Arniel Tegaskan Kutus Kutus Tetap Warisan Keluarga dan Kantongi Status OHT BPOM

- Jumat, 31 Juli 2026 | 05:50 WIB
Arniel Tegaskan Kutus Kutus Tetap Warisan Keluarga dan Kantongi Status OHT BPOM
PARADAPOS.COM - Jakarta: Arniel, pewaris racikan herbal Kutus Kutus, menegaskan komitmennya untuk melanjutkan warisan almarhumah ibundanya, Lilies Susanti Handayani, di tengah dinamika industri herbal nasional. Pernyataan ini muncul sebagai respons atas narasi yang menyebut merek tersebut sudah tidak dikelola oleh keluarga pewaris. Dalam keterangannya, Arniel menekankan bahwa formulasi dan nilai yang ditanamkan sang ibu tidak dapat diubah oleh pihak mana pun, sembari mengungkapkan bahwa produknya telah mengantongi status Obat Herbal Terstandar (OHT) dari BPOM. Arniel menuturkan, Kutus Kutus berawal dari racikan sederhana yang kemudian berkembang menjadi produk minyak herbal yang dikenal luas masyarakat. Baginya, merek ini bukan sekadar komoditas dagang, melainkan bagian dari perjalanan keluarga yang ia jaga penuh tanggung jawab. "Bagi saya, Kutus Kutus bukan sekadar merek. Ini adalah warisan yang saya terima langsung dari ibu saya, Lilies Susanti Handayani. Racikan ini adalah bagian dari keluarga kami," ujarnya. Regulasi dan Standar Industri Herbal Di tengah pertumbuhan industri jamu nasional, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mencatat masih sedikit produk yang berstatus OHT. Data per 10 Juni 2026 menunjukkan, dari sekitar 20 ribu izin edar jamu di Indonesia, baru 71 produk yang memperoleh status tersebut. Status OHT sendiri diberikan kepada produk herbal yang telah melewati pengujian mutu, keamanan, dan khasiat sesuai ketentuan BPOM. Arniel menyebut Kutus Kutus termasuk di dalamnya, sebuah capaian yang menurutnya tidak mudah diraih di tengah ketatnya seleksi. Menghadapi Polemik dan Narasi yang Beredar Perjalanan bisnis Kutus Kutus, diakui Arniel, tidak selalu mulus. Berbagai tantangan datang, termasuk isu yang menyebut merek tersebut sudah tidak lagi dikelola oleh pewaris racikan asli. Namun, ia memilih untuk tidak larut dalam polemik. "Tapi apa yang saya pegang adalah akar dari semuanya. Racikan ini, formulasinya, dan nilai yang ibu saya tanamkan, itu tidak bisa diubah oleh siapa pun," kata dia. Ia pun memilih fokus pada keberlanjutan usaha yang telah dirintis sang ibu. Arniel menegaskan, publik akan menilai sendiri siapa yang konsisten dan siapa yang hanya mengikuti arus. "Saya hanya ingin melanjutkan apa yang ibu saya mulai. Dan saya percaya, publik akan melihat mana yang konsisten dan mana yang hanya berubah," ujarnya. Menanggapi pihak lain yang membangun narasi kepemilikan warisan Kutus Kutus, Arniel menilai setiap orang berhak membangun usaha sendiri. Namun, ia menyayangkan jika narasi tersebut sampai menyebut warisan ibunya sudah tidak ada. "Jika seseorang ingin membangun sesuatu yang baru, itu adalah hak mereka. Tapi ketika narasi yang dibangun adalah warisan ibu saya sudah tidak ada lagi, itu yang saya sayangkan. Karena faktanya, saya masih di sini, masih memegang racikan warisan ibu, dan masih hadir untuk masyarakat," tuturnya. Menjaga Kedekatan dengan Masyarakat Di luar urusan bisnis, Arniel aktif memperkenalkan konsep Wellness Nusantara melalui berbagai kegiatan komunitas. Mulai dari lari pagi di Gelora Bung Karno (GBK), turnamen tenis Celuk Open di Gianyar, komunitas renang di Riau, hingga kirab budaya di Mangkunegaran. Menurut Arniel, keterlibatan langsung di komunitas menjadi cara efektif untuk menjaga hubungan emosional dengan konsumen. Ia ingin Kutus Kutus hadir bukan hanya sebagai produk, tetapi juga bagian dari gaya hidup sehat masyarakat. "Kutus Kutus bukan milik saya pribadi. Ini adalah milik semua orang yang merasakan manfaatnya, mulai dari para lansia, atlet, pelari, hingga ibu-ibu di rumah. Saya hanya penjaga, dan saya berjanji akan terus menjaganya," jelasnya.

Editor: Laras Wulandari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler