AI Bisa Pacu Ekonomi Indonesia 8%, Ini 5 Kunci Utama Menurut Para Ahli

- Kamis, 30 Oktober 2025 | 12:35 WIB
AI Bisa Pacu Ekonomi Indonesia 8%, Ini 5 Kunci Utama Menurut Para Ahli

AI Berpotensi Dorong Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 8%, Kepercayaan Digital Jadi Kunci

Teknologi Kecerdasan Buatan (AI) dinilai memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 8 persen. Dalam perekonomian modern saat ini, kepercayaan digital telah menjadi aset utama yang sangat berharga.

Pentingnya AI Bertanggung Jawab Berbasis Pancasila

Governance, Audit & Ethic Committee of ISACA Indonesia Chapter, Isnaeni Achdiat menekankan bahwa pemanfaatan AI tidak hanya harus memanfaatkan peluang, tetapi juga tetap berada dalam koridor yang bertanggung jawab. Hal ini disampaikan dalam konferensi tahunan GRACS IPSS 2025 yang berkolaborasi dengan Grab Indonesia dan OVO.

"Kami mendorong penerapan AI yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila — sebuah pendekatan yang menuntut etika dan tanggung jawab dari para pengembang serta pemangku kepentingan," ujar Isnaeni Achdiat.

Tantangan Keamanan Siber dan Strategi Mitigasi

Rusdi Rachim, CISO Maybank Indonesia mengungkapkan Indonesia saat ini menghadapi tekanan keamanan siber dari berbagai arah, termasuk attack surface yang meluas, tuntutan regulasi, dan ekspektasi pelanggan.

"Kunci untuk Managing Crisis adalah Preparation dengan playbook yang teruji, Crisis Command yang terstruktur, Communication yang transparan kepada regulator dan pelanggan, serta Post-Incident Learning," jelas Rusdi.

Cybersecurity Sebagai Investasi, Bukan Biaya

Deputi Bidang Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian BSSN, Slamet Aji Pamungkas menegaskan perlunya perubahan paradigma dalam memandang keamanan siber. "Kita perlu melihat cybersecurity sebagai sebuah investasi, bukan sekadar biaya," katanya.

Menurutnya, keamanan siber harus diterapkan secara top down karena jika manajemen gagal, seluruh sistem di bawahnya juga akan gagal.

Risiko Supply Chain dan Kolaborasi Industri

Mulianto, Regional Sales Manager IDN & PH SecurityScorecard mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa 52 persen pembobolan data dimulai dari penyalahgunaan kredensial supplier atau kontraktor.

"Kita perlu beralih From Risk to Resilience karena Supply Chain Is Still the Weakest Door. Penting untuk mengetahui pihak ketiga, memonitor secara kontinu, serta melakukan audit dan asesmen," tegas Mulianto.

Peran Bank Indonesia dan Komitmen Grab

Deputy Head of Bank Indonesia Representative Office for Jakarta Province Yosamartha menyatakan BI berperan sebagai mercusuar untuk menjaga stabilitas ekosistem sistem pembayaran dengan Digital Trust sebagai fondasinya.

Sementara Richi Aktorian, Principal Cyber Security Grab Indonesia menambahkan bahwa membangun keamanan digital bukan hanya soal sistem, tetapi soal ekosistem. Grab terus berinvestasi dalam cyber resilience framework, sistem deteksi dini ancaman, dan pelatihan keamanan bagi seluruh tim.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar