Kekeringan Ekstrem Landa Demak: Dasar Sungai Klambu Kiri Retak, Warga Kesulitan Air Bersih

- Selasa, 11 Agustus 2026 | 16:50 WIB
Kekeringan Ekstrem Landa Demak: Dasar Sungai Klambu Kiri Retak, Warga Kesulitan Air Bersih

PARADAPOS.COM - Kekeringan total melanda aliran Sungai Klambu Kiri di Desa Sambung, Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, akibat musim kemarau panjang yang diperparah fenomena El Nino. Dasar sungai yang biasanya dialiri air kini retak-retak dan kering, menyusul berhentinya pasokan air dari Waduk Kedungombo. Di tengah kondisi tersebut, anak-anak sekitar memanfaatkan dasar sungai yang kering sebagai lapangan sepak bola dadakan, sementara warga mulai kesulitan mendapatkan air bersih dan berharap ada bantuan dropping air dari pemerintah. Peristiwa ini terekam dalam tayangan Metro Hari Ini, Metro TV, pada Selasa 11 Agustus 2026. Pemandangan yang tampak jauh dari kesan basah: tanah dasar sungai yang pecah-pecah, retak, dan ditumbuhi ilalang kering. Debit air yang biasa mengalir deras kini tak tersisa, hanya menyisakan hamparan tanah lapang yang keras. Namun, di balik kegersangan itu, terdengar riuh rendah suara anak-anak. Mereka justru melihat peluang di tengah kekeringan. Area dasar sungai yang luas dan rata disulap menjadi lapangan sepak bola dadakan. Tawa dan sorak-sorai mereka seolah menjadi kontras dengan kondisi alam yang sedang murka. Keceriaan di Atas Tanah Kering Bagi anak-anak Desa Sambung, kekeringan ini adalah berkah tersembunyi. Mereka dengan penuh semangat menggiring bola, berteriak memanggil rekan setim, dan sesekali tertawa lepas saat berhasil mencetak gol. Gawang pun dibuat sederhana dari batu atau kayu yang tersusun di kedua ujung lapangan. Aktivitas ini menjadi pelarian yang menyenangkan di tengah keterbatasan. Meski demikian, keceriaan itu hanyalah satu sisi dari mata uang yang sama. Sisi lainnya adalah keprihatinan mendalam yang dirasakan oleh orang dewasa. Para orang tua di Desa Sambung mulai dilanda kecemasan. Sumber kehidupan mereka, terutama air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, perlahan tapi pasti menghilang. Warga Mulai Kesulitan Air Bersih Kekeringan ekstrem ini membawa dampak serius bagi kelangsungan hidup warga. Sumur-sumur yang selama ini menjadi andalan mulai kehilangan debit airnya. Seorang warga menuturkan, kondisi sumur mereka sangat bergantung pada aliran sungai. Ketika sungai mengering, air sumur pun ikut menyusut drastis, bahkan hingga habis sama sekali. “Sumur kami kering, Pak. Biasanya airnya masih ada meski sedikit, tapi sekarang benar-benar tidak ada,” ujarnya dengan nada prihatin. Akibatnya, sejumlah warga terpaksa merogoh kocek lebih dalam. Mereka harus mendatangkan pasokan air bersih dari luar desa untuk mengisi bak-bak penampungan yang kosong. Biaya ekstra ini tentu menjadi beban tambahan di tengah sulitnya ekonomi akibat gagal panen yang mungkin terjadi. Menghadapi kondisi yang kian pelik di puncak musim kemarau ini, warga Desa Sambung berharap uluran tangan dari pemerintah daerah maupun instansi terkait. Mereka sangat membutuhkan bantuan dropping air bersih untuk sekadar memenuhi kebutuhan minum, memasak, dan mandi. Harapan itu menggantung, menunggu kepastian di tengah teriknya matahari yang tak kunjung reda.

Editor: Clara Salsabila

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar