PARADAPOS.COM - Pergerakan dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Selasa waktu setempat, dengan indeks dolar terkoreksi tipis ke posisi 99,858. Pelemahan ini terjadi di tengah sikap investor yang menahan diri, mencermati data ketenagakerjaan AS yang akan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga The Fed. Pada saat yang sama, harga minyak mentah dunia justru ambles lebih dari lima persen, dipicu optimisme meredanya ketegangan geopolitik di Selat Hormuz.
Di lantai bursa New York, pergerakan nilai tukar mata uang utama dunia terpantau bervariasi. Euro berhasil menguat ke level USD1,1533, naik tipis dari posisi sebelumnya di USD1,1514. Hal serupa terjadi pada poundsterling Inggris yang terapresiasi menjadi USD1,3452 dari USD1,3431. Kondisi berbeda justru dialami dolar AS saat berhadapan dengan yen Jepang, di mana greenback malah menguat ke 157,66 yen dari 156,74 yen pada sesi sebelumnya.
Adapun terhadap franc Swiss, dolar AS melemah ke 0,8092 dari 0,8101. Sementara itu, dolar Kanada justru menguat, membuat dolar AS naik ke 1,4066 dari 1,4045. Pelemahan dolar AS juga terjadi terhadap krona Swedia yang turun ke 9,5192 dari 9,5557.
Investor Pelototi Data Ketenagakerjaan AS
Selain memantau pergerakan nilai tukar, fokus pelaku pasar tertuju pada rilis data ketenagakerjaan AS yang dinanti pekan ini. Data ini menjadi sinyal penting bagi langkah The Fed selanjutnya dalam menentukan suku bunga acuan.
Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan, jumlah lowongan pekerjaan (JOLTS) pada Juni mencapai 7,359 juta. Angka ini lebih rendah dari proyeksi pasar yang sebelumnya memperkirakan 7,454 juta. Tak hanya itu, data Mei juga direvisi turun menjadi 7,537 juta dari sebelumnya 7,594 juta.
Kendati demikian, pasar tenaga kerja AS dinilai masih berada di zona aman. Tingkat perekrutan dan angka pemutusan hubungan kerja (PHK) yang relatif stabil menjadi indikator bahwa fundamental ekonomi negeri Paman Sam belum menunjukkan tanda-tanda keretakan berarti.
Kondisi ini semakin menguatkan asumsi bahwa The Fed saat ini masih akan fokus pada pengendalian inflasi. Sementara itu, kesehatan pasar tenaga kerja dinilai masih cukup solid untuk menopang perekonomian.
Para pelaku pasar pun bersiap mencermati laporan nonfarm payrolls yang dijadwalkan rilis pada Jumat. Data ini akan menjadi indikator utama yang menentukan arah kebijakan moneter The Fed dalam beberapa bulan ke depan.
Harga Minyak Turun Redam Tekanan Inflasi
Di sisi lain, harga minyak dunia kembali melemah untuk hari kedua berturut-turut. Penurunan ini dipicu oleh munculnya optimisme di kalangan pelaku pasar terhadap peluang tercapainya kesepakatan diplomatik antara AS dan Iran, khususnya terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.
Kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman Oktober ambles sekitar enam persen ke level USD78,72 per barel. Sementara itu, kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) pengiriman September juga terkoreksi 5,8 persen ke posisi USD75,65 per barel.
Penurunan harga energi ini diharapkan dapat membantu meredakan tekanan inflasi global yang sempat membayangi pemulihan ekonomi. Meski demikian, para pelaku pasar masih menahan diri dan menunggu kepastian hasil negosiasi kedua negara sebelum mengambil posisi lebih lanjut di pasar keuangan.
Artikel Terkait
Sidang Perdana Banding Nadiem Makarim Digelar, Kuasa Hukum Minta Fakta Persidangan Dibuka Kembali
BMKG: Bibit Siklon 94W Diprediksi Melemah, Waspada Hujan Lebat di Sejumlah Wilayah Indonesia
Menlu Kuba Sebut Embargo AS Akar Krisis Listrik Nasional yang Kembali Runtuh
Indonesia Kecam Serangan Israel ke Gaza, Nilai Hambat Rencana Perdamaian