PARADAPOS.COM - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Suharyanto menyatakan bahwa pesawat operasi modifikasi cuaca (OMC) telah disiagakan di berbagai daerah untuk merespons kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Indonesia. Langkah ini diambil sebagai upaya antisipasi sekaligus respons cepat, mengingat intensitas karhutla yang meningkat selama musim kemarau. Suharyanto menegaskan bahwa pesawat tersebut berstatus standby di daerah rawan dan dapat diterbangkan kapan saja, termasuk pada malam hari, selama ada potensi awan hujan yang bisa disemai. Siaga Penuh di Tengah Kemarau Memasuki Agustus, tantangan besar muncul karena pertumbuhan awan hujan berkurang drastis akibat puncak musim kemarau yang diperparah oleh fenomena El Nino. Kondisi ini menjadi kendala klasik dalam pelaksanaan OMC, sebab tanpa awan, teknologi hujan buatan tidak dapat beroperasi secara optimal. Suharyanto mengakui bahwa hingga akhir bulan ini, peluang untuk menemukan awan hujan sangat tipis, namun pihaknya tetap optimistis. "Setiap ada pertumbuhan awan hujan kita akan segera laksanakan kembali. Pesawatnya sudah standby terus di daerah. Tidak bisa keluar hujannya kalau awannya tidak ada," kata Suharyanto. Koordinasi Intensif dengan BMKG Untuk memaksimalkan peluang, BNPB terus menjalin koordinasi ketat dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Pemantauan dilakukan secara intensif dan real-time terhadap pergerakan serta pertumbuhan awan di langit Indonesia. Jika terdeteksi adanya awan hujan yang berpotensi, tim teknis akan segera melakukan penyemaian garam untuk memicu turunnya hujan. "Masalahnya sampai dengan akhir Agustus itu pertumbuhan awan hujannya berkurang. Sekarang tadi dari BMKG mengatakan mudah-mudahan nanti sebelum tanggal 18 ada," ujar Suharyanto. Fokus pada Lahan Gambut Prioritas utama dari operasi ini adalah menangani titik-titik kebakaran yang berada di area lahan gambut. Diketahui, kebakaran di lahan gambut lebih sulit dipadamkan karena api dapat membakar lapisan tanah di bawah permukaan. OMC diharapkan menjadi solusi efektif untuk membasahi lahan-lahan kritis tersebut, sehingga api tidak mudah menyebar dan upaya pemadaman di darat bisa berjalan lebih lancar. Meski cuaca menjadi faktor penentu, kesiapan personel dan peralatan tetap menjadi kunci. BNPB memastikan seluruh sumber daya yang ada saat ini dalam keadaan siap, menunggu momen yang tepat untuk bertindak. Langkah ini merupakan bagian dari strategi jangka pendek untuk menekan luas area terbakar, sembari terus melakukan pemantauan terhadap potensi bencana asap yang bisa mengganggu kesehatan masyarakat.
Artikel Terkait
ESR dan INA Mulai Bangun Dua Pusat Logistik Modern di Cikarang dan Cibitung
Pengadilan Damaskus Jatuhkan Hukuman Mati In Absentia untuk Bashar al-Assad
BPBD Temanggung Salurkan 37 Tangki Air Bersih, Prioritas untuk SD, MI, dan Ponpes
Kapolri Hadiri Silaturahmi Lintas Lembaga di Mabes TNI AL, Perkuat Sinergi Antisipasi Dinamika Keamanan Nasional