BMKG: El Nino Diprediksi Berlangsung hingga Awal 2027, Puncak Kekeringan Terjadi September-Desember 2026

- Kamis, 30 Juli 2026 | 06:00 WIB
BMKG: El Nino Diprediksi Berlangsung hingga Awal 2027, Puncak Kekeringan Terjadi September-Desember 2026
PARADAPOS.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa fenomena El Nino telah aktif dan diprediksi akan berlangsung hingga kuartal pertama tahun 2027. Fenomena ini diproyeksikan memicu musim kemarau yang lebih kering dan berdurasi lebih panjang di sebagian besar wilayah Indonesia. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyampaikan pernyataan tersebut dalam konferensi pers yang disiarkan melalui kanal YouTube BMKG pada Kamis, 30 Juli 2026. Puncak intensitas El Nino diperkirakan mencapai kategori kuat, dengan potensi dampak signifikan pada periode September hingga Desember 2026.

Prediksi Durasi dan Intensitas El Nino

Dalam konferensi pers yang berlangsung di kantor pusat BMKG, suasana terasa serius saat para pejabat memaparkan data terkini. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menegaskan bahwa fenomena ini tidak akan segera berakhir dalam waktu dekat. “BMKG memprediksi fenomena El Nino akan bertahan paling tidak hingga awal kuartal pertama tahun 2027,” kata Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani dalam konferensi pers melalui akun YouTube BMKG, Kamis (30/7/2026). Ia melanjutkan dengan penjelasan mengenai potensi eskalasi fenomena ini. Peluang puncak intensitas El Nino mencapai kategori kuat dinilai cukup tinggi. “Dengan peluang puncak intensitas mencapai kategori kuat. Selain itu terjadi potensi positif September hingga Desember tahun ini, tahun 2026,” ujarnya. Para ahli di BMKG terus memantau perkembangan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik, yang menjadi indikator utama kekuatan El Nino. Data terbaru menunjukkan anomali suhu yang konsisten mengarah pada penguatan fenomena ini hingga akhir tahun.

Dampak El Nino di Indonesia Bergantung pada Musim Kemarau

Sementara itu, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, memberikan perspektif lebih mendalam mengenai mekanisme dampak El Nino. Ia menekankan bahwa tidak semua wilayah Indonesia akan merasakan efeknya secara langsung. Dalam pemaparannya, Ardhasena menjelaskan bahwa kunci utama dampak El Nino terletak pada perjumpaannya dengan musim kemarau. Tanpa adanya musim kemarau, efek pengeringan dari El Nino tidak akan terasa signifikan di Indonesia. "El Nino sendiri itu biasanya akan berlangsung paling tidak hingga kuartal pertama tahun berikutnya. Namun perlu digarisbawahi sekali lagi bahwa dampaknya ke Indonesia, El Nino itu hanya ketika bertemu dengan musim kemarau," ucap Ardhasena. Ia kemudian mempertegas pernyataan tersebut dengan gambaran yang lebih jelas. Meskipun El Nino secara teknis masih aktif hingga awal 2027, bukan berarti kekeringan akan berlangsung selama itu. "Jadi El Nino-nya masih berlangsung hingga paling tidak kuartal pertama tahun 2027, tetapi dampaknya itu hanya bertemu dengan musim kemarau untuk wilayah Indonesia," jelasnya.

Kesiapsiagaan Menghadapi Musim Kemarau Panjang

Pernyataan BMKG ini menjadi alarm bagi berbagai sektor, terutama pertanian dan pengelolaan sumber daya air. Masyarakat di daerah yang biasanya mengalami musim kemarau panjang diminta untuk mulai bersiap. Dengan prediksi bahwa puncak kekeringan terjadi antara September dan Desember 2026, langkah antisipatif seperti penampungan air hujan dan efisiensi penggunaan air menjadi krusial. BMKG juga mengimbau pemerintah daerah untuk mengoptimalkan sistem peringatan dini kebakaran hutan dan lahan. Fenomena El Nino kali ini mengingatkan pada siklus serupa di masa lalu, namun dengan durasi yang lebih panjang dari perkiraan awal. Para petani di Jawa dan Nusa Tenggara, misalnya, perlu menyesuaikan jadwal tanam mereka agar tidak mengalami gagal panen akibat kekeringan yang berkepanjangan. BMKG berjanji akan terus memperbarui informasi perkembangan El Nino secara berkala. Masyarakat pun diimbau untuk tidak mudah percaya pada informasi yang tidak bersumber dari lembaga resmi, mengingat sensitivitas dampak yang bisa ditimbulkan oleh fenomena iklim global ini.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler