Pedagang Keluhkan Penjualan Pernak-pernik Kemerdekaan di Yogyakarta Lesu Imbas Lokapasar dan Efisiensi Anggaran

- Selasa, 04 Agustus 2026 | 08:25 WIB
Pedagang Keluhkan Penjualan Pernak-pernik Kemerdekaan di Yogyakarta Lesu Imbas Lokapasar dan Efisiensi Anggaran

PARADAPOS.COM - Yogyakarta, 4 Juli 2026. Para pedagang pernak-pernik kemerdekaan di Yogyakarta mulai resah. Mereka memprediksi minat belanja masyarakat secara langsung atau luring akan menurun pada perayaan HUT ke-81 RI tahun ini. Penurunan ini didorong oleh menjamurnya lokapasar yang menawarkan harga lebih murah, serta kebiasaan instansi dan warga yang mulai memakai atribut lama demi efisiensi anggaran. Muhammad Ikhsan dan Heri, dua pedagang musiman di Yogyakarta, mengungkapkan kekhawatiran ini saat ditemui di lapak dagangannya pada Selasa, 4 Juli 2026.

Suasana di lapak-lapak tenda darurat yang mulai berdiri di sepanjang jalan terasa lebih sepi dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tumpukan bendera merah putih berbagai ukuran dan umbul-umbul masih terpajang rapi, namun para penjual mengaku antusiasme pembeli belum terlihat. Perkembangan teknologi yang serba cepat memang membawa perubahan besar, dan kali ini dampaknya langsung terasa di sektor usaha kecil musiman seperti ini.

Persaingan dengan Lokapasar dan Perubahan Kebiasaan

Muhammad Ikhsan, pedagang yang biasa mangkal di area kota, menyampaikan kekhawatirannya dengan nada datar. Dia menilai kebiasaan belanja masyarakat yang beralih ke platform digital menjadi faktor utama yang membuat dagangannya sepi peminat. "Kalau prediksi kami sebagai penjual ya menurun ya pembeli pernak-pernik," katanya di Yogyakarta pada Selasa, 4 Juli 2026.

Ikhsan mengaku tidak bisa berbuat banyak menghadapi gempuran harga murah dari toko daring. Dia membandingkan langsung harga jualnya dengan yang beredar di aplikasi belanja online. "Kalau online mungkin ada yang harganya lebih di bawahnya ini," ujarnya sambil menunjuk deretan bendera kecil di lapaknya.

Di lapaknya, Ikhsan membanderol bendera kecil dengan harga Rp2.500 per buah. Sementara untuk ukuran yang lebih besar, seperti bendera 2,5 meter, dia mematok harga Rp160 ribu. Rentang harga yang dia tawarkan cukup bervariasi, mulai dari di bawah Rp5 ribu hingga ratusan ribu rupiah untuk atribut berukuran jumbo.

Efisiensi Anggaran dan Dampaknya bagi Pedagang Kecil

Tak jauh dari lokasi Ikhsan, Heri, pedagang musiman lainnya, punya cerita serupa. Dia menyebut omzetnya bakal jeblok tahun ini. Menurutnya, persaingan dengan lokapasar hanyalah salah satu sisi masalah. Yang lebih menyakitkan, kata dia, adalah mulai berkurangnya permintaan dari kantor-kantor pemerintahan dan swasta.

"Sekarang instansi juga ada yang pilih pakai barang yang lama. Kampung-kampung juga masang atribut lama yang tahun-tahun sebelumnya dipasang," ungkapnya sambil sesekali merapikan dagangannya. Heri bercerita bahwa di beberapa perkampungan, warga sudah mulai memasang kembali bendera dan umbul-umbul yang tahun lalu mereka simpan.

Fenomena ini, lanjut Heri, tidak lepas dari kebijakan efisiensi anggaran yang tengah digalakkan. Dia ingat betul bagaimana tiga hingga empat tahun lalu, banyak instansi yang rutin berbelanja bendera dan atribut lain tanpa pikir panjang. Bahkan, ada di antara mereka yang sampai meminta nota kosong untuk keperluan administrasi.

"Pembeli minta apa, kami pedagang kecil kami kasih. Kalau sekarang sepi, barang ada yang laku tapi tidak besar," tuturnya menggambarkan kondisi lapangan yang jauh dari harapan. Meski begitu, para pedagang ini tetap berharap ada kejutan di hari-hari menjelang 17 Agustus nanti.

Editor: Yoga Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar