PARADAPOS.COM - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan komitmen pemerintah untuk terus memperkuat ekonomi nasional melalui pendalaman dan diversifikasi pembiayaan di pasar modal. Pernyataan ini disampaikan di tengah peringatan 49 tahun diaktifkannya kembali pasar modal Indonesia, Senin, 10 Agustus 2026, di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. Pemerintah memproyeksikan kebutuhan pembiayaan ekonomi mencapai sekitar Rp7.400 triliun pada 2026 dan meningkat menjadi Rp9.200 triliun pada 2029, sehingga diversifikasi sumber pembiayaan menjadi krusial.
Di sela-sela acara yang berlangsung di lantai bursa, Airlangga menyebut momen peringatan ini bukan sekadar seremoni. Ia menekankan bahwa pasar modal adalah cermin utama yang selalu dipantau investor, terutama di masa-masa strategis. Suasana di Main Hall BEI tampak sibuk dengan para pelaku pasar dan undangan yang hadir, namun pesan yang disampaikan Menko Perekonomian itu cukup jelas: kepercayaan adalah segalanya.
"Peringatan ini momentum untuk menjaga kepercayaan para investor terhadap perekonomian dan pasar keuangan internasional dan nasional, karena pasar modal selalu merupakan proksi ekonomi yang dilihat oleh para investor, terutama pada saat-saat yang sangat strategis," ujarnya di hadapan para hadirin.
Menakar Kebutuhan Pembiayaan dan Langkah Diversifikasi
Kebutuhan pembiayaan yang terus membesar mendorong pemerintah untuk tidak lagi bergantung pada satu atau dua sumber pendanaan. Diversifikasi menjadi kata kunci dalam setiap perencanaan, dan instrumen utang berbasis valas seperti Panda Bonds serta Samurai Bond disebut sebagai salah satu jalur yang tengah digenjot. Langkah ini dinilai penting untuk memperluas basis investor sekaligus mengurangi tekanan pada instrumen domestik.
"Jadi kalau ini adalah momentum kita juga untuk diversifikasi daripada pinjaman. Nah ini mungkin beberapa yang bisa didorong selain Panda Bonds, tentu Samurai Bond. Jadi kalau kita bisa dorong diversifikasi tentu akan lebih baik," ungkap Airlangga.
Fundamental Ekonomi dan Penguatan Instrumen Investasi
Keyakinan pemerintah terhadap daya tarik pasar modal Indonesia bukan tanpa dasar. Airlangga memaparkan bahwa seluruh sovereign rating Indonesia masih berada pada kategori investment grade. S&P memberi peringkat BBB/A-2, Fitch BBB, Moody's Baa2, serta R&I dan JCR BBB . Bahkan, penerbitan Panda Bond Indonesia berhasil meraih peringkat AAA dari Lianhe Credit Rating, sebuah sinyal kuat bagi investor global.
Untuk semakin memperdalam pasar, pemerintah bersama OJK dan Self-Regulatory Organization (SRO) baru saja meluncurkan Exchange Traded Fund (ETF) Emas. Produk ini diharapkan mampu memperluas pilihan investasi masyarakat sekaligus mengerek likuiditas pasar. Langkah OJK yang menetapkan Electronic Gold Receipt (EGR) sebagai efek yang dapat dicatat dalam portofolio ETF Emas pun mendapat apresiasi langsung dari Airlangga.
Ia berharap kehadiran produk ini dapat memperkuat sinergi antara manajer investasi (MI), bank kustodian, bank bulion, dealer, dan bursa efek. Lebih dari sekadar produk baru, ETF Emas dinilai menjadi jembatan yang menghubungkan seluruh ekosistem pasar modal.
Di luar itu, berbagai reformasi terus digulirkan untuk menjaga kredibilitas dan daya saing sektor keuangan. Pemerintah berharap pengembangan produk dan ekosistem pasar modal, termasuk ETF Emas serta agenda demutualisasi, dapat semakin memperdalam sektor keuangan dan memperkuat kontribusinya terhadap pembiayaan ekonomi nasional.
Artikel Terkait
Bigmo Kapok Usai Diperiksa 40 Pertanyaan soal Konten Libatkan Anak Promosi Liquid Vape
Liga Top Eropa 2026/2027 Resmi Bergulir, LaLiga Jadi Pembuka Musim
Pemkab Sigi Tunggu Hasil Kajian Untad soal Semburan Air Bergas di Palolo
LPDB Koperasi Buka Proses Pengajuan Dana Bergulir ke 36 Koperasi Sektor Riil, Tegaskan Bebas Biaya dan Transparan