PARADAPOS.COM - Pemerintah memastikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite tidak akan naik hingga Desember 2026. Kepastian ini disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di Jakarta pada Kamis, 6 Agustus 2026. Langkah ini merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto agar daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah fluktuasi harga minyak dunia. Sementara itu, untuk BBM nonsubsidi, pemerintah membuka peluang penyesuaian harga seiring dengan tren penurunan Indonesian Crude Price (ICP).
Jaminan Stabilitas Harga di Tengah Gejolak Global
Pernyataan tersebut mengemuka dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta. Airlangga menegaskan bahwa alokasi anggaran untuk subsidi energi telah disiapkan secara memadai, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir akan adanya perubahan harga dalam waktu dekat.
"Untuk Pertalite, dijamin harga sampai Desember aman. Jadi ini sudah masuk dalam buffer," ujarnya di hadapan awak media.
Kebijakan ini, lanjutnya, merupakan tindak lanjut langsung dari instruksi Presiden Prabowo. Kepala negara secara spesifik meminta agar harga BBM bersubsidi tetap dipertahankan, meskipun harga minyak mentah di pasar internasional masih menunjukkan pergerakan yang fluktuatif.
Peluang Penurunan Harga BBM Nonsubsidi
Di sisi lain, pemerintah tidak menutup mata terhadap dinamika pasar. Jika ICP mengalami penurunan signifikan, maka peluang untuk menyesuaikan harga BBM nonsubsidi akan segera dievaluasi. Hal ini sejalan dengan langkah yang telah diambil oleh PT Pertamina (Persero) beberapa waktu terakhir.
Sejak 1 Agustus 2026, Pertamina telah resmi menurunkan harga sejumlah produk BBM nonsubsidi. Pertamax misalnya, kini dibanderol Rp15.950 per liter, turun dari harga sebelumnya yang mencapai Rp16.250 per liter.
Penyesuaian serupa juga berlaku untuk Pertamax Green 95 yang turun dari Rp17 ribu menjadi Rp16.600 per liter. Adapun Pertamax Turbo mengalami penurunan lebih signifikan, dari Rp19.300 menjadi Rp18.300 per liter.
Harga Pertalite dan Biosolar Tetap Stabil
Di tengah penyesuaian harga untuk segmen nonsubsidi, pemerintah memastikan harga Pertalite tetap berada di level Rp10 ribu per liter. Begitu pula dengan Biosolar yang dipertahankan di angka Rp6.800 per liter. Stabilitas harga untuk dua jenis BBM tersebut menjadi prioritas utama pemerintah.
Program B50 Perkuat Ketahanan Energi
Selain membahas soal harga, Airlangga juga menyoroti peran strategis implementasi program biodiesel B50. Menurutnya, kebijakan ini bukan hanya soal energi alternatif, tetapi juga instrumen penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Program B50 dinilai mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor solar. Lebih dari itu, kebijakan ini menjadi tameng bagi perekonomian nasional dari gejolak harga minyak yang dipicu oleh ketegangan geopolitik, termasuk konflik di Selat Hormuz. Dengan berkurangnya impor, beban subsidi energi pun ikut tergerus.
"Arahan Bapak Presiden, di tengah ketidakpastian akibat konflik di Selat Hormuz, ketahanan BBM harus tetap dijaga. APBN berperan sebagai shock absorber. Dengan penerapan B50, kita tidak lagi mengimpor solar dan pada tingkat harga saat ini kebutuhan subsidinya juga relatif kecil," jelas Airlangga.
Menurutnya, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap menjadi instrumen utama pemerintah dalam meredam gejolak pasar. Kombinasi antara kebijakan subsidi yang tepat sasaran dan implementasi B50 diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat serta memperkuat ketahanan energi nasional hingga penghujung tahun.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Timnas Indonesia Wajib Kalahkan Singapura demi Amankan Tiket Semifinal Piala AFF 2026
Kapolda Metro Jaya dan Pangdam Jaya Silaturahmi ke Markas Brimob, Perkuat Sinergi Jaga Keamanan Jakarta
Kebakaran Hutan di Gunung Bromo Hanguskan 60 Hektare Lahan, BNPB Pastikan Tak Ada Korban Jiwa
IHSG Menguat ke 6.379 di Bursa Pagi, Investor Incar Tembus Level Psikologis 6.400