PARADAPOS.COM - Musim kemarau mulai memberikan tekanan nyata bagi warga di Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Hingga saat ini, sebanyak 20 desa yang tersebar di tiga kecamatan—Mranggen, Karangawen, dan Karangtengah—telah mengajukan permohonan bantuan distribusi air bersih. Pemerintah daerah pun bergerak cepat dengan mengoordinasikan pasokan air baku untuk kebutuhan rumah tangga dan pertanian, sembari mengandalkan bantuan tandon air dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
20 Desa Terdampak, Distribusi Air Mulai Digelar
Kesulitan mendapatkan pasokan air bersih bukan lagi sekadar ancaman. Di lapangan, warga di dua puluh desa tersebut sudah mulai merasakan dampak langsung dari berkurangnya sumber air. Pelaksana Harian Kepala BPBD Kabupaten Demak, Agus Sukiyono, menjelaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan skema distribusi agar masyarakat tidak kesulitan.
"Warga cukup mengambil melalui tandon air yang disediakan sesuai kebutuhan dan setiap saat. Kalaupun habis akan dilakukan droping tambahan," ujarnya.
Pernyataan itu disampaikan Agus dalam keterangan resmi pada Kamis, 23 Juli 2026. Ia menambahkan, pendistribusian akan dilakukan secara berkala dan disesuaikan dengan kondisi di masing-masing desa.
Koordinasi Lintas Instansi untuk Air Baku
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Demak tidak hanya fokus pada distribusi darurat. Langkah antisipatif jangka panjang mulai digulirkan dengan mengkoordinasikan pemanfaatan air baku. Bupati Demak, Eisti'anah, menyebut bahwa instruksi telah diberikan kepada dua institusi utama, yakni Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dan Dinas Pertanian.
"Kami sudah menginstruksikan baik PDAM maupun Dinas Pertanian untuk berkoordinasi terkait ketersediaan air baku dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) sebagai penyedia air baku," jelasnya.
Menurut Eisti'anah, koordinasi ini menjadi krusial untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan irigasi sawah dan pasokan air bersih bagi rumah tangga. Tanpa pengelolaan yang hati-hati, risiko konflik kepentingan antara petani dan warga perkotaan bisa saja muncul di tengah musim kemarau panjang.
Bantuan Tandon Air dari Pusat
Untuk memperkuat sistem penampungan di lapangan, Pemkab Demak juga mendapat sokongan dari BNPB berupa tandon air berkapasitas besar. Bantuan ini ditempatkan di wilayah-wilayah yang dinilai paling rawan kekeringan.
Agus Sukiyono menjelaskan, tandon tersebut tidak serta-merta dihibahkan, melainkan dipinjamkan kepada desa-desa yang membutuhkan. Tujuannya sederhana: agar warga tidak perlu lagi mengantre panjang setiap kali mobil tangki BPBD datang mendistribusikan air.
"Kami pastikan stok air bersih masih mencukupi untuk kebutuhan masyarakat terdampak. Penyaluran akan terus dilakukan secara berkala," tuturnya.
Dengan kombinasi antara distribusi langsung, koordinasi pengelolaan air baku, dan bantuan infrastruktur penampungan, pemerintah daerah berupaya menjaga agar pasokan air tetap mengalir hingga musim hujan tiba.
Editor: Rico Ananda
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Kuasa Hukum dr. Tifa Sebut Jokowi Tak Berani Hadir Sidang dan Hanya Andalkan Buzzer
Buku Ambarrukmo: Jatidiri dan Kebanggaan Negeri Diluncurkan, Ungkap Sejarah Kawasan dari Kebun Raja hingga Kedaton Pensiunan Sultan
Pertamina Catat Kontribusi Rp1.388,9 Triliun ke Ekonomi Nasional Lewat Program P3DN
Kuasa Hukum Jokowi Nilai Dikabulkannya Eksepsi dr. Tifa Bagian Dinamika Hukum yang Wajar