PARADAPOS.COM - Mulai 1 Juli 2026, sejumlah pengelola Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Indonesia serempak menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis solar. Pertamina, Shell, BP-AKR, dan Vivo tercatat melakukan penyesuaian harga, dengan penurunan paling signifikan terjadi pada produk diesel. Di wilayah Jabodetabek, harga Dexlite Pertamina misalnya, turun dari Rp23.000 per liter menjadi Rp19.700 per liter, sementara Pertamina Dex turun dari Rp24.800 menjadi Rp21.150 per liter. Langkah ini diambil di tengah fluktuasi harga minyak global dan persaingan pasar bahan bakar di dalam negeri.
Penurunan Harga Solar Nonsubsidi Merata
Langkah penurunan harga ini tidak hanya dilakukan oleh Pertamina. Shell Indonesia, misalnya, memangkas harga solar dari Rp24.490 per liter pada Juni menjadi Rp21.340 per liter. Hal serupa dilakukan oleh BP-AKR, yang menurunkan harga BP Ultimate Diesel dari Rp25.060 per liter ke angka Rp21.340 per liter. Vivo pun tak ketinggalan, dengan produk Diesel Primus yang juga dibanderol Rp21.340 per liter.
Kebijakan ini berlaku serentak sejak awal Juli 2026. Para pengamat menilai, penurunan ini merupakan respons terhadap dinamika pasar dan upaya menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi.
Daftar Lengkap Harga BBM Nonsubsidi per 27-31 Juli 2026
Berikut rincian harga terbaru BBM nonsubsidi dari masing-masing operator SPBU yang berlaku di periode akhir Juli 2026.
1. Pertamina
- Pertamax (RON 92): Rp16.250 per liter.
- Pertamax Green (RON 95): Rp17.000 per liter.
- Pertamax Turbo (RON 98): Rp19.300 per liter.
- Dexlite (CN 51): Rp19.700 per liter.
- Pertamina Dex (CN 53): Rp21.150 per liter.
2. Shell
- Shell V-Power Diesel: Rp21.340 per liter.
- Untuk BBM jenis Shell Super (RON 92), Shell V-Power (RON 95), serta Shell V-Power Nitro (RON 98), masih belum tersedia.
3. BP-AKR
- BP 92: Rp16.670 per liter.
- BP Ultimate: Rp17.240 per liter.
- BP Ultimate Diesel: Rp21.340 per liter.
4. Vivo
- Revvo 92: Rp16.670 per liter.
- Revvo 95: Rp17.240 per liter.
- Diesel Primus: Rp21.340 per liter.
Dinamika Harga di Tengah Persaingan Pasar
Penurunan harga ini terjadi di saat konsumen mulai lebih jeli membandingkan harga antar merek. Sejumlah pengelola SPBU di Jakarta mengakui, persaingan harga menjadi strategi utama untuk mempertahankan pelanggan. “Kami mengikuti pergerakan pasar dan berusaha memberikan harga yang kompetitif,” ujar salah satu perwakilan operator SPBU di kawasan Jakarta Selatan, tanpa menyebut nama.
Di sisi lain, penurunan harga solar nonsubsidi ini disambut positif oleh para pengusaha logistik dan transportasi. Mereka berharap tren penurunan ini bisa berlanjut, mengingat biaya bahan bakar masih menjadi komponen utama dalam operasional harian.
Editor: Wahyu Pradana
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Garis Polisi Masih Terpasang di Klinik Mordent Empat Hari Usai Karumga Eks Jampidsus Tewas
Penembakan Massal di Seattle Center Saat Festival Kuliner, Dua Tewas dan Balita Terluka
IHSG Melemah 0,55 Persen di Tengah Penguatan Bursa Asia, Tertekan Aksi Jual Saham Big Cap
Shin Tae-yong Terancam Sanksi Larangan Melatih di Korsel Akibat Dugaan Kekerasan ke Pemain Ulsan HD