PARADAPOS.COM - Dosen Geografi Lingkungan UGM, Emilya Nurjani, mengingatkan bahwa fenomena El Nino yang diprediksi berpotensi menjadi "Godzilla" tidak akan berdampak seragam di seluruh wilayah Indonesia. Kombinasi El Nino dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif disebut mampu memicu kekeringan, krisis air, hingga mengganggu ketahanan pangan, namun tingkat risikonya sangat bergantung pada karakteristik geografis dan kesiapan adaptasi masing-masing daerah. Pernyataan ini mengemuka di tengah kekhawatiran musim kemarau panjang yang diprediksi berlangsung hingga awal 2027.
Jakarta, 12 Agustus 2026 — Fenomena iklim yang memicu kekeringan ekstrem ini tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Emilya menegaskan bahwa El Nino Godzilla sebaiknya tidak hanya dipahami sebagai peristiwa iklim ekstrem semata, melainkan juga sebagai alarm untuk mengevaluasi kapasitas adaptasi setiap wilayah.
"El Nino Godzilla sebaiknya tidak hanya dipahami sebagai fenomena iklim yang ekstrem, tetapi juga sebagai alarm untuk melihat bagaimana setiap wilayah memiliki tingkat risiko dan kapasitas adaptasi yang berbeda," ujarnya dalam keterangan resmi yang dikutip dari laman UGM, Rabu.
Menurut Emilya, situasi menjadi semakin kompleks karena El Nino datang bersamaan dengan IOD positif. Keduanya adalah fenomena berskala regional hingga global yang sama-sama memengaruhi distribusi curah hujan di Indonesia, tetapi mekanismenya berbeda.
El Nino berkaitan dengan perubahan suhu muka laut di Pasifik tropis, sementara IOD positif dipicu oleh perbedaan suhu antara bagian barat dan timur Samudra Hindia. "Ketika kedua fenomena tersebut berkembang secara bersamaan, maka efeknya dapat saling memperkuat dalam mengurangi curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia," jelasnya.
Tingkat Kekeringan yang Tidak Merata
Kombinasi kedua fenomena ini diprediksi bakal memperpanjang musim kemarau dan menunda awal musim hujan. Namun, Emilya mengingatkan bahwa tidak semua daerah akan merasakan dampak yang sama. Ada faktor-faktor lokal yang menentukan, seperti lokasi geografis, pola monsun, topografi, bentuk lahan, hingga kondisi hidrologis dan geologis.
Ia menekankan bahwa El Nino tidak otomatis membuat seluruh Indonesia mengalami kekeringan dengan intensitas serupa. Tingkat kerentanan suatu wilayah ditentukan oleh banyak hal, mulai dari pola curah hujan, jenis dan kondisi tanah, ketersediaan sumber air, penggunaan lahan, kepadatan penduduk, hingga seberapa besar ketergantungan masyarakat pada sektor pertanian.
Wilayah yang secara klimatologis memiliki perbedaan tegas antara musim hujan dan kemarau (tipe monsoonal) dinilai paling berisiko. Daerah-daerah tersebut meliputi sebagian Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sulawesi, serta wilayah selatan Indonesia.
"Sebaliknya, wilayah yang memiliki pola hujan atau klimatologi ekuatorial memiliki karakteristik berbeda dalam menghadapi periode kering," tuturnya.
Faktor geologi pun tak kalah penting. Wilayah dengan cadangan air tanah luas karena kondisi geologisnya cenderung lebih tangguh menghadapi kekeringan. Sebaliknya, daerah yang tersusun atas batuan gamping atau karst akan jauh lebih rentan.
"Wilayah monsoonal dan karst memiliki dampak terhadap ketersediaan air dan pertanian jika mengalami penambahan periode kering," tambahnya.
Pendekatan Berbasis Wilayah
Menghadapi ancaman ini, Emilya mendorong pemerintah untuk tidak berhenti pada sekadar peringatan bahwa Indonesia akan mengalami kekeringan. Pendekatan yang lebih komprehensif dan berbasis wilayah mutlak diperlukan.
Pemerintah perlu menjelaskan proses terjadinya kekeringan, wilayah mana yang paling rentan, kelompok masyarakat mana yang paling terdampak, serta sumber daya apa saja yang tersedia untuk mengurangi risiko.
"Kawasan perkotaan dan kawasan pertanian intensif, misalnya, memiliki kebutuhan air yang tinggi sehingga dapat menghadapi tekanan lebih besar ketika cadangan air menurun," ucapnya.
Ia juga menyoroti pentingnya langkah antisipasi jangka panjang. Pemerintah daerah diminta memperkuat infrastruktur penyimpanan air seperti waduk, kolam retensi, dan sistem pemanenan air hujan. Upaya ini harus dibarengi dengan perlindungan daerah tangkapan air secara berkelanjutan.
"Menghadapi El Nino bukan hanya bagaimana kita menghadapi kekeringan ketika sudah terjadi, tetapi bagaimana kita menggunakan informasi iklim untuk bertindak lebih awal," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Gadaikan BPKB Motor: Syarat Lengkap, Kriteria Kendaraan, dan Simulasi Plafon Pinjaman
Mensesneg Bangga Anggota Paskibraka Nasional 2026 dari Sekolah Rakyat, Sebut Bukti Kesetaraan Prestasi
Menjelang HUT ke-81 RI, Pedagang Kecil Soroti Korupsi, Jalan Rusak, dan Harga Sembako
Polisi Pastikan Rumah yang Didatangi Warga di Rawalumbu Sudah Tidak Dihuni MC yang Diduga Menistakan Agama