Trump Klaim Negosiasi dengan Iran Masih Berlangsung, Ancaman ‘Pemenggalan Kepala’ Picu Ketegangan

- Senin, 03 Agustus 2026 | 22:50 WIB
Trump Klaim Negosiasi dengan Iran Masih Berlangsung, Ancaman ‘Pemenggalan Kepala’ Picu Ketegangan

PARADAPOS.COM - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali melontarkan pernyataan bernada ancaman sekaligus membuka ruang diplomasi terkait Iran. Di hadapan wartawan di Ruang Oval, Selasa 4 Agustus 2026, Trump menyebut adanya negosiasi yang "sedang berlangsung" meski Teheran membantah, dan menegaskan ini adalah "kesempatan terakhir" sebelum tindakan yang ia istilahkan sebagai "pemenggalan kepala". Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan militer di kawasan Teluk, khususnya terkait Selat Hormuz, serta klaim Iran yang justru mengaku tengah berdiskusi dengan Oman untuk membangun jalur sementara di selat strategis tersebut. Pernyataan Kontroversial dari Ruang Oval Suasana di Ruang Oval sore itu tampak tegang. Trump, dengan nada yang cenderung santai namun penuh penekanan, mengklaim bahwa inisiatif pembicaraan justru datang dari pihak Iran. Ia menyebut sejumlah negara Timur Tengah turut menjadi perantara. "Iran tidak ingin dipukul, dan mereka mengatakan kami ingin berbicara," ujarnya kepada para wartawan, seperti dikutip dari laporan Anadolu. Lebih lanjut, ia merinci dukungan yang ia klaim diterimanya. "Kami berbicara atas permintaan Iran, didukung oleh Arab Saudi, didukung oleh UEA dan didukung oleh Qatar khususnya, tetapi juga yang lain," tuturnya. Trump kemudian menegaskan batas waktu bagi Teheran. "Ini adalah kesempatan terakhir bagi mereka untuk menandatangani dokumen yang baik," katanya. Ketika didesak oleh awak media mengenai makna di balik pernyataannya, Trump tanpa ragu menjawab. "Saya ingin memberi mereka setiap kesempatan terakhir sebelum pemenggalan kepala," ungkapnya. Negosiasi Dua Fase dan Isu Selat Hormuz Ditanya apakah pembicaraan dengan Iran saat ini terhenti, Trump dengan tegas membantah. "Pembicaraan sedang berlangsung saat ini," katanya. Ia juga mengakui adanya potensi penyangkalan dari pihak Iran terkait jalannya negosiasi. "Saat mereka berbicara, mereka tidak suka mengatakan bahwa mereka sedang berbicara. Kita sedang dalam pembicaraan, dan terkadang mereka akan menyangkalnya, meskipun mereka menghabiskan waktu berjam-jam bersama untuk berbicara," jelasnya. Mengenai substansi pembicaraan, Trump memaparkan rencana negosiasi yang akan berjalan dalam dua fase. Fase pertama, menurutnya, akan fokus pada pembukaan kembali Selat Hormuz. Sementara fase kedua akan menyentuh isu yang lebih sensitif, yakni kapasitas nuklir Iran. "Kita berbicara tentang Selat, pembukaan Selat, membukanya secara harfiah besok, sepenuhnya terbuka, dan itu fase pertama. Dan fase kedua adalah kita kemudian akan berbicara tentang kapasitas nuklir," papar Trump. Mengenai lokasi pembicaraan, Trump menyebut keputusan akan diumumkan "hari ini atau besok," sembari menambahkan bahwa diskusi akan berjalan cepat. Ia pun menegaskan sikap AS yang tidak akan tinggal diam jika kapal-kapal diganggu di Selat Hormuz. "Tidak akan ada serangan. Kita sama sekali tidak membicarakan serangan," tegasnya. Di sela-sela pernyataannya, Trump juga menyentuh soal harga minyak. Ia meyakini harga akan turun setelah AS "selesai dengan Iran," seraya mengkritik keuntungan besar yang diraup perusahaan minyak besar AS. "Jika Anda melihat satu perusahaan yang menghasilkan 12 kali lipat dari tahun sebelumnya, mereka akan mengembalikan sebagian dari keuntungan itu kepada publik, dan mereka sebaiknya menurunkan harga eceran, harga konsumen. Terlalu banyak uang," katanya. Bantahan Resmi dari Teheran Di tengah riuhnya pernyataan Trump, pemerintah Iran justru memberikan respons yang kontras. Pada hari Senin, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, dalam sebuah konferensi pers menyatakan bahwa negaranya tidak terlibat dalam negosiasi apapun dengan AS. "Diskusi kami saat ini dengan Oman berfokus pada memastikan jalur aman bagi kapal di Selat Hormuz," ujar Baqaei. Ia dengan tegas menolak laporan mengenai adanya pembicaraan antara Teheran dan Washington. "Kami tidak melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat," pungkasnya. Ketegangan yang Terus Meningkat Situasi antara kedua negara memang tengah memanas. Dalam beberapa pekan terakhir, AS dan Iran saling melancarkan serangan militer. Washington menyerang target di dalam Iran, sementara Teheran membalas dengan menyerang fasilitas militer AS di sejumlah negara Arab, seperti Yordania, Bahrain, dan Kuwait. Eskalasi ini terjadi setelah sebelumnya kedua pihak menandatangani nota kesepahaman pada bulan Juni dan memulai negosiasi menuju kesepakatan akhir. Namun, pembicaraan tersebut terhenti karena perbedaan pandangan mengenai jaminan keamanan dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz, jalur yang sangat krusial bagi pasokan energi dan perdagangan global.

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar