SAR Gabungan Masih Cari Lima Penumpang KMP Putri Yasmin yang Hilang Usai Kebakaran di Selat Lombok

- Kamis, 13 Agustus 2026 | 05:50 WIB
SAR Gabungan Masih Cari Lima Penumpang KMP Putri Yasmin yang Hilang Usai Kebakaran di Selat Lombok

PARADAPOS.COM - Hingga Kamis, 13 Agustus 2026, tim SAR gabungan masih memburu lima penumpang kapal motor KMP Putri Yasmin yang belum ditemukan pasca-kebakaran di Selat Lombok. Kelima nama itu tercatat dalam manifest, namun nasib mereka tak jelas: apakah telah dievakuasi ke Pelabuhan Lembar, Padangbai, atau justru masih terkatung-katung di tengah laut. Kepala Basarnas Lombok, Muhammad Haryadi, menyebut data di Posko SAR Lembar masih menunjukkan adanya lima orang yang hilang, sementara puluhan lainnya selamat namun tercatat anomali jumlah penumpang di lapangan.

Peristiwa yang mengguncang jalur pelayaran sibuk antara Lombok dan Bali ini menyisakan banyak pertanyaan. Bukan hanya soal kelima korban yang belum ditemukan, tetapi juga kekacauan data manifest yang membuat proses evakuasi dan pencarian menjadi lebih rumit dari yang dibayangkan. Di tengah duka dan kekhawatiran keluarga, petugas di lapangan bekerja ekstra keras menyisiri perairan.

Lima Nama yang Masih Dicari

Berdasarkan data manifest yang dirilis Posko SAR, kelima penumpang yang belum diketahui keberadaannya adalah Yasir Arafat, Selvina Rambu Mayi, I Made Sutarjana, Slamet Yulianto, dan I Ratu Agung Ayu Sekar. Haryadi mengungkapkan bahwa petugas sebenarnya telah berupaya melakukan konfirmasi silang ke dua pelabuhan tujuan, Lembar dan Padangbai. "Sesuai data manifest penumpang kapal maka ada 5 orang yang belum ditemukan dan belum diketahui keberadaannya," ujarnya saat memberikan keterangan di Lembar.

Namun, hingga pagi tadi, konfirmasi tersebut belum membuahkan hasil yang jelas. Kelima nama itu seperti hilang ditelan riuh proses evakuasi yang melibatkan puluhan instansi. Padahal, dari informasi yang dihimpun, seluruh warga negara asing (WNA) yang ikut menjadi korban dilaporkan selamat. Mereka adalah Scott Jeremy, Samuel Albertinus Dully, Samuelle Sulla, Mariska Hinke, Simon Rudolf Albert, Carlos Soares Acosta, dan Alejandra Marerro.

Hanya saja, ada satu nama WNA Australia, Aeleya Bee Tepaea Such, yang tercantum di manifest namun tidak muncul dalam daftar penumpang WNA yang selamat. Hal ini semakin menambah daftar panjang ketidakcocokan data di lapangan.

Kekacauan Data Manifest

Persoalan klasik dalam pelayaran rakyat kembali terulang: data manifest yang tidak akurat. Haryadi menegaskan bahwa data resmi mencatat 236 orang di atas kapal saat insiden terjadi. Rinciannya, 212 penumpang, 17 anak buah kapal (ABK), 3 cleaning service, 1 sekuriti, 1 pengganti koki, dan 2 kru kantin. Namun, realitas di lapangan setelah evakuasi menunjukkan jumlah korban justru melebihi catatan resmi tersebut.

"Ternyata banyak sopir truk yang membawa penumpang atau pekerja dan tidak terdata secara resmi," ungkapnya. Fenomena "penumpang gelap" ini menjadi biang keladi selisih data yang cukup signifikan. Hasil penyelidikan awal bahkan menemukan ketidaksesuaian jumlah penumpang mencapai 56 orang antara manifest dan fakta di lapangan. Praktik pendataan yang longgar dari para sopir truk ini menjadi sorotan utama.

Selain membawa manusia, kapal nahas itu juga mengangkut puluhan kendaraan. Total ada 36 kendaraan roda dua dan 19 kendaraan roda empat yang ikut terangkut dalam trayek penyebrangan tersebut. Kepadatan muatan semacam ini kerap kali menyulitkan proses evakuasi saat terjadi keadaan darurat.

Upaya Pencarian yang Terus Berlanjut

Meski api telah padam, kerja keras tim SAR gabungan belum usai. Sejak pagi, personel dikerahkan untuk terus menyisiri lokasi kebakaran dan jalur kemungkinan hanyutnya korban. "Hari ini sejak pagi, petugas masih terus menyisiri lokasi kebakaran dengan seluruh personel dan peralatan yang ada. Namun belum ditemukan ada korban lain di tengah laut," tutur Haryadi. Pernyataan ini setidaknya memberi sedikit harapan, sekaligus menggambarkan betapa luasnya area pencarian yang harus diawasi.

Di tengah proses pencarian yang melelahkan, pemerintah mengimbau masyarakat dan keluarga korban untuk tetap tenang dan menunggu informasi resmi. Pendampingan bagi keluarga terdampak juga terus dilakukan. Komitmen untuk menemukan kelima korban yang hilang menjadi prioritas utama, dan proses evakuasi serta pencarian akan terus berlanjut hingga titik terakhir. Publik hanya bisa berharap, misteri di balik lima nama itu segera menemukan jawaban.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler