PARADAPOS.COM - Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu pagi, 15 Agustus 2026, telah menewaskan sedikitnya 38 orang. Gubernur NTT, Melki Laka Lena, melaporkan masih ada warga yang diduga terjebak di reruntuhan bangunan, sementara tim gabungan Basarnas, TNI, dan Polri terus berupaya melakukan evakuasi. Pusat gempa berada di laut dengan kedalaman 15 kilometer, dan dampaknya dirasakan hampir di seluruh wilayah Flores, menyebabkan ribuan warga mengungsi.
Laporan yang masuk hingga siang hari menunjukkan skala kerusakan yang signifikan. Wilayah Manggarai dan Manggarai Timur menjadi daerah dengan jumlah korban jiwa terbanyak, masing-masing mencatatkan 14 orang meninggal dunia. Selain korban jiwa, puluhan lainnya mengalami luka-luka, dan proses pendataan masih terus berjalan karena akses ke sejumlah lokasi terdampak sempat terputus akibat longsor.
Operasi Pencarian dan Pertolongan Korban
Di tengah duka dan kepanikan, prioritas utama pemerintah saat ini adalah menemukan dan mengevakuasi warga yang masih diduga tertimbun. Gubernur Melki Laka Lena mengonfirmasi bahwa ada beberapa titik lokasi yang menjadi fokus pencarian, terutama di wilayah Manggarai. Tim gabungan dari Basarnas, TNI, dan Polri telah dikerahkan sejak pagi untuk menyisir puing-puing bangunan yang runtuh.
"Masih ada beberapa masyarakat yang disinyalir membutuhkan pertolongan. Ada yang terjebak di beberapa bangunan," ujar Melki dalam keterangannya.
Ia menambahkan, koordinasi lintas instansi telah berjalan cepat. "Ini menjadi sasaran utama tim penanganan bencana. Kepala Basarnas bersama unsur TNI dan Polri segera mengerahkan personel untuk mengevakuasi masyarakat yang terdampak," jelasnya.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, membenarkan adanya laporan warga yang belum ditemukan. Ia memperkirakan jumlah mereka kurang dari sepuluh orang, namun angka ini bisa berubah seiring berjalannya proses pencarian.
"Tadi dilaporkan oleh Bapak Gubernur NTT itu ada beberapa, tapi di bawah sepuluh begitu. Tapi nanti tanya langsung Pak Gubernur karena saya takut salah," kata Suharyanto saat dihubungi pada hari yang sama.
Data Korban dan Kerusakan Terkini
Berdasarkan data yang dihimpun BNPB hingga pukul 15.00 WIB, jumlah korban jiwa tercatat 38 orang. Rinciannya, 17 orang meninggal di Manggarai Timur, 16 orang di Manggarai, 3 orang di Sikka, serta masing-masing satu orang di Ende dan Manggarai Barat. Selain itu, terdapat dua orang luka berat dan sebelas lainnya luka ringan.
Proses identifikasi korban masih berlangsung. Dari 16 korban di Manggarai, baru enam yang berhasil diidentifikasi, yakni Stefanus, Fabian, Neno, Resni, Manus, dan Yul. Sementara itu, identitas 17 korban di Manggarai Timur dan satu korban dari Manggarai Barat masih dalam proses pendataan oleh tim medis dan kepolisian.
Getaran kuat juga memicu kepanikan massal. Sekitar 2.000 warga dilaporkan memilih mengungsi secara mandiri ke tempat yang lebih aman, menjauhi bangunan yang rapuh. Gubernur Melki menegaskan bahwa pendataan terus dilakukan karena hampir seluruh wilayah Flores merasakan dampak dengan tingkat kerusakan yang bervariasi.
"Proses pendataan masih berlangsung karena hampir seluruh wilayah Flores terdampak dengan tingkat kerusakan yang berbeda-beda. Pemerintah bersama TNI, Polri, dan unsur terkait terus bergerak memastikan penanganan korban berjalan optimal," tegas Melki.
Tantangan di Lapangan dan Status Bencana
Selain fokus pada evakuasi korban, pemerintah juga menghadapi kendala logistik. Beberapa ruas jalan dilaporkan tertutup material longsor, sehingga memperlambat pergerakan alat berat dan personel bantuan. Kementerian Pekerjaan Umum telah mengerahkan alat berat untuk membersihkan material, namun BNPB belum dapat memastikan seluruh jalur akses telah berfungsi normal.
"Jalan-jalan longsor itu oleh Kementerian PU sudah ditangani. Apakah selesai atau belum, nanti setelah saya sampai di sana," ungkap Suharyanto.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi NTT tengah memproses penetapan status Bencana Daerah Tingkat Provinsi untuk mempercepat penyaluran bantuan dan memobilisasi sumber daya. Adapun penetapan status bencana nasional sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah pusat, yang akan mempertimbangkan skala dampak dan kebutuhan penanganan lebih lanjut.
Artikel Terkait
Umat Islam Dianjurkan Membaca Doa Keselamatan Bangsa Menjelang HUT ke-81 RI
Jakarta - Ini Bacaan Doa Penenang Hati dan Pikiran Lengkap dengan Arab, Latin, dan Artinya
Aldila Sutjiadi/Erin Routliffe Kalahkan Pasangan Amerika-Hongaria, Lolos ke 16 Besar Cincinnati Open
Polda Metro Siapkan 16 Titik Parkir di Sekitar Monas untuk Antisipasi Kepadatan HUT RI ke-81