IHSG Dibuka Menguat 0,40 Persen ke 5.936, Ditopang Sentimen Global dan Domestik

- Jumat, 10 Juli 2026 | 04:00 WIB
IHSG Dibuka Menguat 0,40 Persen ke 5.936, Ditopang Sentimen Global dan Domestik
PARADAPOS.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Jumat di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan catatan positif, naik 23,59 poin atau 0,40 persen ke level 5.936,04. Penguatan ini didorong oleh kombinasi sentimen dari pasar global dan domestik yang kembali membangkitkan optimisme investor terhadap prospek pasar modal Indonesia. Indeks LQ45, yang berisi saham-saham unggulan, juga ikut menguat 4,13 poin atau 0,10 persen menjadi 590,04.

Peluang Penguatan IHSG Masih Terbuka

Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, dalam kajiannya di Jakarta, Jumat, memberikan pandangan teknis mengenai pergerakan indeks. Ia menjelaskan bahwa selama IHSG mampu bertahan di atas area 5.900, peluang untuk melanjutkan penguatan masih terbuka lebar menuju level 5.987, kemudian 6.045 hingga 6.107. "Sebaliknya, apabila kembali turun di bawah 5.900, indeks berisiko menguji support di 5.839-5.805, sebelum menuju gap area di sekitar 5.744," ujarnya.

Gejolak Global dan Harapan Baru dari Timur Tengah

Dari sisi eksternal, ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah masih menjadi perhatian utama para pelaku pasar. Amerika Serikat (AS) baru saja melancarkan serangan baru ke sekitar 170 target di Iran sebagai balasan atas serangan terhadap kapal tanker minyak. Namun, harga minyak justru mengalami penurunan hampir 3 persen. Penurunan ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa Iran telah menghubungi AS dan menyatakan keinginan untuk mencapai kesepakatan. Pernyataan tersebut berhasil meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.

Optimisme AI dan Sikap The Fed

Di sisi lain, optimisme pasar tetap terjaga berita positif dari sektor teknologi. Saham-saham semikonduktor berhasil rebound dari aksi ambil untung, didorong oleh sejumlah kabar baik. Rencana Meta untuk memproduksi chip AI sendiri, tingginya permintaan IPO SK Hynix di AS, serta ekspansi investasi Micron menjadi katalis yang mencerminkan prospek belanja di bidang kecerdasan buatan (AI) yang masih kuat. "Secara keseluruhan, kombinasi pasar tenaga kerja yang masih resilien dan pelemahan sektor perumahan memperkuat ekspektasi bahwa The Fed masih akan mempertahankan pendekatan wait-and-see, sehingga tetap menjadi sentimen positif bagi pasar ekuitas," jelas Liza. Belum ada kebijakan moneter baru dari bank sentral AS, The Fed. Fokus pasar saat ini masih tertuju pada dampak konflik Timur Tengah terhadap inflasi dan arah kebijakan suku bunga ke depan.

Perbaikan Struktur Pasar Domestik

Dari dalam negeri, BEI melaporkan adanya perkembangan positif terkait tata kelola pasar. Jumlah emiten yang masuk dalam daftar High Shareholding Concentration (HSC) berkurang menjadi 14 perusahaan. BEI menegaskan bahwa status HSC bukan merupakan sanksi, melainkan bagian dari upaya meningkatkan transparansi pasar, free float, dan likuiditas saham melalui evaluasi berkala bersama KSEI. "Berkurangnya jumlah emiten dalam daftar HSC mencerminkan perbaikan struktur kepemilikan saham dan diharapkan dapat meningkatkan kualitas serta efisiensi pasar modal Indonesia," tutur Liza.

Keyakinan IMF pada Fundamental Ekonomi

Dari sisi makroekonomi, Dana Moneter Internasional (IMF) mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Lembaga keuangan global tersebut memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,0 persen pada 2026 dan 5,1 persen pada 2027. Proyeksi ini berada di tengah tren perlambatan ekonomi global dan kawasan. Angka tersebut mencerminkan keyakinan IMF terhadap ketahanan fundamental ekonomi Indonesia, yang terutama ditopang oleh konsumsi domestik dan investasi yang solid.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar