PARADAPOS.COM - Ratusan warga Desa Karanganyar, Kecamatan Klabang, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, kembali menggelar ritual adat tahunan Pojhien pada Minggu (2/8/2026). Tradisi warisan leluhur yang dipercaya telah bertahan lebih dari satu abad ini menyuguhkan atraksi ekstrem berupa dua penari yang meliuk di atas puncak bambu setinggi 12 meter tanpa alat pengaman. Ritual yang diyakini berlangsung sejak sekitar tahun 1920 ini terus dipelihara sebagai identitas budaya sekaligus sarana permohonan keselamatan dan kemakmuran masyarakat setempat.
Atraksi di Ketinggian 12 Meter
Suasana tegang perlahan menyelimuti area ritual saat dua penari berjalan tenang menuju dua batang bambu yang telah ditancapkan kokoh di tanah. Dengan gerakan lincah, mereka memanjat hingga mencapai ujung bambu setinggi 12 meter. Di ketinggian itu, keduanya mulai menari dengan gerakan khas, hanya mengandalkan bagian perut sebagai tumpuan untuk menahan tubuh agar tetap seimbang.
Yang menarik, meski atraksi ini terbilang sangat berisiko dan membahayakan keselamatan, para penari diyakini tidak akan terjatuh selama seluruh rangkaian ritual dijalankan sesuai pakem leluhur. Keyakinan inilah yang membuat tradisi ini terus lestari dan menjadi tontonan yang mendebarkan bagi warga yang hadir.
Ubarampe dan Makna Filosofis
Sebelum atraksi dimulai, berbagai kelengkapan ubarampe wajib disiapkan oleh warga. Mulai dari beras kuning, perlengkapan rokat, hingga hidangan kue serabi berwarna-warni yang menjadi syarat keselamatan dalam pelaksanaan ritual.
"Pojhien ini diselenggarakan sejak dahulu sebagai bentuk rasa syukur, permohonan keselamatan, keberkahan, serta kemakmuran masyarakat. Ritual ini juga difungsikan sebagai penolak bala penyakit hingga permohonan hujan saat kemarau," ujar Tokoh Adat Desa Karanganyar, Tolak, di sela-sela acara.
Tolak menjelaskan, seluruh rangkaian prosesi harus dilakukan secara berurutan dan tidak boleh ada yang terlewat. Masyarakat percaya, kelengkapan sesaji dan kesakralan prosesi menjadi kunci utama keselamatan para penari di atas bambu.
Dicanangkan Jadi Desa Budaya
Melihat kuatnya komitmen warga dalam menjaga tradisi lisan dan seni pertunjukan ini, Pemerintah Kabupaten Bondowoso secara resmi mencanangkan Desa Karanganyar sebagai Desa Budaya. Kecamatan Klabang dinilai menjadi salah satu kawasan yang hingga kini paling konsisten melestarikan kekayaan budaya serta kesenian tradisional di Kabupaten Bondowoso.
Bupati Bondowoso, Abdul Hamid Wahid, mengapresiasi masyarakat setempat yang berhasil mempertahankan warisan budaya berusia ratusan tahun tersebut agar tetap eksis dan bernilai pariwisata tinggi. Menurutnya, tradisi semacam ini bukan hanya menjadi aset budaya, tetapi juga potensi besar untuk menarik wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.
Dengan penetapan status Desa Budaya tersebut, diharapkan pelestarian tradisi Pojhien semakin mendapat dukungan, baik dari segi pembinaan maupun promosi, sehingga generasi mendatang tetap dapat menyaksikan dan mewarisi kekayaan budaya yang dimiliki daerahnya.
Editor: Reza Pratama
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Astra Otoparts Pamerkan Teknologi Cabin Filter Aspira di GIIAS 2026, Tekankan Edukasi Perawatan Kabin
Gaza Catat 152 Tewas pada Juli 2026, Bulan Terkelam Tahun Ini
Astigmatisme Sering Tak Disadari, Kenali Gejala dan Faktor Risiko Mata Silinder
Korea Selatan Tetapkan Status Darurat Level 2 saat Suhu di Yangsan Tembus 42,5 Derajat, Rekor Terpanas Sejak 1904