Kemenkes dan Enesis Gaet Sekolah Cegah DBD, Anak Usia 5-14 Tahun Catat Angka Kematian Tertinggi

- Jumat, 31 Juli 2026 | 18:50 WIB
Kemenkes dan Enesis Gaet Sekolah Cegah DBD, Anak Usia 5-14 Tahun Catat Angka Kematian Tertinggi

PARADAPOS.COM - Jakarta: Angka kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia pada 2025 menunjukkan tren yang mengkhawatirkan, dengan kelompok usia 15–44 tahun mendominasi jumlah kasus (42 persen), sementara tingkat kematian tertinggi justru terjadi pada anak-anak usia 5–14 tahun (41 persen). Fakta ini menegaskan bahwa anak-anak menjadi kelompok paling rentan terhadap dampak fatal penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti ini. Menyikapi hal tersebut, Kementerian Kesehatan bersama Enesis Group menggelar acara puncak ASEAN Dengue Day 2026 di Perpustakaan Nasional, Jumat, 31 Juli 2026, sebagai bagian dari upaya kolaboratif menekan angka kematian akibat dengue. Kegiatan ini tidak hanya menjadi seremoni belaka. Rangkaian acara yang diinisiasi oleh Enesis Group bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan DKI Jakarta, dan Dinas Pendidikan Jakarta ini juga menyasar langsung ke lapangan. Sebelum acara puncak digelar, tim telah melakukan roadshow edukasi ke sejumlah sekolah dasar di ibu kota, seperti SDN 03 dan 05 Tanah Tinggi, SDN 20 Utan Kayu Selatan, serta SDN 02 Mampang Prapatan. Langkah ini diambil untuk menanamkan kebiasaan pencegahan sejak dini, mengingat anak-anak adalah garda terdepan yang paling membutuhkan perlindungan. Kolaborasi Lintas Sektor Menjadi Kunci Perwakilan Direktorat Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, Dr. Agus Handito, menegaskan bahwa penanganan dengue tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Ia menyoroti perlunya sinergi dari berbagai elemen masyarakat untuk menciptakan dampak yang signifikan. “Keberhasilan penanggulangan dengue tidak dapat dilakukan oleh sektor kesehatan saja. Dibutuhkan keterlibatan aktif pemerintah daerah, dunia pendidikan, sektor komunikasi publik, organisasi profesi, akademisi, masyarakat sipil, dan seluruh mitra pembangunan,” ujar Dr. Agus Handito di sela-sela acara. Pernyataan tersebut menggarisbawahi kompleksitas masalah DBD yang tidak hanya berkutat pada aspek medis, tetapi juga perilaku dan lingkungan. Pendekatan kolaboratif berbasis bukti, lanjutnya, harus menjadi landasan dalam setiap implementasi program. Hal ini sejalan dengan target nasional untuk mewujudkan Indonesia Zero Kematian Akibat Dengue pada tahun 2030. Sekolah sebagai Garda Terdepan Edukasi Dalam kesempatan yang sama, Dr. Agus Handito juga menyoroti peran strategis institusi pendidikan. Menurutnya, sekolah adalah wadah yang ideal untuk membangun kebiasaan hidup bersih dan sehat. Melalui Gerakan PSN 3M —Menguras, Menutup, Mendaur Ulang—budaya pencegahan DBD dapat ditanamkan secara konsisten sejak usia dini. Kebiasaan ini diharapkan tidak hanya berhenti di lingkungan sekolah, tetapi juga terbawa hingga ke rumah masing-masing. Senada dengan itu, RM Ardiantara, Head of Human Resources, Services and Public Relations Enesis Group, menyampaikan bahwa edukasi kepada anak-anak merupakan investasi jangka panjang. Pihaknya berkomitmen untuk terus mendampingi program ini agar tidak berhenti sebagai kampanye sesaat. “Kami berharap Gerakan 3M tidak hanya menjadi jargon, tetapi menjadi kebiasaan yang diterapkan di sekolah, di rumah, dan di lingkungan masyarakat,” tutur RM Ardiantara. Ia menambahkan bahwa generasi muda adalah agen perubahan yang penting dalam menyebarkan kesadaran pencegahan DBD di lingkungan sekitarnya. Dengan semangat kolaborasi ini, Enesis Group berharap inisiatif yang dimulai dari Indonesia ini dapat menginspirasi negara-negara ASEAN lainnya. “Sebagai perusahaan Indonesia yang juga hadir di sejumlah negara ASEAN, kami berharap semangat Gerakan Bebas Dengue yang dimulai dari Indonesia dapat menginspirasi lahirnya inisiatif serupa di negara-negara ASEAN lainnya,” ungkapnya. Suasana acara puncak ASEAN Dengue Day 2026 yang digelar Enesis Group bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan DKI Jakarta, dan Dinas Pendidikan Jakarta di Perpustakaan Nasional. Dok. Istimewa Dengan mengusung tema "Indonesia Pionir Gerakan Bebas Dengue di ASEAN", inisiatif ini diharapkan mampu membangun budaya pencegahan yang kuat. Edukasi interaktif yang menyasar sekolah-sekolah dasar di Jakarta menjadi langkah konkret untuk memastikan bahwa upaya menuju Indonesia Zero Dengue Death 2030 bukan sekadar wacana, melainkan aksi nyata yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

Editor: Clara Salsabila

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar