Harga Emas Melonjak 2,4 Persen ke Rekor USD4.343 Setelah Data Tenaga Kerja AS Anjlok dan Ketegangan Timur Tengah Mereda

- Sabtu, 08 Agustus 2026 | 02:25 WIB
Harga Emas Melonjak 2,4 Persen ke Rekor USD4.343 Setelah Data Tenaga Kerja AS Anjlok dan Ketegangan Timur Tengah Mereda

PARADAPOS.COM - Harga emas global menguat signifikan pada akhir pekan ini, ditopang oleh serangkaian data ekonomi Amerika Serikat yang kurang menggembirakan serta meredanya tensi di Timur Tengah. Pada Jumat, 7 Agustus 2026, harga emas spot melonjak 2,4 persen ke level USD4.343,46 per ons, sementara kontrak berjangka naik ke USD4.402,67 per ons. Pergerakan ini mengantar logam mulia menuju kinerja mingguan terbaiknya sejak akhir Januari, dengan potensi penguatan lebih dari tujuh persen dalam sepekan.

Lonjakan ini terjadi di tengah pelemahan dolar AS dan penurunan harga minyak mentah, yang secara bersamaan meredakan kekhawatiran pasar terhadap inflasi yang lebih tinggi. Kombinasi faktor tersebut turut mengikis ekspektasi pasar akan sikap agresif bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), dalam menaikkan suku bunga. Kondisi ini menjadi angin segar bagi emas yang selama ini tertekan oleh kebijakan moneter ketat.

Data Ketenagakerjaan AS Gagal Memenuhi Ekspektasi

Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan jumlah pekerjaan non-pertanian pada Juli justru turun 23 ribu, sebuah kontras tajam dengan perkiraan konsensus yang mengantisipasi kenaikan 85 ribu. Ini merupakan penurunan bulanan pertama sejak Februari. Lebih jauh, data pekerjaan untuk Mei dan Juni juga direvisi lebih rendah sebesar 103 ribu, menambah gambaran perlambatan pasar tenaga kerja.

Menariknya, tingkat pengangguran pada Juli tercatat turun tipis menjadi 4,1 persen dari 4,2 persen pada bulan sebelumnya. Penurunan jumlah tenaga kerja ini sebagian besar dipicu oleh berkurangnya hampir 50 ribu pekerjaan di sektor pendidikan pemerintah daerah. Data ini muncul di saat yang krusial bagi The Fed, yang tengah berupaya menyeimbangkan dua mandatnya: mengendalikan inflasi dan menjaga pasar tenaga kerja.

Di satu sisi, pasar tenaga kerja secara keseluruhan masih terbilang solid meski ada laporan negatif. Namun di sisi lain, risiko inflasi tetap tinggi di tengah volatilitas harga minyak yang dipicu konflik Timur Tengah. Beberapa pembuat kebijakan bahkan telah menunjukkan kecenderungan jelas untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan kebijakan moneter terakhir bulan Juli lalu.

Dilema ini terlihat jelas dari perbedaan mandat ganda The Fed. Inflasi yang tinggi menuntut kenaikan suku bunga, sementara ketahanan pasar tenaga kerja yang mulai goyah memberikan sinyal untuk tidak terlalu agresif. Meskipun biaya pinjaman yang lebih tinggi dapat membantu memerangi inflasi, kebijakan semacam itu berisiko merusak pasar tenaga kerja dan perekonomian yang lebih luas.

Alat ukur CME FedWatch menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga seperempat poin pada September turun menjadi 44 persen, dari sebelumnya 55 persen, setelah rilis laporan pekerjaan Juli. Lingkungan suku bunga yang lebih tinggi memang cenderung membebani aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas. Selain itu, suku bunga tinggi juga dapat memperkuat dolar AS, yang pada gilirannya membuat emas semakin mahal bagi pembeli internasional.

Meredanya Ketegangan di Selat Hormuz

Dari kawasan Timur Tengah, muncul kabar yang sedikit meredakan ketegangan. Axios melaporkan bahwa Iran sedang menunggu persetujuan akhir dari Dewan Keamanan Nasional Tertingginya terkait kesepakatan dengan Oman dan AS untuk membuka kembali Selat Hormuz yang strategis, mengutip seorang diplomat dari salah satu negara mediator. Sementara itu, Reuters mengabarkan telah ada kemajuan dalam kesepakatan tersebut berdasarkan keterangan seorang pejabat AS.

Sebelumnya, media Iran pada Kamis melaporkan bahwa Teheran telah menyerang apa yang digambarkan sebagai "target musuh" di selat tersebut dan berencana melarang kapal AS dan Israel melintasi jalur air strategis itu. Perkembangan ini terjadi setelah para pejabat Iran menyatakan bahwa kesepakatan dengan Oman untuk membuka kembali jalur pelayaran berada pada tahap akhir. Secara terpisah, militan Houthi yang didukung Iran di Yaman dilaporkan melakukan serangan baru terhadap Arab Saudi, meningkatkan kekhawatiran konflik akan meluas.

Meskipun ada peningkatan ketegangan, Presiden Donald Trump menyatakan keyakinannya bahwa perang akan segera berakhir dan menegaskan AS tetap mengendalikan Selat Hormuz. Di tengah situasi yang fluktuatif ini, harga minyak mentah Brent sebagai patokan global bergejolak. Kekhawatiran akan gangguan berkepanjangan pada jalur pelayaran Timur Tengah masih membayangi, karena dapat memicu gelombang inflasi akibat energi dan berpotensi mendorong pengetatan kebijakan bank sentral secara lebih agresif.

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar