PARADAPOS.COM - Sentimen publik terhadap Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia terus memburuk di tengah krisis pasokan minyak global yang dipicu eskalasi konflik bersenjata antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Kondisi ini diperparah oleh penilaian masyarakat yang menganggap kinerja Menteri Bahlil tidak memuaskan, sehingga memicu spekulasi mengenai masa jabatannya di kabinet Presiden Prabowo.
Krisis Minyak dan Tekanan Publik
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah telah membuat pasokan minyak mentah dunia tersendat. Situasi yang sudah pelik ini, menurut para pengamat, semakin runyam karena langkah-langkah strategis di sektor energi dalam negeri yang dinilai kurang optimal.
"Sejak konflik AS-Israel dan Iran, sentimen publik terhadap Bahlil negatif, ini semua karena juga kinerja Bahlil yang tidak memuaskan," ujar Pengamat Citra Institute, Efriza, kepada Kantor Berita Politik dan Ekonomi RMOL, Minggu, 26 April 2026.
Presiden Turun Tangan, Sinyal Ketidakpercayaan?
Efriza menyoroti langkah terbaru Presiden Prabowo yang secara langsung melakukan diplomasi energi ke Jepang hingga Rusia. Tujuannya jelas: mengamankan stok minyak dan gas bumi untuk kebutuhan nasional. Langkah presiden yang mengambil alih peran ini dinilai sebagai indikasi kuat bahwa kepercayaan terhadap Menteri Bahlil mulai goyah.
Menurutnya, Bahlil kini berada dalam posisi yang serba sulit. Di satu sisi, kepercayaan dari publik sudah anjlok. Di sisi lain, ada keraguan dari pucuk pimpinan negara.
"Jadi serba salah menempatkan Bahlil. Presidennya cenderung ragu, opini publik sentimennya negatif. Masa pemerintah membiarkan citranya berpolemik, padahal negosiasi soal sektor energi dan investasi amat dibutuhkan saat ini dan juga mesti berhasil," kritiknya.
Spekulasi Reshuffle Menguat
Dalam analisisnya, Efriza membaca langkah Presiden Prabowo yang turun langsung ke panggung diplomasi bukan sekadar strategi geopolitik, melainkan juga upaya untuk menghindari polemik berkepanjangan yang justru bisa muncul jika penanganan krisis energi diserahkan sepenuhnya kepada Bahlil.
Pertanyaan pun muncul: apakah menteri yang dinilai tidak dapat diandalkan masih layak dipertahankan?
"Lalu untuk apa dipertahankan? Sebaiknya (Bahlil) di-reshuffle. Artinya, dipercaya atau tidaknya Bahlil untuk urusan kerja sama energi cenderung akan berpolemik," tutup Efriza.
Di tengah hiruk-pikuk politik dan kebutuhan mendesak akan kepastian pasokan energi, tekanan untuk melakukan perombakan kabinet pun kian terasa. Publik dan para pengamat kini menunggu langkah konkret Presiden Prabowo dalam menentukan arah kebijakan energi nasional ke depan.
Editor: Paradapos.com
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Dedi Mulyadi Berterima Kasih atas Spanduk ‘Shut Up KDM’ dan Luruskan Isu Bonus Rp1 Miliar untuk Persib
Said Didu Tuding Golkar Sepenuhnya Dikendalikan Jokowi Usai Bahlil Jadi Ketum
Pengamat Nilai Bahlil Jadi Beban Prabowo, Desak Reshuffle Menteri ESDM
Drone Emprit Ungkap Video Ceramah Jusuf Kalla yang Viral Hasil Manipulasi Konteks, Picu 34 Ribu Sentimen Negatif