PBB: ISIS Masih Ancaman Serius, Kini Makin Adaptif dengan Teknologi dan Sebaran Jaringan Luas

- Kamis, 06 Agustus 2026 | 02:25 WIB
PBB: ISIS Masih Ancaman Serius, Kini Makin Adaptif dengan Teknologi dan Sebaran Jaringan Luas

PARADAPOS.COM - New York, 6 Agustus 2026 — Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan peringatan keras pada Rabu (5/8) bahwa kelompok teroris ISIS masih menjadi ancaman serius bagi perdamaian dan keamanan internasional. Peringatan ini disampaikan di tengah fakta bahwa operasi kontraterorisme yang berkelanjutan telah berhasil mengganggu kepemimpinan senior kelompok tersebut, namun di sisi lain justru mendorong ISIS untuk beradaptasi dengan struktur organisasi yang semakin tersebar. Pernyataan ini mengemuka dalam sesi briefing Dewan Keamanan PBB yang membahas laporan terbaru Sekretaris Jenderal mengenai ancaman kelompok tersebut secara global. Adaptasi di Tengah Tekanan: Struktur yang Makin Tersebar Dalam paparannya di hadapan Dewan Keamanan, Oguljeren Niyazberdiyeva, Kepala Kantor Wakil Sekretaris Jenderal untuk Kontraterorisme, menggarisbawahi bahwa meskipun kepemimpinan ISIS telah banyak dilumpuhkan, kelompok ini menunjukkan ketangguhan yang luar biasa. Ia menekankan bahwa afiliasi-afiliasi ISIS di berbagai belahan dunia tetap terikat erat oleh satu ideologi yang sama, meski rantai komando mereka kini tidak lagi terpusat. "Terlepas dari upaya internasional, ISIS terus menimbulkan ancaman serius terhadap perdamaian dan keamanan internasional," kata Niyazberdiyeva saat memaparkan laporan tersebut, seperti dikutip Anadolu. "Meskipun operasi kontraterorisme telah melemahkan kepemimpinan ISIS, kelompok tersebut terus beradaptasi," ujarnya. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kondisi keamanan global yang rapuh menjadi lahan subur bagi kelompok ini untuk terus bergerak. Konflik bersenjata yang berkepanjangan di sejumlah kawasan dimanfaatkan secara sistematis untuk memperluas pengaruh. "Saat ini, ancaman tersebut masih sangat nyata di beberapa wilayah Afrika, khususnya di kawasan Sahel dan Cekungan Danau Chad, di mana sejumlah afiliasi terus memperkuat kemampuan mereka, memperluas jangkauan operasional, dan menyesuaikan taktik mereka," ungkapnya. Titik Rawan Global: dari Suriah hingga Irak Perhatian khusus juga tertuju pada perkembangan situasi di Suriah. Niyazberdiyeva menyebut bahwa lanskap politik dan keamanan yang terus berubah di negara tersebut secara langsung membentuk kembali situasi ancaman. Ia menyoroti penutupan kamp al-Hol di Suriah utara pada bulan Februari lalu sebagai sebuah persoalan serius. Penutupan kamp tersebut, menurutnya, memunculkan kekhawatiran keamanan baru karena keberadaan ribuan individu yang sebelumnya berada di kamp itu kini tidak jelas rimbanya. Hal ini, lanjutnya, menegaskan kembali seruan Sekretaris Jenderal untuk melakukan repatriasi yang aman, sukarela, dan bermartabat sesuai dengan hukum internasional. "Hal ini menggarisbawahi seruan Sekretaris Jenderal untuk melakukan repatriasi yang aman, sukarela, dan bermartabat, yang dilaksanakan sesuai dengan hukum internasional," tuturnya. Sementara itu, di Irak, tekanan kontraterorisme yang berkelanjutan dinilai telah secara signifikan membatasi kemampuan manuver ISIS. Kendati demikian, Niyazberdiyeva mengingatkan perlunya mengonsolidasikan pencapaian tersebut. Penguatan institusi, penegakan keadilan, serta program rehabilitasi dan reintegrasi menjadi kunci agar kemajuan yang ada tidak sia-sia. Ancaman Baru di Era Digital Salah satu sorotan penting dalam laporan ini adalah pemanfaatan teknologi oleh ISIS. Niyazberdiyeva memperingatkan bahwa kelompok teroris ini semakin cerdik menggunakan kecerdasan buatan, komunikasi terenkripsi, platform digital, aset virtual, hingga sistem pesawat nirawak untuk melanjutkan aksinya. Ancaman ini, tegasnya, akan terus berevolusi seiring waktu. "Respons kolektif kita harus turut berkembang seiring dengan hal tersebut," ujarnya. Media Sosial, Gim, AI, dan ISIS Senada dengan Niyazberdiyeva, Carmen Cantor, Wakil Direktur Eksekutif Direktorat Eksekutif Komite Kontra-Terorisme (CTED), memberikan gambaran yang lebih rinci di hadapan Dewan Keamanan. Ia menegaskan bahwa ISIS dan kelompok afiliasinya tetap tangguh dan adaptif meskipun menghadapi tekanan kontra-terorisme yang berkelanjutan. Cantor menyoroti bahwa kawasan Afrika terus menanggung dampak yang tidak proporsional dari ancaman ini. Sementara itu, dinamika di Irak dan Suriah menjadi pengingat bahwa kewaspadaan tidak boleh kendur. Ia pun menyinggung penutupan kamp al-Hol, yang menurutnya memperlihatkan dengan urgensi yang kini semakin tinggi betapa kompleksnya upaya menangani situasi terkait mantan anggota afiliasi ISIS beserta keluarga mereka. Yang paling mengkhawatirkan, menurut Cantor, adalah perubahan lanskap ancaman yang dipicu oleh teknologi. Kelompok teroris kini tidak hanya bermain di ranah fisik, tetapi juga memanfaatkan media sosial, pesan terenkripsi, ekosistem gim, dan perangkat berbasis AI untuk propaganda, perekrutan, penggalangan dana, hingga operasi lapangan. "Propaganda tidak lagi sekadar soal membentuk narasi," ujar Cantor. "Propaganda telah menjadi sarana pendukung operasional yang membantu kelompok teroris merekrut pendukung, memobilisasi sumber daya, dan memperluas jangkauan mereka melintasi batas negara," tegasnya. Ia menutup paparannya dengan menegaskan bahwa ancaman ISIS belum mereda, melainkan telah menyebar dan beradaptasi di berbagai konteks. Hanya melalui kerja sama internasional yang berkelanjutan dan pendekatan yang komprehensif, masyarakat internasional dapat secara efektif menangkal ancaman ini, tambahnya.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini