NasDem Latih Ratusan Remaja Jadi Calon Pemimpin Lewat Program Simulasi Anggota DPR

- Sabtu, 08 Agustus 2026 | 07:25 WIB
NasDem Latih Ratusan Remaja Jadi Calon Pemimpin Lewat Program Simulasi Anggota DPR
PARADAPOS.COM - Partai NasDem kembali membuka ruang edukasi politik bagi generasi muda lewat program Remaja Bernegara yang diikuti ratusan remaja berusia 13 hingga 15 tahun. Dalam program ini, para peserta tidak hanya duduk mendengarkan teori, tetapi juga diajak praktik langsung menjadi wakil rakyat hingga menjalani simulasi keseharian anggota DPR. Kegiatan tersebut berlangsung di NasDem Tower, Jakarta, dan menjadi bagian dari upaya partai menumbuhkan kesadaran politik sejak usia dini. Program yang memasuki musim keempat ini sengaja dirancang sebagai wadah pembelajaran yang interaktif. Tujuannya jelas: membekali generasi muda agar lebih memahami proses demokrasi dan tidak gagap terhadap persoalan kebangsaan. Lebih dari sekadar pendidikan formal, kegiatan ini diharapkan mampu menanamkan nilai kepemimpinan serta tanggung jawab sosial kepada para peserta sejak remaja. Jiwa Kepemimpinan Perlu Ruang untuk Tumbuh Anggota DPR RI dari Fraksi NasDem, Ratih Megasari Singkarru, menegaskan bahwa setiap individu sejatinya memiliki potensi kepemimpinan. Namun, potensi tersebut kerap tidak berkembang lantaran tidak adanya ruang yang tepat untuk mengasahnya. "Kami meyakini setiap orang punya jiwa kepemimpinan, tapi kadang setiap orang suka tidak tahu mau mulai dari mana. Jadi NasDem membuat program Remaja Bernegara untuk bisa memberikan wadah tersebut kepada anak-anak muda," ujarnya dalam program Metro Siang Metro TV, Sabtu, 8 Agustus 2026. Pernyataan itu disampaikan Ratih di tengah kesibukannya mendampingi para peserta yang tampak antusias mengikuti setiap rangkaian acara. Menurutnya, politik bukanlah sesuatu yang menakutkan bila dikenalkan dengan cara yang tepat dan menyenangkan. Mengenal Lebih Dekat NasDem Tower Salah satu sesi yang paling dinantikan peserta adalah tower tour, di mana mereka diajak berkeliling gedung NasDem Tower. Dalam kesempatan itu, para remaja diperkenalkan pada perjalanan panjang partai, profil para tokoh pendiri, serta pemikiran politik yang berkembang melalui galeri kebangsaan dan perpustakaan partai. Suasana terasa hidup ketika para peserta melontarkan pertanyaan-pertanyaan kritis kepada pemandu. Beberapa di antaranya tampak serius mencatat, sementara yang lain sibuk mengabadikan momen di sudut-sudut galeri. Kegiatan ini memang dirancang tidak hanya untuk mengenalkan sejarah, tetapi juga membuka cakrawala berpikir peserta tentang dinamika berbangsa dan bernegara. Simulasi di Gedung DPR dan Ikatan Alumni Setelah sesi di NasDem Tower, rangkaian program berlanjut dengan pembentukan ikatan alumni. Langkah ini diambil agar jejaring antar peserta tetap terjaga meski program resmi telah usai. Lewat wadah tersebut, diharapkan muncul kolaborasi dan diskusi berkelanjutan di antara remaja dari berbagai daerah. Puncaknya, para peserta diajak menjalani simulasi langsung di gedung DPR. Mereka merasakan bagaimana rasanya duduk di kursi legislatif, mengikuti alur rapat, hingga memahami mekanisme pengambilan keputusan. Pengalaman ini menjadi momen berharga yang mungkin tidak akan mereka dapatkan di bangku sekolah. Menepis Stigma Negatif Politik Lebih jauh, program ini menyimpan misi besar untuk mengubah cara pandang anak muda terhadap politik. Selama ini, politik kerap dipersepsikan sebagai dunia yang kotor dan penuh kepentingan. NasDem ingin menunjukkan bahwa politik sejatinya adalah ruang pengabdian yang bisa dimasuki siapa saja, termasuk generasi muda. Dengan pendekatan yang lebih dekat dan praktik langsung, diharapkan stigma negatif itu perlahan luntur. Para peserta pun pulang membawa pemahaman baru bahwa menjadi bagian dari proses demokrasi bukanlah hal yang asing atau menakutkan. Mereka justru bisa menjadi agen perubahan yang kritis, cerdas, dan berintegritas di masa depan.

Editor: Paradapos.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar