PARADAPOS.COM - Sebanyak 5.101 warga Kabupaten Tangerang, Banten, terdeteksi mengidap tuberkulosis (TBC) selama semester pertama tahun 2026. Data ini dihimpun Dinas Kesehatan setempat melalui penemuan kasus secara aktif, sebagai bagian dari upaya mencapai target eliminasi TBC pada 2030. Tiga kecamatan dengan temuan tertinggi adalah Mauk, Sepatan, dan Sukadiri.
Penemuan Kasus Aktif Jadi Andalan
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang, Hendra Tarmizi, mengungkapkan bahwa angka tersebut merupakan hasil dari langkah penjangkauan yang sistematis. Bukan sekadar menunggu pasien datang, petugas kesehatan turun langsung ke lapangan untuk mendeteksi warga yang berpotensi terpapar.
“Dari mulai Januari sampai Juni total ada 5.101 kasus TBC di Kabupaten Tangerang. Temuan tertinggi di Kecamatan Mauk, Sepatan, dan Sukadiri,” ujar Hendra pada Senin, 27 Juli 2026.
Usia Produkti dan Balita Tak Luput
Mayoritas penderita TBC di wilayah ini berada pada rentang usia produktif, yakni 18 hingga 55 tahun. Namun, yang cukup mengkhawatirkan, dalam periode yang sama terdapat pula dua kasus TBC yang menyerang balita. Ini menunjukkan bahwa penularan tidak mengenal batas usia.
Hendra menjelaskan, rantai penularan paling sering terjadi di lingkungan terdekat. “Penularan TBC di Kabupaten Tangerang masih didominasi melalui kontak erat dengan anggota keluarga maupun orang yang tinggal serumah. Kebanyakan karena terpapar dari keluarga atau orang dekat,” jelasnya.
Strategi Penekanan Kasus
Menghadapi situasi ini, Dinkes Kabupaten Tangerang telah menyiapkan sejumlah langkah konkret. Upaya tersebut meliputi penguatan penemuan kasus aktif, skrining massal di masyarakat, pelacakan kontak erat pasien, pemeriksaan dan diagnosis sesuai standar medis, serta perluasan jejaring layanan kesehatan. Semua ini dirancang untuk memutus mata rantai penularan sedini mungkin.
Menariknya, temuan kasus yang tinggi justru dipandang positif dari sisi kebijakan nasional. “Kementerian Kesehatan justru menilai daerah yang mampu menemukan lebih banyak kasus memiliki kinerja deteksi yang lebih baik sehingga pasien dapat segera memperoleh pengobatan,” kata Hendra. Dengan kata lain, semakin banyak kasus yang terdeteksi, semakin besar peluang untuk mengendalikan penyebaran penyakit.
Editor: Bagus Kurnia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Megawati Resmikan Monumen Kudatuli di Kantor DPP PDIP, Simbol Kesabaran Revolusioner
Harta Andi Tenri Walinonong Susut Rp726 Juta dalam Enam Bulan, Diikuti Laporan Dugaan Penganiayaan Staf
Burnham Terima Zelensky di Portsmouth, Inggris Bagikan Hak Produksi Sistem Perang Elektronik Stone Cloak ke Ukraina
83 Penonton Luka Akibat Ambruknya Tribun di Kejurnas Drift Speed Fest Purwokerto