PARADAPOS.COM - UEFA resmi mengambil langkah hukum terhadap FIFA dan investor asal Amerika Serikat, Joshua Kushner, menyusul batalnya rencana penjualan sebagian hak komersial Piala Dunia. Langkah ini diwujudkan melalui surat peringatan resmi setebal enam halaman yang dikirim kepada Presiden FIFA Gianni Infantino dan Kushner pada Jumat (31/7). Dalam surat tersebut, UEFA meminta agar seluruh dokumen dan data elektronik terkait proyek senilai US$4,2 miliar itu diamankan dan tidak dimusnahkan, sebagai bagian dari upaya menjaga barang bukti. Ketegangan ini bermula dari rencana FIFA membentuk entitas baru bernama FIFA Forward Enterprises (FFE). Dalam skema bisnis yang sempat dirancang tersebut, FIFA berencana melepas 20 persen saham FFE kepada konsorsium Thrive Eternal milik Joshua Kushner. Nilai transaksinya mencapai US$4,2 miliar, sebuah angka yang sangat besar untuk ukuran tata kelola organisasi sepak bola dunia. Namun, rencana ini menuai penolakan keras dari berbagai konfederasi dan akhirnya dibatalkan. Surat Teguran dan Permintaan Pengamanan Dokumen Dalam surat peringatan yang dikirimkan, UEFA menegaskan bahwa setiap upaya untuk menghancurkan, menghapus, atau menyembunyikan materi yang relevan setelah menerima pemberitahuan ini dapat dianggap sebagai tindakan sengaja menghilangkan barang bukti. Pernyataan ini termuat dalam surat yang dikutip dari The Athletic. UEFA tampaknya ingin memastikan bahwa jejak digital dan fisik dari proses perencanaan proyek ini tidak hilang begitu saja. Firma hukum yang mewakili UEFA juga mendesak Gianni Infantino dan jajaran FIFA untuk mengamankan seluruh dokumen strategis. Cakupan dokumen yang diminta cukup luas, mulai dari notulen rapat dewan, laporan penilaian finansial, draf perjanjian investasi, hingga korespondensi dengan lembaga keuangan seperti J.P. Morgan. Ini menunjukkan bahwa UEFA tidak hanya ingin mempertanyakan keputusan akhir, tetapi juga proses pengambilan keputusan yang berlangsung di internal FIFA. Posisi Joshua Kushner dan Thrive Eternal UEFA juga mengirimkan surat terpisah yang ditujukan langsung kepada Joshua Kushner. Dalam surat itu, UEFA menegaskan bahwa Thrive Eternal telah diumumkan secara publik sebagai calon investor utama FFE. Oleh karena itu, Kushner dan perusahaannya dianggap memiliki kewajiban untuk menjaga seluruh dokumen yang berkaitan dengan rencana investasi tersebut. "Kami memahami bahwa Thrive Eternal telah diumumkan secara publik sebagai calon investor utama FFE dan sebagai pendiri Thrive Eternal, terlibat dalam usulan investasi tersebut," demikian kecam UEFA dalam suratnya. Kalimat ini menegaskan bahwa UEFA memandang Kushner bukan sekadar pihak luar, melainkan bagian dari skema yang tengah mereka selidiki. Menariknya, dalam surat tersebut UEFA juga mencantumkan 18 nama pejabat senior FIFA yang diminta untuk memastikan seluruh data dan dokumen tetap tersimpan. Beberapa nama yang disebut antara lain Kepala Pengembangan Sepak Bola Global FIFA Arsene Wenger, Chief Football Officer FIFA Jill Ellis, dan Chief Operating Officer (COO) FIFA Kevin Lamour. Namun, perlu ditegaskan bahwa pencantuman nama-nama tersebut tidak serta-merta menunjukkan keterlibatan mereka dalam penyusunan proyek. Ini hanyalah langkah prosedural untuk memastikan semua pihak yang berpotensi memiliki akses terhadap dokumen ikut menjaga integritasnya. Tekanan dari Berbagai Konfederasi Pembatalan rencana penjualan hak komersial Piala Dunia ini bukanlah keputusan yang muncul tiba-tiba. FIFA menghadapi tekanan besar dari berbagai konfederasi sepak bola dunia. Dalam pertemuan darurat pada Kamis (30/7), seluruh 55 asosiasi anggota UEFA dikabarkan sepakat untuk memboikot seluruh kompetisi resmi FIFA apabila proposal tersebut tetap dilanjutkan. Sikap ini menunjukkan betapa seriusnya penolakan terhadap rencana bisnis yang dianggap tidak transparan tersebut. Sikap UEFA itu kemudian mendapat dukungan dari Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) dan Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (CONCACAF). Dukungan dari dua konfederasi besar ini memperkuat posisi UEFA dan menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap arah tata kelola FIFA tidak hanya dirasakan oleh satu kawasan saja. Pada Sabtu (1/8), UEFA mengeluarkan pernyataan yang lebih tegas lagi. Mereka menyatakan telah kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan Presiden FIFA Gianni Infantino. Menurut penilaian UEFA, sikap Infantino yang dinilai minim transparansi dalam menyusun proposal bernilai miliaran dolar AS tersebut telah merusak integritas tata kelola sepak bola internasional. Ini adalah pernyataan yang sangat keras, mengingat selama ini hubungan antara UEFA dan FIFA biasanya berjalan dalam koridor diplomatik yang lebih halus. Keputusan UEFA untuk membawa masalah ini ke ranah hukum menunjukkan bahwa mereka tidak main-main. Langkah ini juga menjadi sinyal bahwa konfederasi sepak bola Eropa siap berhadapan langsung dengan induk organisasi sepak bola dunia demi menjaga prinsip transparansi dan akuntabilitas. Ke depannya, publik tentu menunggu bagaimana FIFA dan Kushner merespons surat peringatan ini, serta apakah ada langkah hukum lanjutan yang akan diambil UEFA. (ASM)
Artikel Terkait
UEFA Siapkan Mosi Tidak Percaya untuk Jatuhkan Infantino Jelang Pemilihan Presiden FIFA
Tiga Surah Qul: Amalan Perlindungan yang Dicontohkan Nabi, Ini Waktu Utama Membacanya
Polisi: Atlet Golf Jesslyn Wijaya Tidak Diculik, Melainkan Dibawa Suruhan Ibunya ke Luar Negeri
Oppo A7 Terdaftar di Sertifikasi Tiongkok, Bawa Baterai 8.000 mAh dan Layar AMOLED