Menkeu AS Sebut Kesepakatan Buka Selat Hormuz Bisa Tercapai dalam Hitungan Jam

- Selasa, 04 Agustus 2026 | 23:25 WIB
Menkeu AS Sebut Kesepakatan Buka Selat Hormuz Bisa Tercapai dalam Hitungan Jam

PARADAPOS.COM - Washington, 5 Agustus 2026 – Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, menyatakan optimisme tercapainya kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam hitungan jam, bukan hari. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan militer dan diplomatik yang telah berlangsung lebih dari lima bulan, serta insiden terbaru hilangnya seorang awak kapal dagang setelah terkena proyektil di selat tersebut. Harapan akan dibukanya kembali jalur minyak global ini sempat mendorong penurunan harga minyak mentah Brent hingga hampir lima persen. “Ada kemungkinan kita akan mencapai kesepakatan dalam beberapa jam mendatang,” ujar Bessent kepada CNBC, sebagaimana dikutip dari Channel News Asia pada Rabu, 5 Agustus 2026. Optimisme dari kubu Washington ini muncul di tengah pola kebijakan yang berulang: tawaran diplomasi yang diiringi ancaman keras. Berbicara dari Gedung Putih pada hari Senin, Presiden Trump memperingatkan bahwa ini adalah "kesempatan terakhir Iran sebelum kehancuran total", sebuah pernyataan yang kontras dengan isyaratnya bahwa kesepakatan sudah dekat. Negosiasi di Tengah Ladang Ranjau Konflik antara Teheran dan Washington telah berlangsung sejak serangan mendadak AS dan Israel pada 28 Februari lalu. Meskipun sempat ada gencatan senjata, upaya diplomatik untuk mengakhiri perang terus menemui jalan buntu. Situasi di lapangan masih rapuh; pada hari Selasa, sebuah kapal dagang di Selat Hormuz terkena proyektil yang memicu kebakaran di area akomodasi, dan seorang awak kapal dilaporkan hilang. Selat Hormuz sendiri bukan sekadar titik strategis, melainkan urat nadi pasokan energi dunia. Iran bersikukuh mempertahankan kendali dan memungut biaya lintas—sebuah wewenang yang tidak pernah mereka terapkan sebelum perang dan menjadi sumber utama pertikaian dengan AS. Di tengah kebuntuan, Menteri Luar Negeri Marco Rubio memberikan klarifikasi pada hari Selasa. Ia membenarkan bahwa AS terlibat dalam negosiasi tidak langsung yang difasilitasi Oman, fokus pada peningkatan lalu lintas pelayaran yang aman. "Sudah ada kemajuan dalam pembicaraan tersebut, namun belum ada hasil final. Kami berharap hal itu akan segera terwujud," tutur Rubio kepada para wartawan. Dua Sisi Mata Uang: Kesepakatan atau Tekanan Qatar, yang berperan sebagai mediator, menyatakan upaya diplomatik masih berlangsung, namun menegaskan tidak ada rencana untuk dialog langsung antara pejabat Iran dan AS. Pemimpin Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, disebut telah berdiskusi via telepon dengan Trump, membahas upaya meredakan ketegangan. Sementara itu, sikap Iran masih simpang siur. Kementerian luar negeri mereka membantah adanya negosiasi, meskipun Trump bersikeras sebaliknya. Di media sosial, Presiden AS tersebut bahkan menyebut Teheran "bermuka dua" dan menegaskan blokade balasan akan tetap berlaku "kecuali jika Kesepakatan, atau Penyerahan Diri Total, tercapai". Di tengah retorika yang memanas, kemampuan militer Iran untuk meluncurkan rudal dan drone ke sasaran regional serta kapal komersial masih menjadi ancaman nyata. Pada Selasa pagi, badan keamanan maritim Inggris (UKMTO) melaporkan insiden terbaru: sebuah kapal kargo terkena "proyektil tak dikenal" di lepas pantai Oman. Dengan blokade efektif yang masih diberlakukan Iran, setiap kapal yang melintas diwajibkan berkoordinasi dengan pihak Teheran. Kondisi ini membuat setiap pernyataan dari kedua kubu menjadi penentu arah pasar dan stabilitas kawasan, meski jalan menuju kesepakatan final masih diselimuti ketidakpastian.

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar