Polisi Korsel Tangkap Dua Eks Tentara Tiongkok atas Dugaan Penyadapan Komunikasi Militer dan Pembocoran Informasi Latihan Gabungan Seoul-AS

- Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:50 WIB
Polisi Korsel Tangkap Dua Eks Tentara Tiongkok atas Dugaan Penyadapan Komunikasi Militer dan Pembocoran Informasi Latihan Gabungan Seoul-AS

PARADAPOS.COM - Kepolisian Korea Selatan menangkap dua pria mantan personel militer Tiongkok atas dugaan penyadapan komunikasi militer dan pembocoran informasi rahasia terkait latihan gabungan Seoul-Washington. Penangkapan ini terungkap setelah penyelidikan berbulan-bulan yang melibatkan pengintaian di sekitar pangkalan militer AS dan bandara sipil. Keduanya kini menghadapi dakwaan berat terkait keamanan nasional, sementara penyidik masih mendalami apakah data yang dikumpulkan sempat diteruskan ke otoritas Tiongkok. Peristiwa ini menjadi sorotan tajam mengingat ketegangan geopolitik yang masih membara di kawasan. Dari laporan yang dihimpun, kasus ini tidak hanya melibatkan penyadapan elektronik, tetapi juga dugaan perekrutan warga sipil Korea Selatan yang bekerja di instalasi militer penting. Polisi Provinsi Gyeonggi Nambu yang menangani kasus ini belum memberikan pernyataan resmi tambahan, namun sumber internal menyebutkan bahwa barang bukti elektronik telah diamankan dari kedua tersangka.

Kronologi Penyadapan di Kota Gunsan

Tersangka pertama adalah pria berusia 60-an tahun, mantan anggota Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok (PLA). Ia diduga telah berulang kali memasuki Korea Selatan dengan visa turis sejak Januari 2024. Dari sebuah hotel di dekat bandara Kota Gunsan, wilayah barat daya Korea Selatan, ia secara sistematis menyadap frekuensi komunikasi antara pesawat tempur dan menara pengendali lalu lintas udara. Aktivitasnya disebut-sebut bertepatan dengan jadwal latihan rutin Angkatan Udara Korea Selatan dan Amerika Serikat. Kepada penyidik, ia sempat mengklaim bahwa mendengarkan komunikasi pesawat hanyalah "hobi." Namun, polisi meragukan pengakuan tersebut dan terus menelusuri alur data yang mungkin telah dikirim ke luar negeri. "Kami tidak bisa menerima begitu saja penjelasan itu," ujar salah satu sumber penyidik, "terutama mengingat latar belakang militernya yang jelas." Hotel tempat tersangka menginap berada di kawasan yang relatif sepi, namun memiliki jangkauan sinyal yang baik ke area latihan. Polisi juga menemukan perangkat penyadap frekuensi radio yang dimodifikasi serta catatan manual berisi frekuensi-frekuensi penting. Hal ini menunjukkan bahwa aksinya bukan sekadar iseng, melainkan terencana dan berkelanjutan.

Perekrutan Warga Lokal di Camp Humphreys

Tersangka kedua memiliki profil yang berbeda, yakni pria Tiongkok keturunan Korea berusia 45 tahun dan mantan perwira PLA. Ia menjalankan sebuah toko perlengkapan militer AS di dekat Camp Humphreys, pangkalan militer utama AS di Pyeongtaek. Toko tersebut diduga menjadi kedok untuk mendekati personel dan warga sipil yang bekerja di dalam pangkalan. Polisi menduga tersangka ini merekrut seorang perempuan Korea Selatan yang bekerja di Camp Humphreys untuk mengakses informasi rahasia mengenai latihan pasukan sekutu. Aktivitas pengumpulan informasi ini berlangsung antara November 2021 hingga Mei tahun ini. Perempuan tersebut kini juga tengah diperiksa intensif sebagai saksi kunci, meski status hukumnya belum diumumkan secara resmi. Yang menarik, tersangka kedua ini sangat hati-hati dalam menyembunyikan identitasnya. Ia jarang terlihat berkomunikasi dengan orang asing di depan umum dan selalu menggunakan ponsel berbeda untuk menghubungi kontak-kontaknya. Polisi meyakini bahwa ia telah membangun jaringan kecil namun efektif selama bertahun-tahun.

Dakwaan dan Pengembangan Kasus

Kedua tersangka kini menghadapi dakwaan serius, termasuk memperoleh keuntungan bagi pihak musuh serta pelanggaran terhadap undang-undang yang mengatur perlindungan informasi dan komunikasi militer Korea Selatan. Jika terbukti bersalah, hukuman yang dijatuhkan bisa sangat berat, mengingat sensitivitas kasus ini bagi keamanan aliansi Korea Selatan-AS. Polisi masih mendalami kemungkinan adanya informasi militer lain yang telah diteruskan kepada pihak Tiongkok. Mereka juga tengah menelusuri apakah ada aktor lain yang terlibat, baik di dalam maupun luar negeri. "Kami bekerja sama dengan instansi terkait untuk memastikan tidak ada celah yang terlewat," ungkap seorang juru bicara kepolisian, menambahkan bahwa proses penyidikan akan berlanjut dalam beberapa pekan ke depan. Kasus ini menambah daftar panjang kekhawatiran akan aktivitas mata-mata asing di Semenanjung Korea. Meski demikian, aparat keamanan setempat menegaskan bahwa kewaspadaan mereka telah ditingkatkan, terutama di area-area yang menjadi pusat latihan militer gabungan.

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar