PARADAPOS.COM - Momentum transisi energi global yang menunjukkan investasi energi bersih telah melampaui investasi bahan bakar fosil sejak dua hingga tiga tahun terakhir dinilai sebagai peluang strategis bagi Indonesia untuk memperkuat industri hijau dalam negeri. Pandangan ini disampaikan oleh Managing Director Energy Shift Institute (ESI) Putra Adhiguna dalam taklimat media menjelang Indonesia Net Zero Summit (INZS) 2026, yang digelar di Jakarta pada Rabu lalu. Menurutnya, pergeseran ini bukan sekadar tren, melainkan persimpangan kritis yang menuntut Indonesia untuk segera mengambil langkah konkret.
China Kini Jadi Motor Utama Transisi Energi
Putra menjelaskan bahwa pembangunan energi terbarukan global berjalan jauh lebih cepat dibandingkan energi fosil. Ia mencontohkan China yang pada 2021 telah berkomitmen menghentikan pendanaan pembangkit listrik tenaga batu bara di luar negeri. Menariknya, meskipun kapasitas pembangkit batu bara di dalam negeri China masih terus dibangun, tingkat penggunaannya justru mencapai titik terendah sepanjang sejarah.
“Pembangunan di dalam renewable energy itu berjalan jauh lebih cepat. Dan ini adalah persimpangan untuk Indonesia mulai berpikir,” ujarnya.
Pada Juni tahun lalu, pemerintah China juga mengumumkan inisiatif Zero Emission Industrial Park. Langkah ini, menurut Putra, menunjukkan upaya berkelanjutan negara tersebut dalam meningkatkan standar pengembangan industri rendah emisi. Konsekuensinya, negara-negara Barat kini bukan lagi menjadi motor utama transisi energi global.
“Ketika kita berbicara climate risk, climate opportunity, kita tengah berada di persimpangan. Bukan hanya berbicara (tentang) risikonya, tetapi juga opportunity,” tegas Putra.
Kecepatan Pembangunan di India dan Tantangan Indonesia
Tidak hanya China, India juga menunjukkan percepatan yang signifikan. Putra mengungkapkan bahwa India membangun pembangkit listrik tenaga surya setara dengan kapasitas PLTS Cirata—pembangkit surya terbesar di Indonesia—setiap lima hari sekali. Angka ini menjadi cermin bagi Indonesia untuk mengevaluasi kecepatan pengembangan energi terbarukan di dalam negeri.
Menurutnya, Indonesia harus segera bergerak maju sambil memastikan industri energi terbarukan seperti panel surya dan mobil listrik tidak seluruhnya bergantung pada impor. Ini menjadi pekerjaan rumah besar yang membutuhkan kebijakan yang konsisten dan dukungan lintas sektor.
INZS 2026: Momentum Aksi Nyata
Sebagai bagian dari upaya mendorong aksi iklim, Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) akan menyelenggarakan Indonesia Net Zero Summit (INZS) 2026 pada 1 Agustus mendatang di Jakarta. Acara ini mengusung tema “It’s Time to Deliver!”.
FPCI menyebutkan pemilihan tema tersebut mencerminkan momentum penting ketika komitmen iklim global dan nasional harus mulai diterjemahkan menjadi aksi nyata. Bukan lagi sekadar wacana, tetapi langkah-langkah konkret yang dapat diukur dan dirasakan dampaknya.
Editor: Yuli Astuti
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
IHSG Diprediksi Lanjutkan Koreksi, Diuji di Level Psikologis 6.000
BMKG Prakirakan Hujan Guyur Sejumlah Wilayah di Tengah Musim Kemarau
FPCI Gelar Indonesia Net-Zero Summit 2026, Sorot Kesenjangan Antara Target Iklim dan Implementasi
Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat Menangis Bela Program MBG, Publik Soroti Pola Emosi Kabinet Merah Putih