan.
Setiap kali pemilu tiba, generasi muda selalu menjadi target perebutan suara. Namun, setelah pemilu usai, mereka kembali diminta bersabar. Padahal, suara mereka layak didengar karena banyak persoalan yang menimpa mereka butuh perhatian serius. Tentang sulitnya mencari pekerjaan yang layak, harga rumah yang kian jauh dari jangkauan, lingkungan hidup yang semakin rusak, dan masa depan yang makin tidak pasti.
Keberanian Sistem vs. Senioritas
Semua masalah itu jelas tak akan selesai hanya dengan meminta mereka bersabar. Apalagi, di tengah usaha keras kaum muda untuk bersabar, kalangan tua justru terus mempertontonkan pertengkaran elite, bagi-bagi kekuasaan, penguasaan ekonomi pada segelintir kelompok, atau manuver politik yang berputar pada orang-orang yang sama.
Jika kembali berkaca pada timnas Spanyol, mereka menjadi juara bukan semata karena memiliki banyak pemain muda. Banyak negara lain juga memiliki pemain muda bertalenta. Yang membedakan adalah keberanian sistem untuk mendengar dan memberi mereka panggung. Pembinaan dijalankan, regenerasi dilakukan, dan kesempatan diberikan berdasarkan kesiapan, bukan senioritas semata, apalagi nepotisme.
Bandingkan dengan kebiasaan di Indonesia. Di hampir semua bidang, generasi muda sering dipuji sebagai aset bangsa, bonus demografi, harapan masa depan. Kalimat itu diulang-ulang dalam pidato, seminar, dan kampanye. Namun, ketika tiba saatnya memberikan ruang, keraguan justru muncul. Di dunia kerja, mereka dianggap kurang pengalaman. Dalam birokrasi, mereka dinilai belum matang. Di politik, mereka seolah dipaksa menunggu giliran. Di ruang pengambilan keputusan, suara mereka acap hanya menjadi pelengkap, bahkan sering kali didengar pun tidak.
Seperti halnya Yamal atau Cubarsi, anak-anak muda hebat di Indonesia butuh diberi ruang dan kepercayaan. Jika ingin mencontoh sepak bola Spanyol yang dalam lima tahun terakhir telah menjadi kekuatan paling dominan di sepak bola internasional, mestinya kita tidak ragu memberikan kepercayaan yang lebih besar kepada kelompok muda. Namun, di situlah letak ironinya. Negeri ini sejatinya tidak pernah kekurangan anak muda bertalenta. Yang masih langka justru keberanian untuk memercayai mereka.
Editor: Paradapos.com
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Korban Tewas Tenggelamnya Feri MV Barima di Guyana Bertambah Jadi 41 Orang, Pencarian Diperluas hingga Perbatasan Venezuela
22 Juli dalam Sejarah: Dari Bom Gereja 2001 hingga Penetapan Jokowi-JK sebagai Presiden Terpilih
KAI Commuter Aktifkan Kembali KRL Jogja–Solo, Tarif Rp8 Ribu untuk Semua Jarak
Pria di Surabaya Raup Omzet Rp18 Juta per Bulan dari Ternak Burung Blackthroat di Pekarangan Rumah