Klarifikasi Pidato Prabowo: Susanah yang Disebut Pengupas Bawang Berupah Rp700 Ribu per Kg Ternyata Penjahit Kain Majun Berpenghasilan Rp14 Ribu per Hari

- Minggu, 16 Agustus 2026 | 13:01 WIB
Klarifikasi Pidato Prabowo: Susanah yang Disebut Pengupas Bawang Berupah Rp700 Ribu per Kg Ternyata Penjahit Kain Majun Berpenghasilan Rp14 Ribu per Hari

PARADAPOS.COM - Nama Susanah (38), seorang ibu rumah tangga di Kampung Ciuncal, Desa Situsari, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, mendadak menjadi sorotan publik setelah namanya disebut dalam pidato Presiden Prabowo Subianto. Dalam pidato tersebut, Susanah digambarkan sebagai buruh pengupas bawang dengan upah Rp700 ribu per kilogram. Namun, penelusuran langsung ke lokasi dan keterangan keluarganya pada Minggu (16/8/2026) mengungkap fakta yang berbeda. Susanah sehari-hari bekerja sebagai penjahit kain majun dengan upah Rp700 per kilogram, dan dalam sehari ia hanya membawa pulang sekitar Rp14 ribu. Klarifikasi ini pun memicu pertanyaan besar di media sosial mengenai validitas data yang disampaikan dalam pidato kenegaraan.

Perbedaan mencolok antara pernyataan resmi dan realitas di lapangan ini menjadi sorotan. Rumah Susanah yang sederhana di Kampung Ciuncal pun ramai didatangi awak media. Di halaman rumahnya yang tidak terlalu luas, tampak tumpukan kain majun dan beberapa mesin jahit. Suasana kerja terlihat jelas di sana, dengan sejumlah anggota keluarga duduk berkumpul, masing-masing mengerjakan bagiannya dalam proses produksi kain majun. Pemandangan ini kontras dengan gambaran pekerjaan mengupas bawang yang sempat disampaikan Presiden.

Keseharian yang Jauh dari Angka Viral

Kakak ipar Susanah, Wina, menuturkan bahwa kondisi ekonomi keluarga mereka memang berada dalam situasi yang sulit. Ia menjelaskan bahwa suami Susanah bekerja sebagai kuli bangunan dengan penghasilan yang tidak menentu. "Kalau setahu saya ya, yang namanya ekonomi dia kurang ya. Karena memang kan apalagi suaminya kan namanya kuli bangunan, kalau ada pekerjaan dia bekerja. Kalau tidak ya tidak bekerja," kata Wina saat ditemui di kediaman Susanah.

Pekerjaan menjahit kain majun ini dijalani Susanah sejak pagi hingga siang hari. Aktivitas ini bukan hanya dilakukan sendiri, melainkan melibatkan sejumlah anggota keluarganya. Wina menambahkan, hampir semua keluarga di lingkungan rumahnya memiliki mata pencaharian yang sama. "Di sini dari ujung sana keluarga semua. Ya semuanya sama sih di menjahit gini. Kalau saya sendiri ya bagian menyusunnya," ujarnya.

Untuk menambah penghasilan yang pas-pasan, Susanah juga bekerja di dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai pencuci ompreng. Namun, Wina mengaku belum mengetahui secara pasti berapa upah yang diterima Susanah dari pekerjaan tambahan tersebut. "Ke MBG-nya setiap hari pakai motor berangkatnya dari sini. Bareng berdua sama saudara juga," katanya. Beban ekonomi keluarga semakin berat karena Susanah dan suaminya masih harus menanggung biaya sekolah dua anak mereka.

Kontroversi Data dalam Pidato Kenegaraan

Kisah yang disampaikan Presiden Prabowo dalam pidatonya sontak menjadi perbincangan hangat. Publik ramai mempertanyakan kewajaran nominal Rp700 ribu per kilogram untuk pekerjaan mengupas bawang, sebuah angka yang dinilai tidak lazim jika dibandingkan dengan harga bawang di pasaran maupun standar upah buruh harian pada umumnya. Setelah klarifikasi dari keluarga Susanah muncul, persoalan ini semakin menjadi perhatian dan memunculkan spekulasi di tengah masyarakat.

Perbedaan informasi yang signifikan ini membuka ruang pertanyaan mengenai sumber data yang digunakan dalam penyusunan pidato Presiden. Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi yang secara spesifik mengklarifikasi asal-usul angka Rp700 ribu per kilogram tersebut. Oleh karena itu, angka tersebut perlu ditempatkan sebagai bagian dari pernyataan Presiden yang belum terkonfirmasi kebenarannya berdasarkan kondisi riil yang dialami Susanah menurut keterangan keluarganya.

Di media sosial, reaksi warganet pun beragam. Sebagian besar mempertanyakan logika nominal upah tersebut, sementara yang lain menekankan pentingnya verifikasi data sebelum kisah seorang warga disampaikan dalam forum kenegaraan. Sementara itu, Istana sebelumnya pernah menegaskan bahwa Presiden Prabowo mendapatkan berbagai informasi mengenai persoalan masyarakat melalui pembahasan internal pemerintah. Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Kebijakan, Dirgayuza Setiawan, mengatakan anggapan bahwa Prabowo tidak memahami persoalan rakyat di lapangan adalah tidak benar. Namun, pernyataan tersebut bersifat umum dan bukan merupakan klarifikasi khusus untuk kasus Susanah.

Di tengah hiruk-pikuk pemberitaan, kisah Susanah justru menggambarkan realitas pahit pekerja informal yang masih harus berjuang keras. Penghasilan Rp14 ribu per hari dari menjahit kain majun dan kerja sampingan mencuci ompreng adalah cara ia bertahan hidup. Jauh dari angka fantastis yang sempat melambungkan namanya, Susanah tetap menjalani rutinitasnya dengan tenang di rumah sederhananya di Kampung Ciuncal.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler