Ahli Ingatkan Bahaya Langsung Tidur Usai Sahur, Picu GERD dan Gangguan Tidur

- Jumat, 27 Februari 2026 | 20:00 WIB
Ahli Ingatkan Bahaya Langsung Tidur Usai Sahur, Picu GERD dan Gangguan Tidur

PARADAPOS.COM - Perubahan pola tidur dan makan selama Ramadan, termasuk kebiasaan langsung tidur usai santap sahur, kerap menjadi perhatian dari sisi kesehatan. Menjelang Ramadan 2026, penting untuk memahami dampak medis dari kebiasaan ini, terutama terkait risiko gangguan pencernaan seperti naiknya asam lambung. Lantas, seberapa berbahaya kebiasaan tersebut dan bagaimana cara mengantisipasinya?

Mekanisme Tubuh Usai Makan dan Posisi Tidur

Secara anatomi, lambung manusia dapat diibaratkan seperti sebuah wadah. Dalam posisi duduk atau berdiri, gravitasi membantu menahan isi lambung, termasuk asam pencernaan, agar tetap berada di tempatnya. Proses ini mendukung stabilitas pencernaan. Namun, ketika seseorang langsung berbaring setelah perut terisi penuh—seperti usai makan sahur—bantuan gravitasi itu menghilang. Akibatnya, isi lambung lebih mudah bergerak naik ke arah kerongkongan, memicu ketidaknyamanan dan potensi masalah kesehatan.

Dampak Kesehatan yang Perlu Diwaspadai

Kebiasaan langsung merebahkan diri setelah sahur bukan tanpa risiko. Beberapa dampak yang mungkin timbul perlu dipahami agar dapat mengambil langkah pencegahan yang tepat.

1. Meningkatnya Risiko Refluks Asam (GERD)

Dampak paling umum adalah naiknya asam lambung atau Gastroesophageal Reflux Disease (GERD). Saat lambung penuh, tekanan di dalamnya meningkat. Berbaring dapat melemahkan katup penahan antara lambung dan kerongkongan (lower esophageal sphincter). Kondisi ini memungkinkan asam serta sisa makanan naik kembali, menyebabkan gejala seperti mual, nyeri ulu hati, kembung, atau sensasi panas di dada. Gejala ini tentu dapat mengganggu kekhusyukan dan kenyamanan berpuasa seharian.

2. Potensi Penambahan Berat Badan

Metabolisme tubuh secara alami melambat saat tidur. Kalori yang baru saja dikonsumsi saat sahur, yang seharusnya digunakan sebagai energi, berpotensi lebih mudah disimpan sebagai lemak jika tubuh langsung beristirahat. Dalam jangka panjang, pola ini dapat berkontribusi pada kenaikan berat badan, menjadi tantangan tersendiri bagi yang ingin menjaga berat badan tetap stabil selama bulan puasa.

3. Tidur yang Tidak Berkualitas

Pencernaan adalah proses aktif yang memerlukan energi dan aliran darah. Meski tertidur, tubuh tetap bekerja keras mencerna makanan. Hal ini seringkali membuat tidur menjadi tidak nyenyak atau tidak restoratif, sehingga seseorang bisa bangun dengan perasaan lelah, yang berdampak pada produktivitas di siang hari.

Rekomendasi Medis dari Tenaga Ahli

Pendapat medis menegaskan pentingnya memberi jeda antara makan dan tidur. Dokter spesialis penyakit dalam, Coana Sukmagautama, menyatakan bahwa kebiasaan langsung tidur setelah sahur memang kurang baik.

“Posisi tidur dengan lambung yang masih penuh meningkatkan risiko naiknya asam lambung dan memicu GERD,” jelasnya.

Ia melanjutkan penjelasan bahwa proses pencernaan makanan di lambung membutuhkan waktu. “Selama dua hingga empat jam setelah makan, makanan masih berada di dalam lambung dan belum sepenuhnya dicerna. Bahkan pada penderita gangguan lambung, proses ini bisa berlangsung hingga enam jam karena kinerja organ yang melambat,” ungkapnya.

Oleh karena itu, ia menyarankan untuk memberi jeda minimal dua jam sebelum berbaring. Bagi yang memiliki riwayat gangguan lambung, jeda ini sangat krusial untuk mencegah kekambuhan. Jika mengantuk sebelum waktu tersebut, posisi setengah duduk lebih disarankan daripada berbaring datar.

Kesimpulan: Berbahaya atau Tidak?

Jadi, apakah tidur setelah sahur di Ramadan 2026 berbahaya? Jawabannya tidak mutlak, tetapi risikonya nyata, terutama bagi individu dengan kondisi lambung sensitif atau riwayat GERD. Kunci utamanya adalah manajemen waktu dan kesadaran akan kondisi tubuh sendiri. Memberi jeda bagi lambung untuk mencerna sebelum tidur bukan hanya langkah pencegahan terhadap refluks asam, tetapi juga investasi untuk kualitas tidur dan pengelolaan berat badan yang lebih baik. Dengan pengaturan yang disiplin, ibadah puasa dapat dijalani dengan lebih nyaman dan sehat.

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar