BNPP Pastikan Hasil Indeks Pengelolaan Kawasan Perbatasan 2026 Jadi Fondasi Percepatan Pembangunan 22 Pusat Pertumbuhan

- Sabtu, 01 Agustus 2026 | 17:00 WIB
BNPP Pastikan Hasil Indeks Pengelolaan Kawasan Perbatasan 2026 Jadi Fondasi Percepatan Pembangunan 22 Pusat Pertumbuhan

PARADAPOS.COM - Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) memastikan hasil Indeks Pengelolaan Kawasan Perbatasan (IPKP) Tahun 2026 akan menjadi fondasi utama dalam mempercepat pembangunan di 22 Pusat Pertumbuhan Kawasan Perbatasan (PPKP). Pernyataan ini mengemuka dalam forum resmi penyampaian hasil pengukuran yang digelar di Jakarta pada Jumat, 31 Juli 2026. Dengan skor rata-rata nasional 0,58 atau berpredikat Cukup (C), angka tersebut dinilai hampir menyentuh target yang dipatok sebesar 0,60. Komitmen ini menegaskan arah kebijakan pemerintah yang ingin menghadirkan pembangunan yang lebih merata di wilayah terdepan Indonesia.

Forum yang diselenggarakan oleh Asisten Deputi Potensi Kawasan Perbatasan Laut (PKPL) ini menjadi ajang koordinasi strategis antar kementerian dan lembaga. Tidak hanya memaparkan angka, pertemuan tersebut juga menjadi ruang diskusi untuk menerjemahkan hasil pengukuran menjadi aksi nyata di lapangan. Hadir mewakili Deputi Bidang Pengelolaan Potensi Kawasan Perbatasan, Asisten Deputi PKPL Yedi Rahmat memaparkan secara rinci capaian yang diraih sepanjang tahun ini.

Skor IPKP 2026 dan Target Nasional

Pengukuran IPKP 2026 menjangkau 22 PPKP yang terbagi merata, yakni 11 kawasan di wilayah laut dan 11 kawasan di wilayah darat. Dari hasil pengukuran tersebut, tercatat skor rata-rata 0,58 dengan predikat Cukup (C). Angka ini hanya berselisih tipis dari target nasional sebesar 0,60, sebuah indikasi bahwa upaya pembangunan di perbatasan mulai menunjukkan denyut kemajuan meski masih membutuhkan percepatan.

Yedi Rahmat mengungkapkan rasa syukurnya atas capaian tersebut. Ia menilai hasil ini merupakan modal berharga untuk melangkah lebih jauh. "Alhamdulillah hasil pengukuran menghasilkan capaian yang cukup baik. Kami mendorong agar nilai IPKP PPKP Tahun 2026 ini segera ditindaklanjuti oleh kementerian dan lembaga mitra," katanya dalam sambutannya.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya tindak lanjut yang cepat. Rekomendasi yang tertuang dalam dokumen IPKP diharapkan tidak hanya menjadi dokumen administratif, melainkan menjadi panduan teknis dalam menyusun program prioritas yang terintegrasi di masing-masing sektor.

Mendorong Program Prioritas Terintegrasi

BNPP tidak tinggal diam setelah angka keluar. Mereka secara aktif mendorong seluruh kementerian dan lembaga anggota BNPP untuk memanfaatkan rekomendasi IPKP sebagai dasar perencanaan program. Harapannya, setiap kementerian dapat menghadirkan intervensi yang sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat di perbatasan, bukan sekadar program seremonial.

Yedi mencontohkan salah satu program yang dinilai berhasil dan patut ditiru. "Seperti Program Kampung Nelayan Merah Putih dari Kementerian Kelautan dan Perikanan yang sudah berjalan, kami berharap kementerian lain juga menghadirkan program serupa sehingga pembangunan kawasan perbatasan terealisasi lebih cepat," tuturnya. Ia menggarisbawahi bahwa kolaborasi lintas sektor adalah kunci untuk mengejar ketertinggalan pembangunan di daerah-daerah yang berbatasan langsung dengan negara tetangga.

Menariknya, BNPP juga mengusulkan agar capaian IPKP Tahun 2026 ini mendapat tempat di forum kenegaraan tertinggi. Usulan tersebut disampaikan agar hasil pengukuran ini menjadi bagian dari substansi pidato kenegaraan Presiden Prabowo Subianto pada 16 Agustus mendatang. Langkah ini dinilai strategis untuk menunjukkan komitmen serius pemerintah dalam memperkuat wilayah terdepan Indonesia di hadapan publik luas.

Temuan Lapangan: Abrasi di Morotai

Di sela-sela pemaparan indikator kinerja, BNPP juga menyoroti sejumlah temuan penting yang membutuhkan penanganan segera. Salah satu yang paling krusial adalah bencana abrasi yang melanda Kabupaten Pulau Morotai. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena berdampak langsung pada keselamatan dan kenyamanan warga.

Tim BNPP yang melakukan kunjungan lapangan menemukan kerusakan yang cukup parah pada infrastruktur pelindung permukiman. "Kami telah mengunjungi Pulau Morotai dan menemukan tanggul permukiman masyarakat rusak akibat abrasi. Hal ini akan segera kami tindak lanjuti melalui koordinasi bersama Pemkab Morotai dan Sekretariat Wakil Presiden," kata Yedi. Pernyataan ini menegaskan bahwa BNPP tidak hanya bekerja dengan data, tetapi juga melakukan verifikasi langsung di lapangan untuk memastikan akurasi informasi.

Secara keseluruhan, aktivitas ekonomi di wilayah perbatasan laut menunjukkan tren perkembangan yang positif. Hal ini terlihat dari dinamika masyarakat yang semakin produktif. Meski demikian, BNPP berkomitmen untuk terus memperkuat infrastruktur dasar, layanan publik, dan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan. Semua upaya ini diarahkan agar dampak pembangunan benar-benar dirasakan langsung oleh warga yang tinggal di garis terdepan Indonesia, bukan hanya dalam angka statistik semata.

Editor: Bagus Kurnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar