Kekeringan Melanda Boyolali dan Grobogan, DMC Dompet Dhuafa Salurkan Air Bersih untuk 370 Warga

- Senin, 10 Agustus 2026 | 16:25 WIB
Kekeringan Melanda Boyolali dan Grobogan, DMC Dompet Dhuafa Salurkan Air Bersih untuk 370 Warga

PARADAPOS.COM - Kemarau panjang yang melanda Jawa Tengah memaksa ratusan warga di Kabupaten Boyolali dan Grobogan berjuang mendapatkan air bersih. Hingga 10 Agustus 2026, kekeringan tidak hanya menguras persediaan air, tetapi juga melumpuhkan ekonomi warga yang mayoritas bekerja sebagai petani jagung dan peternak. Menanggapi hal ini, Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa turun tangan mendistribusikan bantuan air bersih bagi 370 warga yang terdampak di dua kabupaten tersebut.

Krisis Air di Boyolali: Pertanian dan Peternakan Terancam

Di Dukuh Joho, Desa Sambeng, Kecamatan Juwangi, Kabupaten Boyolali, situasinya sudah sangat kritis. Lahan-lahan jagung yang biasa menghijau kini gersang, sementara sumur-sumur warga mulai mengering. Kondisi ini memaksa warga untuk berpikir dua kali dalam memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari, terutama air minum dan air untuk ternak mereka.

Mata pencaharian warga setempat memang sangat bergantung pada alam. Sebagian besar adalah petani jagung yang menggarap lahan milik Perhutani dengan biaya sewa sekitar Rp1,3 juta per musim tanam. Ada pula yang memelihara domba dan sapi. Ketika air sulit didapat, seluruh rantai ekonomi ini ikut terganggu.

Nur Cholis, selaku Dai Pemberdaya Dompet Dhuafa Jawa Tengah, menuturkan bahwa dampaknya terasa langsung di kantong warga. “Karena kekeringan di ladang mereka, yang kedua tidak bisa menanam lagi, kemudian yang pekerja itu ikut istrinya mencari air jadi dampak spesifiknya masalah perekonomian warga karena terdampaknya kekeringan sedangkan warga membantu para istrinya mencari air juga demi memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

Para petani pun terpaksa menunda rencana musim tanam berikutnya. Mereka tidak bisa berbuat banyak selain menunggu hujan turun, sementara biaya sewa lahan sudah terlanjur mereka keluarkan. Paceklik ini menjadi ujian berat bagi ketahanan ekonomi rumah tangga di Dukuh Joho.

Grobogan Juga Terdampak: Menggali Sumur di Dasar Sungai

Kondisi serupa dialami warga di Kabupaten Grobogan. Di Dukuh Kedung Bunder, Desa Kedungjati, Kecamatan Kedungjati, sebanyak 120 kepala keluarga mulai merasakan dampak kekeringan sejak pertengahan Juli 2026. Mereka terpaksa menggali sumur-sumur kecil di dasar sungai yang mengering demi mendapatkan tetesan air untuk kebutuhan memasak dan minum.

Tidak jauh dari lokasi tersebut, Dukuh Brumbung, Desa Panimbo, juga menghadapi situasi yang sama. Sebanyak 80 kepala keluarga di sana telah berjuang melawan kekeringan sejak akhir Juli. Setiap pagi, warga berbondong-bondong menuju titik-titik air yang tersisa, membawa jerigen dan ember untuk mengangkut air seadanya.

Ketika musim kemarau terus berlangsung, air menjadi komoditas paling berharga yang harus diperjuangkan setiap hari. Aktivitas sederhana seperti mandi dan mencuci pun menjadi kemewahan yang tak bisa dilakukan setiap saat.

Respons Cepat DMC Dompet Dhuafa

Melihat kondisi yang memprihatinkan ini, Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa bergerak cepat. Mereka menyalurkan bantuan air bersih kepada warga terdampak di kedua kabupaten tersebut. Distribusi air bersih ini diharapkan dapat meringankan beban harian warga yang selama ini harus menempuh jarak jauh hanya untuk mendapatkan air.

Bantuan ini merupakan bagian dari upaya tanggap darurat kekeringan yang berkelanjutan. Selain memenuhi kebutuhan air minum, pasokan air bersih ini juga diharapkan bisa menyelamatkan ternak-ternak milik warga yang terancam dehidrasi. Dengan begitu, roda perekonomian kecil di desa-desa tersebut bisa tetap berputar meski di tengah keterbatasan.

Hingga berita ini diturunkan, DMC Dompet Dhuafa terus memantau perkembangan situasi di lapangan. Mereka berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat untuk memastikan bantuan tepat sasaran dan menjangkau seluruh warga yang membutuhkan. Upaya jangka panjang pun tengah dirancang untuk membantu warga beradaptasi dengan kondisi cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi.

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar