Bitcoin Jatuh ke Bawah US$64.000, Investor Menanti Data Inflasi AS

- Rabu, 12 Agustus 2026 | 13:00 WIB
Bitcoin Jatuh ke Bawah US$64.000, Investor Menanti Data Inflasi AS

PARADAPOS.COM - Tekanan jual kembali mendominasi pasar aset kripto. Bitcoin (BTC) tercatat tergelincir ke bawah level USD64.000, meninggalkan zona nyaman USD65.000 yang sempat dipertahankan pada perdagangan sebelumnya. Pelemahan ini terjadi di tengah akumulasi sentimen negatif, mulai dari ketegangan geopolitik di Selat Hormuz, lonjakan harga minyak mentah, hingga sikap wait and see pelaku pasar menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang dijadwalkan pada Rabu (12/8/2026).

Hari-hari terakhir memang menjadi ujian berat bagi pasar kripto. Setelah sempat menunjukkan stabilitas, pergerakan Bitcoin kini lebih banyak ditentukan oleh faktor eksternal yang berada di luar kendali pasar itu sendiri. Para trader tampak menahan diri untuk mengambil posisi besar sebelum ada kejelasan arah kebijakan moneter dari negeri Paman Sam.

Inflasi AS dan Ancaman Geopolitik Menjadi Bayang-Bayang

Dari sisi data makro, Consumer Price Index (CPI) AS diproyeksikan melandai tipis menjadi 3,4% secara tahunan (YoY), turun dari 3,5% pada bulan Juni. Angka ini menjadi krusial karena akan menentukan langkah The Fed selanjutnya. Jika sesuai ekspektasi, tren pendinginan inflasi yang sudah terlihat sejak Mei akan berlanjut, membuka peluang bagi pelonggaran kebijakan moneter.

Namun, pasar tidak hanya dihadapkan pada satu variabel. Dari Timur Tengah, Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz hingga 2029 kecuali AS mencabut blokade navalnya. Ancaman ini bukan sekadar retorika; Selat Hormuz adalah jalur vital bagi distribusi energi global, sehingga potensi gangguan pasokan langsung memicu kekhawatiran.

Eskalasi tersebut dengan cepat mentransmisikan dampaknya ke harga komoditas. Minyak mentah WTI kini berada di kisaran USD83,75 per barel dan berpotensi menguat menuju USD91,50 apabila situasi geopolitik semakin memanas. Kenaikan harga energi ini menjadi ironi di tengah harapan penurunan inflasi, karena berpotensi memicu tekanan harga baru di masa depan.

Kondisi ini menciptakan dilema bagi pasar finansial. Di satu sisi, investor haus akan sinyal dovish dari The Fed. Di sisi lain, harga minyak yang tinggi bisa menggagalkan narasi penurunan inflasi, membuat kebijakan suku bunga menjadi semakin tidak pasti.

"Pasar saat ini masih cenderung wait and see. Investor akan mencermati data inflasi AS karena hasilnya bisa menjadi katalis penting bagi pergerakan aset berisiko, termasuk Bitcoin," ujar Panji Yudha, Financial Expert Ajaib.

Tekanan tambahan datang dari ranah regulasi domestik AS. Voting Digital Asset Market Clarity Act (CLARITY Act) di Senat AS resmi ditunda hingga September 2026. Penundaan ini memupus harapan akan adanya kejelasan regulasi dalam waktu dekat, mendorong investor untuk kembali mengadopsi postur defensif.

Strategy Kaji Ulang Strategi Pendanaan

Di tengah volatilitas harga yang masih tinggi, perusahaan publik Strategy menunjukkan pergeseran taktik dalam pengelolaan kasnya. Setelah aksi jual 1.690 BTC pada pekan lalu, perusahaan justru bergerak di sisi lain dengan membeli kembali 1.152.020 saham preferen STRC. Selain itu, Strategy juga menghimpun dana segar sekitar USD653,1 juta melalui penjualan 6,59 juta saham MSTR.

Langkah korporasi ini berdampak langsung pada struktur permodalan perusahaan. Cadangan dolar AS Strategy meningkat menjadi sekitar USD4,65 miliar, memberikan bantalan likuiditas yang lebih tebal. Sementara itu, total kepemilikan Bitcoin Strategy masih kokoh di angka 840.447 BTC, dengan total biaya akumulasi mencapai sekitar USD63,36 miliar atau rata-rata USD75.385 per BTC.

Ke depan, perusahaan masih memiliki alokasi dana yang signifikan untuk maneuver pasar. Sekitar USD785,2 juta disiapkan untuk program buyback saham preferen, dan tambahan USD1 miliar dialokasikan untuk pembelian kembali saham MSTR. Strategi ini menunjukkan upaya perusahaan untuk menyeimbangkan portofolio di tengah kondisi pasar yang belum bersahabat.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar