Entourage Bali Hentikan Silent Disco Run Usai Viral Diskriminasi WNI, Dua WNA Penyelenggara Dicekal

- Senin, 27 Juli 2026 | 12:50 WIB
Entourage Bali Hentikan Silent Disco Run Usai Viral Diskriminasi WNI, Dua WNA Penyelenggara Dicekal
PARADAPOS.COM - Entourage Bali resmi menghentikan penyelenggaraan Bali Silent Disco Run setelah gelombang kritik publik mencuat terkait dugaan diskriminasi terhadap warga negara Indonesia. Acara yang digelar di Canggu, Bali, itu diorganisir oleh dua warga negara asing yang kini telah meninggalkan Indonesia dan dicekal untuk kembali. Kemarahan bermula dari unggahan seorang perempuan Indonesia berusia 23 tahun yang mengaku ditolak mengikuti lari tersebut semata-mata karena status kewarganegaraannya. Polemik ini kemudian memicu penyelidikan lebih lanjut oleh otoritas imigrasi terkait legalitas acara dan izin tinggal para penyelenggara.

Kronologi Diskriminasi dan Kemarahan Publik

Peristiwa ini pertama kali terungkap setelah seorang perempuan muda membagikan pengalamannya di media sosial. Ia mengaku lamarannya untuk mengikuti acara lari bertema senyap itu ditolak. Unggahannya langsung menjadi viral dan memicu tuduhan massal bahwa panitia sengaja membedakan peserta berdasarkan kebangsaan. Kecurigaan publik semakin menguat setelah tangkapan layar formulir pendaftaran beredar luas. Dalam formulir tersebut, calon peserta diwajibkan mencantumkan kewarganegaraan mereka. Sejumlah warga Indonesia melaporkan bahwa pendaftaran mereka tidak direspons, sementara pelamar asing dikabarkan mendapat persetujuan dengan cepat.

Gangguan Ketertiban Umum di Canggu

Selain soal diskriminasi, acara ini juga memicu keluhan dari warga setempat. Lebih dari seratus peserta membanjiri jalan-jalan di Canggu pada pukul 5.30 WITA. Aktivitas tersebut, menurut laporan warga, memacetkan akses jalan dan mengganggu ketertiban umum. Suasana pagi yang biasanya tenang berubah menjadi riuh rendah. Warga yang hendak beraktivitas mengeluhkan kemacetan yang tidak biasa. Beberapa di antaranya menyayangkan bahwa acara yang mengusung konsep "senyap" justru menimbulkan kekacauan di lingkungan permukiman.

Permintaan Maaf dan Klarifikasi yang Dipertanyakan

Menanggapi tekanan publik, Entourage Bali akhirnya menyampaikan permintaan maaf melalui akun Instagram resmi mereka. Dalam pernyataannya, pihak penyelenggara mengklaim bahwa sistem pendaftaran mereka secara tidak sengaja menolak beberapa peserta yang menggunakan nomor telepon dengan kode negara Indonesia ( 62). Mereka juga menambahkan bahwa warga Indonesia justru menjadi mayoritas dari 120 peserta yang hadir. Namun, klarifikasi ini dinilai belum memuaskan. Publik masih mempertanyakan mengapa pencantuman kewarganegaraan menjadi syarat wajib dalam formulir pendaftaran jika tidak ada unsur diskriminasi yang disengaja.

Penyelidikan Imigrasi dan Pencekalan Dua WNA

Otoritas bergerak cepat. Direktorat Jenderal Imigrasi kini tengah menyelidiki dua warga negara Belanda yang diduga menjadi otak di balik penyelenggaraan Bali Silent Disco Run. Keduanya diketahui memiliki izin tinggal terbatas—satu untuk keperluan bekerja dengan inisial JAS (35), dan satu lagi sebagai investor dengan inisial HQV (37). Sebelum penyidik sempat memeriksa mereka, kedua tersangka dilaporkan telah terbang ke Singapura melalui Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai pada Kamis malam, 23 Juli 2026. Menyusul kepergian mereka, Direktorat Jenderal Imigrasi langsung menjatuhkan sanksi pencekalan. Keduanya tidak diizinkan menginjakkan kaki kembali di Indonesia. Para penjamin atau sponsor dari kedua WNA tersebut juga telah dipanggil untuk menjalani pemeriksaan di Kantor Imigrasi Ngurah Rai. Proses hukum masih terus berjalan, dan pihak Imigrasi bersama dengan Kepolisian Daerah Bali akan terus mendalami kasus ini. Ke depan, pemerintah mengimbau kepada seluruh penyelenggara acara untuk mematuhi peraturan yang berlaku serta menghormati komunitas dan budaya setempat.

Editor: Yoga Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar