PARADAPOS.COM - Trio jazz elektronik asal Jakarta, Littlefingers, sukses menghadirkan atmosfer syahdu di hari pertama Gaia Music Festival 2026. Chika Olivia (keys), Tjdika (bass), dan David Halim (drums) tampil di panggung Amphitheatre, The Gaia Hotel, Bandung, pada Jumat malam, 14 Agustus 2026. Dalam penampilan yang berlangsung sekitar 60 menit tersebut, grup peraih AMI Awards 2025 untuk kategori Artis Jazz Kontemporer/Alternatif Terbaik ini membawakan 10 lagu instrumental, mulai dari "Under The Wire" hingga "Haselig", di hadapan penonton yang memadati area amphitheatre.
Dari Kamar Kos ke Panggung Internasional
Perjalanan Littlefingers menembus panggung internasional tidak terjadi secara instan. Salah satu titik balik penting dalam karier mereka adalah keikutsertaan di AXEAN Festival di Singapura pada 2022. Dari festival itulah, rantai kesempatan mulai terbuka satu per satu.
David Halim menceritakan bahwa keikutsertaan mereka di AXEAN Festival menjadi gerbang menuju berbagai panggung di kawasan Asia. Setelah Singapura, mereka mendapat undangan tampil di Kuala Lumpur, lalu Hanoi, Korea Selatan, hingga Taiwan. "Waktu itu kita Singapore, tahun ini (2026) kita main lagi (di AXEAN). Jadi dari AXEAN, jadi itu kayak chain of event aja sih. Jadi kayak waktu itu kita main AXEAN Singapore, sekalian kita main KL (Kuala Lumpur). Terus dari situ kita dapat Monsoon, Monsoon Festival di Hanoi," tuturnya.
"Jadi kayak rantai terus gitu," lanjutnya menggambarkan bagaimana satu kesempatan mengarahkan mereka ke kesempatan berikutnya.
Dampak Nyata bagi Pendengar Digital
Perluasan jangkauan ini ternyata membawa dampak yang cukup signifikan, terutama dari sisi jumlah pendengar di platform digital. David mengakui bahwa komposisi pendengar mereka kini mulai berimbang antara domestik dan internasional.
"Impact banget, banget, banget. Kayak pas awalnya kan kita tuh waktu mulai goals-nya adalah ingin memperkenalkan musik jazz yang mungkin masih asing gitu di orang-orang Indonesia ya. Dan mungkin musik instrumental secara general lah gitu," ujarnya.
"Jadi memang secara promosi juga kita berusaha untuk targetin yang orang Indonesia dulu gitu. Karena kan waktu dulu ya kita nggak muluk-muluk lah ya, kita pengennya main di festival gede Indonesia gitu. Eh ternyata seiring berjalannya waktu kok malah di luar gitu dapetnya gitu. Ya maksudnya puji Tuhan dapet kesempatannya begitu," ungkapnya antusias.
Lebih lanjut, David menjelaskan bahwa pergeseran angka pendengar digital mulai terasa setelah perilisan EP pertama dan kedua. "Tadinya kan kita Indonesia sama luar negeri itu jomplang banget tuh numbers-nya. Pas sesudah EP yang pertama dan kedua itu jadi 50-50 sekarang," terangnya.
Awal Mula yang Sederhana
Di balik pencapaian tersebut, Chika Olivia mengenang awal mula Littlefingers yang terbilang sederhana. Mereka biasa berlatih di kamar kos secara rutin setiap pekan, tanpa target muluk-muluk.
"Sesimpel pengen manggung aja sih, maksudnya kayak kita selama ini bikin di kosan waktu itu, kayak kita workshop tiap minggu ya seminggu sekali kita ketemu cuma kayak ya udah itu kayak di kamar doang gitu," tutur Chika.
"Kayak kita pengen bawa keluar gitu pengen kasih pendengar pengen denger kayak apresiasi orang tuh kayak orang suka nggak sih gitu dengan musik seperti ini gitu. Ternyata kayak ya responnya bagus banget gitu makanya kayak pengen terus aja gitu kayak diperkenalkan gitu," lanjutnya.
Meski kini sudah malang melintang di berbagai panggung internasional, David menegaskan bahwa mereka tetap menganggap semua pencapaian ini sebagai bagian dari proses belajar. "Iya benar. Dari awalnya kan kita bikin karena emang suka sama musiknya kan. Dan kita juga nggak nyangka bisa maksudnya tiba-tiba mainnya di luar gitu," ujarnya.
"Dan meskipun mungkin kita belum menghasilkan gitu tapi kita lumayan senang sih jalaninnya dan itu kayak jadi bagian dari proses semuanya sampai segini," ungkapnya.
Harapan untuk Skena Musik Indonesia
Pengalaman menembus pasar internasional membuat Littlefingers memiliki pandangan tersendiri tentang perkembangan skena musik di Tanah Air. Chika berharap ekosistem musik Indonesia semakin ramai dengan munculnya musisi-musisi baru yang memiliki karakter kuat.
"Kalau musik sih yang musik Indonesia udah pasti pengen yang ya semoga ada terus yang baru-baru terus yang lama-lama juga bisa terus berkarya gitu jadi kayak kolamnya makin ramai gitu," harapnya.
David menambahkan bahwa audiens Indonesia saat ini sudah jauh lebih terbuka terhadap musik instrumental dibandingkan beberapa tahun lalu. Menurutnya, hal ini menjadi modal berharga bagi pertumbuhan ekosistem musik nasional. "Harapannya sih sebenernya kalau dari gue kayak maksudnya secara audiens Indonesia kan udah tumbuh banget ya sekarang maksudnya udah terima kasih atas pembuka jalannya Ali Radio. Jadi musik instrumental semakin lebih banyak didengar lah ya gitu," ungkapnya.
"Tapi harapannya selain musik instrumental lebih mudah dikenal tapi juga Indonesia semakin punya infrastrukturnya untuk musisi bisa tur," lanjutnya.
Sementara itu, Tjdika berharap perkembangan positif ini turut diiringi dengan hadirnya wadah yang lebih luas bagi para musisi untuk memperkenalkan karya mereka. "Untuk Indonesia semoga makin banyak musisi yang muncul dengan warna yang unik terus pendengar-pendengarnya juga semakin terbuka untuk maksudnya apresiasinya bagus untuk kita juga saling support dan ada wadah yang bisa mendukung mereka semua juga sih jadi saling semuanya," tutup sang bassis.
Editor: Yuli Astuti
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Kapolda Sumsel Pimpin Apel Kehormatan dan Renungan Suci di TMP Siguntang Palembang
Umat Islam Dianjurkan Membaca Doa Keselamatan Bangsa Menjelang HUT ke-81 RI
Jakarta - Ini Bacaan Doa Penenang Hati dan Pikiran Lengkap dengan Arab, Latin, dan Artinya
Aldila Sutjiadi/Erin Routliffe Kalahkan Pasangan Amerika-Hongaria, Lolos ke 16 Besar Cincinnati Open