Kebakaran KMP Mutiara Sentosa 2 di Perairan Sumenep Tewaskan 5 Orang, 4 Penumpang Masih Hilang

- Jumat, 07 Agustus 2026 | 03:50 WIB
Kebakaran KMP Mutiara Sentosa 2 di Perairan Sumenep Tewaskan 5 Orang, 4 Penumpang Masih Hilang

PARADAPOS.COM - Insiden kebakaran hebat melanda KMP Mutiara Sentosa 2 di perairan utara Pulau Sapudi, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, pada Minggu, 2 Agustus 2026. Kapal yang tengah dalam pelayaran rutin dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, menuju Makassar, Sulawesi Selatan, itu mengangkut 238 penumpang dan 181 kendaraan. Dari total yang dievakuasi, 233 orang selamat, 5 orang dinyatakan tewas, dan 4 lainnya masih dilaporkan hilang oleh keluarga, meski operasi pencarian resmi telah dihentikan. Peristiwa ini kembali menyorot tajam persoalan keselamatan transportasi laut nasional dan pengawasan ketat terhadap operator kapal.

Kejadian bermula saat kapal tengah melintasi perairan utara Pulau Sapudi. Berdasarkan data yang dihimpun dari Kantor SAR Surabaya, api pertama kali terlihat di tengah pelayaran, memicu kepanikan di antara para penumpang dan awak kapal. Proses evakuasi berlangsung di tengah kondisi yang tidak mudah, mengingat kapal mengangkut ratusan kendaraan yang justru berpotensi menjadi hambatan besar dalam upaya penyelamatan.

Kronologi dan Proses Evakuasi yang Menegangkan

Laporan dari lapangan menyebutkan, kepulan asap hitam pekat terlihat dari kejauhan sebelum api membesar melahap badan kapal. Para penumpang berhamburan menuju titik-titik berkumpul, sementara awak kapal berupaya menurunkan sekoci dan rakit penolong. Namun, situasi diperparah dengan adanya laporan mengenai kegagalan fungsi sekoci, sebuah temuan yang nantinya menjadi sorotan utama Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Proses evakuasi melibatkan kapal-kapal lain yang kebetulan melintas di sekitar lokasi kejadian. Gelombang laut yang cukup tinggi turut mempersulit proses penyeberangan penumpang dari kapal yang terbakar ke kapal penolong. Meskipun demikian, sebanyak 233 orang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat, sebagian besar mengalami luka ringan dan syok akibat insiden tersebut.

Keluarga Korban Desak Pencarian Dilanjutkan

Di tengah duka yang mendalam, ada catatan pahit yang belum tuntas. Meski pihak berwenang menyatakan operasi SAR resmi ditutup dengan alasan seluruh penumpang dalam manifes telah ditemukan, sejumlah keluarga tidak bisa menerima keputusan tersebut. Mereka melaporkan bahwa empat orang kerabat mereka masih belum diketahui keberadaannya hingga kini.

“Kami tidak akan berhenti mencari. Kami mendesak agar operasi pencarian segera dilanjutkan, apapun kondisinya nanti,” ujar salah satu perwakilan keluarga korban dengan nada tercekat. Desakan ini muncul karena adanya ketidaksesuaian antara data manifes resmi dengan jumlah aktual penumpang yang berada di kapal, sebuah persoalan klasik yang kerap menjadi celah lemah dalam sistem pelayaran nasional.

Evaluasi Menyeluruh dari Kementerian Perhubungan

Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi buka suara. Ia menegaskan bahwa tragedi ini menjadi momentum penting untuk melakukan evaluasi total terhadap standar keselamatan pelayaran di Indonesia. Pemerintah, lanjutnya, tidak akan tinggal diam dan akan menelusuri setiap celah prosedur yang memungkinkan kecelakaan semacam ini terjadi.

“Guna mencegah terulangnya kejadian serupa, Kementerian Perhubungan akan melakukan evaluasi secara menyeluruh. Yang terjadi sekarang ini akan menjadi bahan evaluasi agar hal-hal serupa tidak terjadi lagi,” kata Menhub dalam keterangan resminya. Ia menambahkan bahwa evaluasi ini tidak hanya mencakup penyebab teknis kebakaran, tetapi juga prosedur operasional standar, kesiapan alat keselamatan, hingga akurasi data manifes penumpang.

Langkah ini dinilai penting mengingat insiden KMP Mutiara Sentosa 2 bukanlah kasus pertama. Sebelumnya, berbagai kecelakaan laut kerap terjadi dengan pola yang hampir serupa, mulai dari kebakaran hingga kapal tenggelam. Pertanyaannya kini, apakah evaluasi ini akan berujung pada perubahan kebijakan yang konkret atau hanya menjadi catatan administratif belaka.

Editor: Clara Salsabila

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar