PARADAPOS.COM - PT MRT Jakarta mengalokasikan anggaran lebih dari Rp300 miliar untuk membangun pedestrian deck berbentuk lingkaran di kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat. Proyek yang ditargetkan rampung pada 2028 ini dirancang sebagai ikon baru dan simpul transit yang menghubungkan MRT, LRT, KRL, Transjakarta, hingga kereta bandara. Pembangunan tersebut tidak menggunakan dana APBD, melainkan dari dana investasi dan pinjaman, serta tidak memerlukan pembebasan lahan.
Jalan Sudirman selama ini memang identik dengan gedung pencakar langit dan hiruk-pikuk perkantoran. Namun dalam beberapa tahun ke depan, kawasan tersebut akan memiliki wajah baru: sebuah struktur melingkar yang bukan sekadar jembatan penyeberangan, melainkan ruang publik yang dirancang untuk menjadi titik pertemuan berbagai moda transportasi. Kehadirannya diharapkan mengubah cara warga berpindah dari satu kereta ke kereta lain, sekaligus menawarkan pengalaman visual baru tentang Jakarta dari ketinggian.
Investasi dan Skema Pendanaan
Program Management Office Division PT MRT Jakarta, Agus Trihan, mengungkapkan bahwa proyek ini masih berada dalam tahap tender. "Saat ini masih tender dan nilai investasi untuk pembangunannya mencapai Rp300 miliar lebih," ujarnya saat dikonfirmasi di Jakarta, Rabu, 5 Agustus 2026. Ia menegaskan bahwa nilai tersebut murni untuk biaya konstruksi, di luar biaya pembebasan lahan yang memang tidak diperlukan.
Menariknya, pendanaan proyek ini sama sekali tidak menyentuh Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta. Agus menjelaskan bahwa sumber dana berasal dari dua jalur: investasi yang disuntikkan kepada PT MRT serta skema pinjaman. "Sebagian diambil dari dana investasi dan ada pinjaman juga," ungkapnya. Keputusan ini diambil agar proyek tetap berjalan tanpa membebani fiskal daerah, meski konsekuensinya PT MRT harus mengelola arus kas dengan hati-hati mengingat nilai proyek yang tidak sedikit.
Desain, Kapasitas, dan Fungsi Baru
Berbeda dengan jembatan penyeberangan biasa, pedestrian deck ini didesain melingkar dengan diameter sekitar 118 meter dan lebar 12 meter. Agus menyebutkan bahwa struktur ini mampu menahan beban hingga 500 kilogram per meter persegi. Angka itu bukan tanpa alasan; selain menampung pejalan kaki, area ini kelak akan diisi ruang komersial dan galeri sejarah yang membutuhkan daya dukung struktur lebih besar.
"Di sini akan ada galeri sejarah nantinya," kata Agus. Ia menambahkan bahwa sisi utara dan selatan deck akan dilebarkan hingga tujuh meter. Area tambahan ini sengaja disediakan sebagai ruang berhenti bagi pengunjung untuk sekadar memandang panorama Jakarta dari ketinggian. Konsepnya memang diadopsi dari gaya Jepang yang kerap menggabungkan fungsi transit dengan ruang observasi kota.
Agus juga memastikan bahwa pembangunan tidak akan menyentuh lahan milik warga. Pihaknya justru akan menjalin kerja sama dengan pemilik bangunan di sekitar kawasan yang terhubung langsung dengan struktur baru ini. "Nilai ini murni untuk pembangunan saja," tegasnya, menegaskan bahwa tidak ada pos anggaran untuk kompensasi lahan.
Harapan Gubernur dan Integrasi Moda
Sejatinya, proyek ini sudah dicanangkan sejak lama. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, secara resmi melakukan peletakan batu pertama di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan. Dalam sambutannya, ia menyampaikan optimisme yang tinggi terhadap masa depan transportasi ibu kota. "Pencanangan pedestrian deck Dukuh Atas secara resmi saya nyatakan dimulai. Semoga pembangunan ini akan membuat Jakarta menjadi semakin baik transportasinya," tuturnya.
Pramono juga menyoroti potensi integrasi yang lebih luas, terutama dengan kereta bandara yang selama ini dinilai kurang optimal. Dengan adanya deck ini, ia yakin konektivitas akan meningkat drastis. "Saya yakin pasti nanti kereta bandara akan hidup, terintegrasi secara keseluruhan, dan city check-in," ujarnya. Fasilitas pengecekan tiket dan bagasi di kawasan perkotaan itu diharapkan menjadi daya tarik baru bagi pengguna transportasi udara.
Target penyelesaian proyek pada 2028 terbilang ambisius mengingat kompleksitas desain dan koordinasi antar moda yang harus dilakukan. Namun, jika berjalan sesuai rencana, pedestrian deck ini bukan hanya akan menjadi ikon arsitektural, tetapi juga jantung baru mobilitas warga Jakarta yang selama ini bergantung pada perpindahan antar kereta yang kerap merepotkan. Kini, tinggal menunggu eksekusi di lapangan.
Artikel Terkait
Kemenkes dan BGN Konfirmasi Bakteri E. coli di Balik Keracunan Makanan MBG Jayapura dan Semarang
MTI: Ketidaksesuaian Manifes Penumpang KMP Mutiara Sentosa 2 adalah Ironi di Tengah Klaim Digitalisasi
Ekspedisi Merah Putih Polda Riau di Kampung Teluk Lanus: Tanam 1.000 Mangrove, Salurkan 150 Paket Sembako hingga Layanan Kesehatan Gratis
Pria Bersenjata di Dekat Lapangan Golf Trump Diamankan, Polisi Temukan Pistol dan Puluhan Amunisi