Pedagang Bendera di Pasar Minggu Keluhkan Penjualan HUT ke-81 RI Terburuk, Kalah Sepi dari Masa Pandemi

- Senin, 10 Agustus 2026 | 10:25 WIB
Pedagang Bendera di Pasar Minggu Keluhkan Penjualan HUT ke-81 RI Terburuk, Kalah Sepi dari Masa Pandemi

PARADAPOS.COM - Darsono (51), pedagang bendera Merah Putih di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, mengaku penjualan pada perayaan HUT ke-81 RI tahun ini menjadi yang terburuk sepanjang kariernya berjualan sejak 1995. Ia menyebut omzetnya bahkan lebih sepi dibandingkan masa pandemi Covid-19. Hingga H-7 perayaan, modal Rp8 juta yang ia keluarkan belum kembali, padahal di tahun-tahun sebelumnya modal tersebut sudah impas di tanggal yang sama. Hal ini diungkapkan Darsono saat ditemui di lapaknya pada Senin, 10 Agustus 2026.

Sudah lebih dari tiga dekade, pria berusia 51 tahun ini mengadu peruntungan pada geliat ekonomi musiman yang muncul menjelang Hari Kemerdekaan. Setiap tahun, ia selalu hadir menjajakan bendera Merah Putih dan aneka pernak-pernik khas 17 Agustus di ibu kota. Namun, rutinitas yang dulu terasa menjanjikan itu kini berubah menjadi sumber kekhawatiran.

Pemandangan di sepanjang jalan Pasar Minggu memang mulai dihiasi atribut kemerdekaan. Namun, justru di tengah semarak itulah lapak Darsono terlihat sepi. Padahal, ia sudah bersiap lebih awal dengan membuka lapaknya sejak 28 Juli 2026.

Modal Belum Kembali di H-7

Darsono memulai usahanya dengan menjual bendera ukuran kecil seharga Rp10.000 hingga bendera besar berukuran 10 gelombang yang dibanderol Rp200.000. Untuk memenuhi lapaknya, ia mengaku menggunakan modal pribadi dan sebagian barang titipan dari pihak lain dengan sistem setoran.

“Paling parah tahun sekarang penjualannya, kalau saat covid lumayan. Tahun sekarang aja (penjualan anjlok),” katanya saat ditemui di lapaknya.

Kondisi ini kontras dengan pengalamannya di tahun-tahun sebelumnya. Biasanya, di pekan-pekan awal Agustus, ia sudah bisa menarik kembali seluruh modal yang ia tanam. Namun, tahun ini, situasinya jauh berbeda.

“Tanggal-tanggal segini mah udah ketemu modal, tahun-tahun sebelumnya. Kalau tahun sekarang mah boro-boro Modal aja belum ketemu,” ungkapnya.

Sepi dari Periode Pandemi

Yang membuat situasi ini semakin ironis adalah kenyataan bahwa tingkat kelesuan penjualan tahun ini bahkan melampaui masa-masa sulit saat pandemi Covid-19 melanda. Pada masa itu, meski ada pembatasan aktivitas, permintaan akan bendera dan atribut kemerdekaan masih terasa. Kini, di tengah aktivitas masyarakat yang sudah kembali normal, justru daya beli atau minat pasar terhadap dagangannya mengalami penurunan drastis.

Pengalaman pahit Darsono ini menjadi cermin dari dinamika ekonomi rakyat yang tak selalu sejalan dengan semarak perayaan. Meski perayaan kemerdekaan selalu identik dengan euforia, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua lapisan masyarakat merasakan dampak positifnya.

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar