Kebakaran Lahan Gambut di Kubu Raya Mendekati Permukiman, Tim Gabungan Dikerahkan

- Selasa, 28 Juli 2026 | 07:25 WIB
Kebakaran Lahan Gambut di Kubu Raya Mendekati Permukiman, Tim Gabungan Dikerahkan
PARADAPOS.COM - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Limbung, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, mendekati pemukiman warga dengan jarak hanya sekitar 15 hingga 20 meter. Tim gabungan yang semula hanya mengerahkan lima personel untuk peninjauan, kini telah menambah kekuatan menjadi 30 orang setelah api meluas. Operasi pemadaman yang berlangsung sejak Selasa, 28 Juli 2026, melibatkan personel dari Yon TP 882 Hulubalang, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta aparat kepolisian. Tantangan terberat di lapangan adalah karakteristik lahan gambut yang menyimpan bara di bawah permukaan dan minimnya sumber air akibat kemarau.

Api Mendekat, Personel Ditambah

Komandan Peleton Yon TP 882 Hulubalang, Letda Inf Laskar Septian Berliansyah, mengungkapkan bahwa awalnya tim hanya dikirim untuk meninjau lokasi atas perintah Bupati Kubu Raya. Namun, setelah melihat kondisi di lapangan, situasi memaksa mereka untuk bergerak cepat. "Kami awalnya mengirim lima personel untuk meninjau lokasi atas perintah Bupati Kubu Raya. Setelah melihat kondisi kebakaran yang meluas, personel ditambah menjadi 30 orang untuk membantu proses pemadaman," kata Laskar di Sungai Raya. Ia menjelaskan, tim sempat mengalihkan fokus pemadaman ke kawasan sekitar Dinas Pertanian karena terdapat titik api di sisi kiri dan belakang kantor tersebut. Namun, pada malam harinya, personel kembali digeser ke Desa Limbung setelah api bergerak mendekati kawasan permukiman. Perubahan arah angin yang tiba-tiba menjadi momok tersendiri bagi petugas di lapangan.

Lahan Gambut, Musuh Tersembunyi

Salah satu kesulitan utama yang dihadapi petugas adalah karakteristik lahan gambut di Kalimantan. Bara api tidak hanya berada di permukaan, tetapi juga tersimpan di bawah tanah, membuat pemadaman konvensional tidak cukup efektif. "Alhamdulillah hingga pagi, api berhasil dipadamkan. Namun, sekitar tengah hari ini angin kencang membuat api kembali membesar, sehingga personel kembali melakukan pemadaman," jelas Laskar. Ia menambahkan, penyemprotan tidak cukup dilakukan pada kobaran api di permukaan. Tim harus membasahi lapisan gambut secara menyeluruh agar bara tidak kembali menyala dan memicu kebakaran baru akibat tiupan angin. Proses ini membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar dan waktu yang tidak sedikit.

Krisis Air di Tengah Kemarau

Koordinator Regu 2 Damkar BPBD Kubu Raya, Sugiyanto, mengatakan bahwa kondisi lahan gambut bukan satu-satunya kendala. Musim kemarau yang berkepanjangan membuat sumber air semakin sulit ditemukan. "Selain kondisi lahan, minimnya sumber air selama musim kemarau juga menjadi kendala. Tim harus mencari sungai dengan debit air yang masih mencukupi untuk mendukung operasi pemadaman di lokasi kebakaran," ungkap Sugiyanto. Setelah berjibaku selama dua hingga tiga hari, kondisi api di lokasi mulai terkendali. Petugas kini memfokuskan upaya pada proses pendinginan untuk mencegah munculnya titik api baru. Jarak lahan yang terbakar dengan permukiman warga yang hanya sekitar 15 hingga 20 meter membuat petugas terus bersiaga, mengantisipasi perubahan arah angin yang dapat mempercepat penyebaran api. "Kami terus berkoordinasi dengan seluruh unsur di lapangan untuk memastikan proses pendinginan berjalan optimal hingga lokasi benar-benar dinyatakan aman dari potensi kebakaran susulan," tutur Sugiyanto.

Editor: Bagus Kurnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler