Al-Quran Dijadikan Tantangan untuk Dapat Miras di Festival The Sounds Project, Ustaz Hilmi Firdausi: Ini Penistaan Agama

- Selasa, 11 Agustus 2026 | 04:25 WIB
Al-Quran Dijadikan Tantangan untuk Dapat Miras di Festival The Sounds Project, Ustaz Hilmi Firdausi: Ini Penistaan Agama

PARADAPOS.COM - Sebuah aksi kontroversial di festival musik The Sounds Project memicu kecaman luas setelah Al-Qur'an dijadikan alat tantangan untuk mendapatkan minuman keras (miras). Ustaz Hilmi Firdausi dengan tegas menyebut tindakan ini sebagai bentuk penistaan agama dan mendesak pihak terkait untuk segera klarifikasi. Insiden yang berlangsung di booth sponsor Newport ini bermula dari aksi spontan seorang pengunjung yang mengambil alih mikrofon dan menawarkan hadiah miras bagi siapa pun yang mampu melafalkan surah Ad-Dhuha.

Peristiwa yang terekam dalam sebuah video dan menyebar cepat di media sosial ini sontak memantik reaksi keras dari berbagai kalangan. Bukan hanya soal pelanggaran etika di ruang publik, tetapi juga penempatan kitab suci dalam konteks promosi produk beralkohol yang dinilai sangat tidak pantas. Publik mempertanyakan bagaimana bisa sebuah bacaan suci direduksi menjadi sekadar alat tukar untuk mendapatkan minuman yang diharamkan dalam agama Islam.

Kecaman Ustaz Hilmi Firdausi dan Polemik di Media Sosial

Ustaz Hilmi Firdausi menjadi salah satu tokoh yang paling vokal menyuarakan kemarahannya. Dalam pernyataannya di platform X, dia secara langsung menyoroti Newport sebagai brand yang booth-nya menjadi lokasi kejadian. Baginya, tindakan ini bukan sekadar salah paham, melainkan sebuah pelecehan terhadap kesucian Al-Qur'an.

"Untuk brand miras Newport, kalian sudah kelewatan, membuat promosi hafal ayat Al-Quran ditukar sama Miras," kata Ustaz Hilmi di X, dikutip Selasa (11/8/2026).

"Segera klarifikasi dan minta maaf. Ini sudah masuk ranah penistaan agama!" tegas pemuka agama tersebut.

Pernyataan tegas ini semakin memperkuat gelombang kecaman yang sudah lebih dulu bergulir di linimasa. Banyak warganet yang menyayangkan insiden tersebut dan mendesak penyelenggara acara untuk mengambil tindakan tegas. Mereka menilai bahwa kejadian ini menunjukkan kelalaian dalam mengawal jalannya acara yang melibatkan banyak pihak.

Klarifikasi MC dan Penegasan Pihak Brand

Di tengah polemik yang memanas, MC yang bertugas di booth Newport, Ega, akhirnya angkat bicara. Dalam klarifikasinya, dia menjelaskan kronologi kejadian yang sebenarnya. Aksi tersebut bermula ketika dirinya sedang berinteraksi dengan pengunjung saat jeda acara, dan seorang audiens yang mengenakan atasan putih tiba-tiba mengambil alih mikrofon miliknya.

Audiens tersebut kemudian membuat sayembara kepada pengunjung lain untuk melafalkan salah satu surat dengan imbalan yang ditawarkan oleh audiens tersebut. Ega mengakui bahwa dirinya lalai karena tidak segera mengambil kembali mikrofon tersebut saat mengetahui arah pembicaraan yang tidak biasa.

"Ketika mengetahui penyampaian sayembara tersebut, saya lalai untuk mengambil alih mic tersebut," ujar Ega dalam pernyataannya.

Dia pun meminta maaf karena tidak mampu mengontrol aksi spontan audiens hingga akhirnya menimbulkan kegaduhan. Dalam pernyataan yang sama, Ega memberikan penegasan bahwa pihak brand tidak memiliki sangkut paut dengan aksi spontan tersebut. "Melalui pesan ini pula, saya menegaskan bahwa pihak brand tidak memiliki sangkut paut atas kejadian tersebut," tegasnya.

Sikap Tegas Penyelenggara The Sounds Project

Pihak penyelenggara The Sounds Project pun buka suara. Mereka mengaku marah, kecewa, dan mengecam tindakan tersebut. Penyelenggara juga menyatakan telah menegur pihak sponsor terkait dan meminta kasus tersebut diselesaikan hingga tuntas. Penegasan ini menjadi penting untuk menunjukkan bahwa tindakan tersebut di luar dari nilai-nilai yang mereka junjung.

Sebagai tambahan, The Sounds Project menyatakan tidak pernah dan tidak akan pernah membenarkan perilaku yang menjadikan agama sebagai bahan challenge maupun promosi produk dalam bentuk apa pun. Mereka juga menegaskan tidak menoleransi tindakan yang menyinggung SARA oleh pihak mana pun yang beraktivitas di area acara, termasuk sponsor dan mitra kerja sama.

"Kami tegaskan bahwa kejadian tersebut sepenuhnya di luar arahan, persetujuan, dan kendali kami sebagai penyelenggara acara," demikian pernyataan The Sounds Project.

Editor: Bagus Kurnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags