PLN Latih 250 Pelajar SMA Kelola Energi Surya dan Sampah Jadi Listrik

- Rabu, 05 Agustus 2026 | 07:00 WIB
PLN Latih 250 Pelajar SMA Kelola Energi Surya dan Sampah Jadi Listrik

PARADAPOS.COM - PT PLN (Persero) bersama Institut Teknologi PLN (IT PLN) menggelar pelatihan energi terbarukan bagi pelajar SMA. Program bertajuk "Rekayasa Teknologi untuk Energi Terbarukan di Sekolah Menengah Atas" ini berlangsung pada Juli-Agustus 2026 dan menyasar tujuh sekolah di Indonesia. Lebih dari 250 siswa kelas XI dan XII terlibat dalam pelatihan yang mencakup materi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan pengelolaan sampah menjadi energi. Inisiatif ini merupakan bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN untuk mendukung akselerasi transisi energi nasional.

Kegiatan ini bukan sekadar seremonial belaka. Di tengah krisis iklim yang kian nyata, PLN mencoba menanamkan pemahaman teknis sejak dini kepada generasi muda. Mereka yang duduk di bangku SMA diajak untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga calon pemecah masalah energi di masa depan.

Menjangkau Tujuh Sekolah di Berbagai Wilayah

Pelatihan ini hadir di SMA Taruna Nusantara Magelang, SMA Gama Yogyakarta, SMA Taruna Brawijaya Jawa Timur, SMAN 1 Binjai, SMAN 4 Medan, SMAN 5 Surabaya, dan SMAN 94 Jakarta Barat. Materi yang diberikan terbagi menjadi dua fokus utama: PLTS dan Waste to Energy (WTE). Para siswa tidak hanya mendengar teori, tetapi juga diajak praktik langsung mengubah sampah menjadi energi alternatif.

Menariknya, pelatihan ini dirancang dalam empat tahapan. Dimulai dari In Class Training selama dua hari, lalu dilanjutkan dengan Praktikum Project. Setelah itu, ada sesi Check Point untuk memantau pemahaman peserta, dan diakhiri dengan penyusunan laporan pertanggungjawaban. Setiap peserta yang menyelesaikan rangkaian ini akan mendapatkan materi pelatihan, pendampingan, dan sertifikat resmi.

Pentingnya Keterlibatan Generasi Muda

Direktur Legal dan Manajemen Human Capital PLN, Nurlely Aman, menegaskan bahwa transisi energi membutuhkan peran semua pihak. Ia menyebut generasi muda sebagai penerus bangsa yang harus dipersiapkan sejak sekarang.

"Akselerasi transisi energi memerlukan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat, khususnya generasi muda sebagai penerus bangsa. Melalui edukasi ini, PLN ingin membekali para siswa dengan wawasan praktis mengenai pemanfaatan energi ramah lingkungan di sekitar kita," ujar Nurlely.

Senada dengan itu, Wakil Rektor IV IT PLN Bidang Kerja Sama, Ahsin Sidqi, menjelaskan bahwa pemahaman holistik menjadi kunci utama. Ia mencontohkan bagaimana energi surya yang melimpah di Indonesia bisa menggantikan peran energi fosil yang semakin menipis.

"Kami berharap transisi energi didukung oleh semua lapisan masyarakat, termasuk generasi muda. Hari pertama, kita ajarkan tentang bagaimana energi surya yang melimpah dan bisa dibuat menggantikan energi fosil yang sudah sangat terbatas. Hari kedua adalah WTE, bagaimana sampah-sampah menjadi masalah di berbagai kota akan menjadi solusi ketika dijadikan energi. Kita ajak semua lapisan masyarakat. Kuncinya adalah kemandirian energi dan kedaulatan energi," jelas Ahsin.

Apresiasi dari Dunia Pendidikan

Program ini mendapat sambutan positif dari pihak sekolah. Kepala Sekolah SMA Taruna Nusantara, Mayjen TNI Muhammad Imam Gogor, secara khusus mengapresiasi langkah PLN dan IT PLN. Menurutnya, pelatihan ini tidak hanya bermanfaat bagi siswa, tetapi juga bagi para pamong atau pendidik di sekolah.

"Kami berterima kasih atas program yang telah diinisiasi oleh PLN dan IT PLN dalam rangka pelatihan untuk para siswa dan para pamong untuk pembangkit listrik tenaga surya dan WTE. Kami berharap program ini betul-betul memberikan dampak yang positif bagi para pamong, dan khususnya para siswa yang nantinya akan menjadi calon-calon pemimpin bangsa. Sehingga nanti mereka bisa berinovasi menjadi pemimpin yang mengetahui kebutuhan masyarakat. Khususnya, bagaimana memanfaatkan sampah untuk bisa menjadi energi terbarukan," tutur Imam.

Dukungan Fasilitas dan Keberlanjutan Program

PLN tidak hanya berhenti pada pemberian materi. Perusahaan setrum pelat merah ini juga menyalurkan bantuan berupa unit PLTS sebagai sarana pembelajaran siswa. Tak hanya itu, ada pula peralatan pembiakan Black Soldier Fly (BSF) untuk mengurai sampah organik, serta alat press pembuatan lilin aromaterapi dari maggot.

Agar dampaknya terasa dalam jangka panjang, sekolah-sekolah yang terlibat diwajibkan mengintegrasikan materi PLTS dan WTE ke dalam kegiatan pembelajaran di luar kurikulum reguler. Dengan begitu, pengetahuan ini akan diturunkan kepada setiap angkatan secara berkelanjutan.

Komitmen PLN untuk memperluas jangkauan edukasi energi terbarukan ke berbagai institusi pendidikan di Tanah Air patut diapresiasi. Literasi energi yang kuat pada generasi muda adalah fondasi penting bagi keberlanjutan transisi energi nasional menuju masa depan yang bersih.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar