Trump Kembali Tunda Serangan ke Iran demi Beri Ruang Diplomasi, Teheran Hentikan Balasan

- Minggu, 26 Juli 2026 | 23:25 WIB
Trump Kembali Tunda Serangan ke Iran demi Beri Ruang Diplomasi, Teheran Hentikan Balasan
PARADAPOS.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menunda serangan militer terhadap Iran untuk malam kedua berturut-turut, memberi ruang lebih bagi upaya diplomasi yang tengah berlangsung. Keputusan ini diumumkan oleh Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz, dalam wawancara dengan Fox News pada Minggu, 26 Juli 2026. Di saat yang sama, Iran menghentikan serangan balasan di kawasan sebagai respons atas jeda operasi militer tersebut. Langkah ini terjadi setelah hampir dua pekan kedua negara saling melancarkan serangan setiap hari, yang secara efektif mengakhiri gencatan senjata yang sebelumnya dicapai pada Juni lalu.

Ruang untuk Diplomasi

Dalam wawancara tersebut, Waltz menjelaskan bahwa Trump sengaja memberikan kelonggaran bagi proses perundingan. “Presiden memberi kesempatan bagi pembicaraan. Dia memberikan sedikit ruang bagi diplomasi,” ujarnya. Meskipun demikian, Waltz menegaskan bahwa seluruh opsi tetap tersedia bagi Presiden Trump. Saat ditanya apakah Trump memutuskan untuk tidak meningkatkan operasi militer, ia menjawab dengan hati-hati. “Saya tidak akan mengatakan sejauh itu. Presiden tetap membuka semua opsi,” ungkapnya. Waltz juga membantah laporan The New York Times yang menyebut sejumlah pejabat pemerintahan khawatir perluasan operasi militer dapat menguras stok rudal pertahanan udara AS. Menurutnya, militer AS masih memiliki seluruh kemampuan yang dibutuhkan untuk menjalankan operasi secara efektif. Pernyataan ini disampaikan di tengah suasana tegang yang masih menyelimuti hubungan kedua negara. Sementara itu, juru bicara Angkatan Darat Iran mengonfirmasi bahwa Teheran telah menghentikan serangan balasan di kawasan. Langkah ini diambil sebagai respons langsung terhadap jeda yang dilakukan AS, memberikan sedikit harapan bagi meredanya ketegangan.

Perkembangan di Selat Hormuz

Hingga Minggu malam, Trump belum memberikan pernyataan resmi mengenai perkembangan terbaru. Namun, ia sempat mengunggah gambar hasil kecerdasan buatan di platform Truth Social. Gambar tersebut menggambarkan pesawat militer AS membombardir kapal-kapal Iran dan Pulau Kharg, sebuah gestur yang mempertegas sikap kerasnya. Di jalur diplomasi, Iran dan Oman menggelar beberapa putaran pembicaraan teknis di Teheran pada Jumat dan Sabtu. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menyatakan bahwa pertemuan itu membahas pengelolaan Selat Hormuz. Perselisihan mengenai pengaturan pelayaran di selat strategis ini kembali memicu ketegangan antara Washington dan Teheran pada awal Juli. Hingga kini, isu tersebut masih menjadi salah satu hambatan utama menuju penyelesaian permanen konflik. Pada Juni lalu, Iran dan AS menandatangani nota kesepahaman untuk menghentikan operasi militer, membuka kembali Selat Hormuz, serta mengupayakan perjanjian damai dalam waktu 60 hari. Namun, kesepakatan itu runtuh setelah serangan terhadap kapal-kapal tanker di Selat Hormuz pada 13 Juli. AS kemudian melanjutkan serangan udara ke Iran dan kembali memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran. Teheran membalas dengan serangan terhadap fasilitas militer AS di Timur Tengah. Di tengah eskalasi ini, Menteri Pertahanan Inggris Wes Streeting mengatakan akan bertemu dengan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth pekan ini. Pertemuan tersebut direncanakan untuk membahas keamanan Selat Hormuz. Streeting menegaskan bahwa Inggris dan AS memiliki pandangan yang sama mengenai pentingnya menjaga kebebasan pelayaran di jalur perdagangan energi strategis tersebut.

Frustrasi Publik dan Agenda Politik

Konflik yang mendekati bulan kelima ini mulai menimbulkan kelelahan di kalangan masyarakat AS. Jajak pendapat CBS/YouGov menunjukkan bahwa 57 persen warga Amerika Serikat merasa frustrasi terhadap perang tersebut. Hanya 19 persen yang menyatakan optimistis. Angka ini mencerminkan tekanan publik yang semakin besar terhadap pemerintahan Trump. Presiden Trump dijadwalkan bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih pada Selasa mendatang. Pertemuan tersebut diyakini akan membahas perkembangan situasi di Timur Tengah, termasuk upaya meredakan ketegangan dengan Iran.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler