Polisi Masih Gelap soal Pembunuhan Satpam di Waduk Jatiluhur, Kriminolog Sebut Minimnya Missing Link Jadi Kendala

- Selasa, 28 Juli 2026 | 21:50 WIB
Polisi Masih Gelap soal Pembunuhan Satpam di Waduk Jatiluhur, Kriminolog Sebut Minimnya Missing Link Jadi Kendala
PARADAPOS.COM - Hingga saat ini, polisi masih belum menetapkan tersangka dalam kasus tewasnya Sumarna (42), seorang satpam Perum Jasa Tirta II, yang jasadnya ditemukan di Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat, dengan kedua tangan terborgol ke belakang. Penyidik telah memeriksa 15 saksi, melakukan tiga kali olah tempat kejadian perkara (TKP), dan meneliti rekaman CCTV di sekitar lokasi, namun jejak pelaku masih gelap. Kriminolog Universitas Indonesia, Prof. Adrianus Meliala, menilai kendala utama dalam pengungkapan kasus ini adalah belum ditemukannya keterkaitan atau "missing link" antara korban dan pelaku.

Keterbatasan Bukti di Lokasi Kejadian

Menurut Adrianus, kondisi geografis kawasan Waduk Jatiluhur yang sepi pada malam hari menjadi tantangan tersendiri bagi penyidik. Minimnya saksi mata, tidak adanya sistem pencatatan keluar-masuk pengunjung, serta terbatasnya barang bukti di TKP membuat proses identifikasi pelaku semakin rumit. "Yang paling terlihat adalah adanya "missing link" antara korban dengan pelaku. Biasanya celah itu bisa ditutup dengan bantuan rekaman CCTV, tetapi dalam kasus ini justru belum tersedia petunjuk yang mengarah ke pelaku," kata Adrianus dalam tayangan "Primetime News Metro TV", Selasa 28 Juli 2026. Ia menambahkan, kecil kemungkinan ada orang yang melihat rombongan motor atau sekelompok anak muda melintas di lokasi pada malam hari. Kawasan tersebut memang tidak banyak didatangi orang, dan tanpa sistem "checking" terhadap pengunjung, sulit untuk mengetahui siapa saja yang masih berada di area saat kejadian berlangsung. "Kalaupun ingin mencari petunjuk lain, misalnya ada orang yang melihat rombongan motor atau sekelompok anak muda melintas, kemungkinan itu juga sangat kecil karena kawasan tersebut tidak banyak didatangi orang pada malam hari. Ditambah lagi tidak ada sistem "checking" terhadap pengunjung sehingga sulit mengetahui siapa saja yang masih berada di lokasi saat kejadian," ujarnya.

Analisis terhadap Kondisi Korban

Terkait temuan korban dengan tangan terborgol ke belakang, Adrianus menduga borgol tersebut kemungkinan besar milik korban sendiri. Menurutnya, pelaku mengambil borgol itu setelah korban dilumpuhkan, lalu memakaikannya kembali sebelum menenggelamkannya ke waduk. "Saya menduga almarhum kemungkinan dikeroyok oleh beberapa pelaku, lalu borgolnya diambil dan dipakaikan kembali kepada dirinya sebelum ditenggelamkan. Meski demikian, tidak tertutup kemungkinan borgol itu milik orang lain karena benda seperti itu relatif mudah ditemukan di pasaran," jelasnya. Ia juga menanggapi dugaan bahwa korban sempat menegur sekelompok geng motor sebelum tewas. Menurut Adrianus, bukan teguran itu sendiri yang menjadi pemicu utama, melainkan respons kelompok yang merasa terusik atau harga dirinya tersinggung. "Mereka bisa saja merasa kesenangannya diganggu, atau bahkan berada di bawah pengaruh alkohol maupun narkoba. Satpam yang bekerja sendirian dan tidak bersenjata juga berpotensi dipandang sebagai "soft target". Dalam kelompok seperti itu, keputusan sering kali mengikuti kehendak kelompok, bukan lagi suara hati masing-masing," paparnya.

Spontanitas dan Kepanikan Pelaku

Adrianus menilai pembunuhan tersebut lebih mengarah pada tindakan spontan yang disertai kepanikan setelah korban dianiaya. Ia menduga pelaku tidak memiliki rencana matang dan akhirnya memilih membuang korban ke waduk sebagai cara termudah untuk menghilangkan jejak. "Saya lebih melihat ini sebagai tindakan spontan yang kemudian diikuti kepanikan. Setelah korban dianiaya, pelaku kemungkinan tidak tahu harus berbuat apa. Membuang korban ke waduk menjadi cara yang mereka anggap paling mudah untuk menghilangkan jejak," ujarnya. Ia menjelaskan, jeda waktu antara korban hilang sekitar pukul 03.00 WIB hingga jasad ditemukan pukul 11.00 WIB kemungkinan dipengaruhi proses alami ketika tubuh akhirnya mengapung ke permukaan air.

Rekomendasi untuk Penyidik

Untuk mengungkap kasus ini, Adrianus menyarankan penyidik tidak hanya berfokus pada bukti di lokasi kejadian, tetapi juga memperluas penyelidikan terhadap kelompok-kelompok yang diduga kerap beraktivitas di kawasan Waduk Jatiluhur. "Kalau bukti di TKP sangat minim, polisi harus mulai melihat "clue" di luar TKP. Misalnya menelusuri kelompok geng motor yang sering masuk ke kawasan Jatiluhur pada malam hari, kemudian memeriksa alibi mereka dan mencocokkannya satu sama lain. Langkah-langkah penyelidikan di luar TKP menjadi penting untuk menutup kekurangan bukti yang ada di lokasi kejadian," tutupnya. Meski bukti di lapangan masih terbatas, Adrianus optimistis penyidik masih memiliki peluang menemukan titik terang melalui petunjuk lain di luar lokasi kejadian. "Saya masih melihat ada beberapa hal yang bisa menjadi "clue" bagi kepolisian untuk mengembangkan penyelidikan dan mengarah pada pelaku," pungkasnya.

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar