Pemprov DKI Cetak 1.000 Mushaf Al-Quran untuk Sambut HUT ke-500 Jakarta, Separuhnya untuk Warga Marginal

- Kamis, 06 Agustus 2026 | 20:25 WIB
Pemprov DKI Cetak 1.000 Mushaf Al-Quran untuk Sambut HUT ke-500 Jakarta, Separuhnya untuk Warga Marginal

PARADAPOS.COM - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan kado spiritual menjelang hari jadi ke-500 Kota Jakarta pada tahun depan. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung berencana mencetak 1.000 mushaf Al-Qur'an edisi khusus yang akan dibagikan kepada masyarakat, dengan setengahnya dialokasikan untuk warga marginal yang sedang belajar mengaji. Rencana ini diumumkan Pramono di Jakarta, Kamis, 6 Agustus 2026, bertepatan dengan penutupan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat provinsi.

Di sela-sela hiruk pikuk kompetisi MTQ yang baru saja usai, Pramono menyempatkan diri untuk memaparkan rencana jangka panjangnya. Ia menegaskan bahwa inisiatif ini bukan sekadar bagi-bagi buku suci, melainkan sebuah upaya untuk merangkul mereka yang selama ini mungkin terlewatkan oleh perhatian pemerintah. Sebanyak 500 eksemplar pertama akan menyasar kelompok-kelompok yang selama ini berada di pinggiran, baik secara sosial maupun ekonomi.

"Saya pengen banget bahwa dalam rangka menyambut 500 tahun Jakarta, warga-warga yang terkucilkan, terpinggirkan, termarjinalkan, punya kesempatan untuk mengkhatamkan Al-Qur'an," ujar Pramono di Jakarta, Kamis, 6 Agustus 2026.

Sementara itu, 500 eksemplar sisanya akan dibagikan kepada warga yang memang sudah terbiasa mengkhatamkan kitab suci tersebut. Pramono berharap, inisiatif ini dapat memotivasi warga awam untuk menyelesaikan bacaan Al-Qur'an mereka dan turut mendoakan kebaikan bagi Ibu Kota.

"Supaya orang yang belum pernah khatam, akhirnya khatam Al-Qur'an dan memberikan doanya untuk 500 tahun Jakarta. Itulah bagian dari kehidupan di Jakarta yang tidak semuanya mendapatkan kesempatan seperti anak-anakku ini yang dari kecil sudah terbiasa untuk belajar Al-Qur'an," papar Pramono.

Format Baru MTQ Berjenjang

Dalam kesempatan yang sama, Pramono juga menyoroti tingginya antusiasme masyarakat terhadap kompetisi MTQ tahun ini. Suasana di lokasi acara terasa berbeda, lebih ramai dan penuh semangat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Gemuruh syiar agama di Ibu Kota dirasa jauh lebih masif berkat adanya perubahan format perlombaan.

Berbeda dengan penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya yang langsung digelar di tingkat provinsi, Pemprov DKI kini menerapkan sistem seleksi berjenjang yang ketat dari tingkat paling bawah. Mekanisme itu merupakan usulan langsung dari Pramono. Ia mengamati bahwa selama ini banyak potensi besar yang tersembunyi di tingkat kelurahan dan kecamatan, namun tidak pernah tersalurkan karena sistem lama yang terlalu terpusat.

"Saya adalah orang yang paling bergembira pelaksanaan MTQ ini. Karena dulu MTQ langsung pada tingkat provinsi. Saya yang mengusulkan untuk dirubah mulai pada tingkat kelurahan. Kelurahan naik kecamatan, kecamatan, kota, kabupaten, baru provinsi," jelas Pramono.

Sistem penyaringan baru ini terbukti efektif dalam menjaring bibit-bibit unggul yang sebelumnya tidak tersentuh radar pemerintah. Ajang ini pun tidak lagi dipandang sekadar sebagai wadah kompetisi semata. Kini, MTQ menjadi gerbang bagi siapa saja untuk unjuk kebolehan, tanpa terkecuali.

"Inilah yang membuat MTQ di Jakarta begitu bergemuruh. Yang dulu adem ayem, sekarang muncul bakat-bakat yang luar biasa. Mudah-mudahan ini bukan hanya sekedar ajang perlombaan, tetapi ini merupakan bagian dari syiar agama kita," ujar Pramono.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler