PARADAPOS.COM - Menteri Luar Negeri Kuba, Bruno Rodríguez Parrilla, kembali melontarkan kritik tajam terhadap Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa embargo yang telah berlangsung lama menjadi akar utama dari krisis kelistrikan yang kembali melumpuhkan seluruh wilayah Kuba. Pernyataan ini disampaikan menyusul insiden terbaru di mana jaringan listrik nasional (SEN) ambruk total, memicu pemadaman besar-besaran di tengah meningkatnya ketegangan diplomatik antara Havana dan Washington.
Embargo AS: Akar Masalah atau Dalih Politik?
Melalui akun media sosial X pada Selasa kemarin, Rodríguez menyatakan bahwa gangguan pada Sistem Kelistrikan Nasional (SEN) merupakan dampak langsung dari kebijakan embargo yang diberlakukan Washington. Ia menegaskan bahwa situasi ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan konsekuensi dari tekanan ekonomi yang sistematis.
"Pemutusan jaringan listrik nasional merupakan konsekuensi langsung dari blokade genosida Amerika Serikat terhadap Kuba, khususnya pengepungan di sektor energi," tulis Rodríguez, dikutip dari Anadolu Agency, Rabu, 5 Agustus 2026.
Pernyataan tersebut dirilis hanya beberapa jam setelah sebagian besar wilayah Kuba kembali gelap gulita. Di tengah teriknya matahari Karibia, hiruk-pikuk kota Havana mendadak senyap. Suara genset menjadi pengganti dengung listrik yang biasanya menyala, sementara warga berbaris di depan toko-toko yang hanya menerima pembayaran tunai karena jaringan data ikut padam.
Dampak Berlapis: Bahan Bakar, Suku Cadang, dan Pembiayaan
Menurut Rodríguez, kebijakan embargo tersebut tidak hanya menghambat impor bahan bakar yang menjadi sumber utama pembangkit listrik, tetapi juga menghalangi masuknya suku cadang yang dibutuhkan untuk menjaga operasional sistem kelistrikan nasional. Ia menambahkan bahwa embargo turut menghambat kerja sama dengan para ahli dari negara lain serta membatasi akses Kuba terhadap pembiayaan internasional.
Kondisi ini, lanjutnya, menciptakan lingkaran setan yang sulit diputus. Pembangkit listrik tua yang sudah berusia puluhan tahun semakin sering rusak karena kekurangan komponen, sementara pendanaan untuk modernisasi infrastruktur praktis tidak ada. Akibatnya, pemadaman bergilir yang tadinya hanya terjadi di daerah terpencil kini merambah hingga ke pusat-pusat kota.
Kronologi Krisis: Enam Kali Runtuh dalam Setahun
Pernyataan itu disampaikan setelah Kuba kembali mengalami keruntuhan jaringan listrik nasional, yang menjadi insiden terbaru dalam rangkaian pemadaman besar yang berulang dalam beberapa bulan terakhir. Sementara itu, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Havana pada Senin mengimbau warga negaranya yang berada di Kuba maupun yang berencana berkunjung agar bersiap menghadapi gangguan layanan secara luas, termasuk terputusnya jaringan telepon seluler dan internet.
Dalam keterangannya, Kedutaan Besar AS menyebut sistem kelistrikan Kuba semakin tidak stabil. Menurut pihak kedutaan, pemadaman terbaru tersebut merupakan kegagalan total jaringan listrik keenam sepanjang 2026, dengan tiga di antaranya terjadi pada Juli saja.
Data tersebut menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Jika pada awal tahun pemadaman masih bisa diatasi dalam hitungan jam, kini sebagian wilayah harus menunggu berhari-hari sebelum aliran listrik kembali pulih. Rumah sakit di beberapa provinsi terpaksa mengandalkan generator cadangan yang bahan bakarnya juga terbatas, sementara sistem pendingin di gudang penyimpanan vaksin dan obat-obatan berada dalam ancaman serius.
Di sisi lain, pemerintah Kuba terus berupaya melakukan pemulihan secara bertahap. Namun tanpa akses terhadap teknologi dan investasi asing, upaya tersebut kerap kali berjalan di tempat. Para pengamat menilai bahwa krisis ini bukan hanya persoalan teknis kelistrikan, melainkan juga cerminan dari dampak jangka panjang isolasi ekonomi yang berkepanjangan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
BMKG: Bibit Siklon 94W Diprediksi Melemah, Waspada Hujan Lebat di Sejumlah Wilayah Indonesia
Dolar Melemah, Harga Minyak Anjlok Imbas Meredanya Ketegangan di Selat Hormuz
Indonesia Kecam Serangan Israel ke Gaza, Nilai Hambat Rencana Perdamaian
BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem, 8 Provinsi Berpotensi Hujan Lebat dan Angin Kencang