Iran Klaim Batalkan Serangan ke Ukraina Setelah Menerima Permintaan Maaf dari Kyiv

- Selasa, 04 Agustus 2026 | 03:25 WIB
Iran Klaim Batalkan Serangan ke Ukraina Setelah Menerima Permintaan Maaf dari Kyiv

PARADAPOS.COM - Teheran, Senin 3 Agustus 2026 — Penasihat militer utama Pemimpin Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, mengungkapkan bahwa angkatan bersenjata negara itu telah menyelesaikan seluruh persiapan untuk melancarkan serangan terhadap Ukraina, namun operasi tersebut akhirnya dibatalkan. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan regional pasca-runtuhnya gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat. Rezaei juga menegaskan sikap keras Teheran terkait Selat Hormuz dan mengklaim telah menimbulkan kerugian besar bagi pasukan AS dalam konflik 17 hari terakhir.

Operasi yang Dibatalkan dan Klaim Permintaan Maaf

Dalam pernyataannya pada Senin kemarin, Rezaei mengungkapkan bahwa pembatalan operasi militer terhadap Ukraina terjadi setelah adanya "permintaan maaf" dari pihak Kyiv. Ia tidak merinci lebih lanjut bentuk atau mekanisme permintaan maaf yang dimaksud, namun pernyataan ini menandai eskalasi retorika yang signifikan dari Teheran.

“Iran membatalkan operasi tersebut setelah ‘permintaan maaf’ dari Kyiv,” ujarnya. Pernyataan ini disampaikan Rezaei di hadapan sejumlah pejabat militer dan media, menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan berbagai perkembangan diplomatik. Ia menambahkan bahwa meskipun operasi dibatalkan, kesiapan militer Iran tetap berada pada level tertinggi.

Peringatan Keras di Selat Hormuz

Lebih lanjut, Rezaei menyampaikan peringatan tegas terkait lalu lintas maritim di Selat Hormuz, jalur pelayaran paling strategis di dunia. Ia menegaskan bahwa Iran tidak akan mentoleransi adanya rute alternatif di luar ketentuan yang telah ditetapkan Teheran.

"Setiap kapal angkatan laut musuh yang mencoba menggunakan 'rute ilegal' akan menjadi sasaran," tuturnya dengan nada tegas. Pernyataan ini menegaskan kembali posisi Iran yang selama ini kerap menggunakan Selat Hormuz sebagai instrumen tekanan dalam dinamika geopolitik kawasan. Para pengamat menilai peringatan ini berpotensi meningkatkan risiko konfrontasi di perairan internasional yang padat lalu lintas tersebut.

Klaim Kerugian Besar AS dan Tuduhan ke Ukraina

Dalam kesempatan yang sama, Rezaei juga mengklaim bahwa Iran telah berhasil menimbulkan kerugian besar pada pasukan Amerika Serikat selama konflik 17 hari yang baru-baru ini terjadi. Menurutnya, serangan rudal dan drone yang dilancarkan Iran telah menggagalkan tujuan militer Washington di kawasan.

Pernyataan-pernyataan ini muncul di tengah memanasnya hubungan Teheran-Kyiv. Sebelumnya, pada 25 Juli lalu, Iran menuduh Ukraina menyerang kapal dagang Iran di Laut Kaspia yang menewaskan seorang awak kapal. Menanggapi insiden tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi langsung berkomunikasi dengan mitranya dari Ukraina, Andrii Sybiha, dan menuntut agar Kyiv memberikan kompensasi atas kerusakan yang disebabkan oleh serangan tersebut.

Konteks Ketegangan yang Meluas

Rangkaian pernyataan keras ini tidak bisa dilepaskan dari situasi geopolitik yang sedang bergejolak. Ketegangan di Timur Tengah telah meningkat tajam sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada bulan Februari lalu. Serangan tersebut memicu aksi balasan dari Teheran yang menargetkan sejumlah negara di kawasan, menciptakan siklus kekerasan yang sulit diputus.

Upaya diplomasi sempat menemui titik terang ketika AS dan Iran menyepakati gencatan senjata pada April, yang kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan pada Juni. Kesepakatan itu dirancang untuk mengakhiri konflik militer dan mencapai perdamaian yang langgeng. Namun, harapan tersebut pupus ketika kesepakatan runtuh pada bulan lalu, dan kedua belah pihak kembali saling melancarkan serangan selama hampir dua minggu. Kini, dengan pernyataan terbaru dari Rezaei, tampaknya jalan menuju de-eskalasi masih panjang dan penuh ketidakpastian.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar