PARADAPOS.COM - Gempa bumi tektonik magnitudo 5,8 kembali mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Senin (17/8) pukul 07:46 WIB atau 08:46 WITA. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan episenter gempa berada di 40 kilometer Timur Laut Mbay-Nagekeo, tepatnya di koordinat 8.38 Lintang Selatan dan 121.52 Bujur Timur. Guncangan dirasakan cukup keras hingga ke Manggarai, Maumere, dan Ende, dan dipastikan tidak berpotensi tsunami.
Peristiwa ini terjadi di tengah situasi yang belum sepenuhnya pulih. Hanya dua hari sebelumnya, Sabtu (15/8), wilayah yang sama juga diguncang gempa berkekuatan signifikan. Alhasil, peringatan HUT Kemerdekaan ke-81 RI yang seharusnya menjadi momen gegap gempita, kali ini terasa hambar bagi warga di sejumlah kabupaten di Pulau Flores. Rasa khawatir dan waspada masih menyelimuti, terutama bagi mereka yang tengah bertahan di lokasi pengungsian.
Berdasarkan data resmi BMKG, titik pusat gempa kali ini berada di lokasi yang serupa dengan gempa sebelumnya. Hal ini tentu menambah daftar panjang guncangan yang harus dirasakan masyarakat setempat dalam beberapa hari terakhir. Meski demikian, hingga saat ini belum ada laporan resmi mengenai kerusakan baru yang lebih parah, namun warga di lapangan mengaku ketakutan.
Guncangan Berulang dan Ketakutan Warga
Di Nagekeo, situasi pagi itu terasa mencekam. Warga mengaku guncangan yang terjadi bukan hanya sekali, melainkan berulang kali dalam rentang waktu singkat. Intensitasnya pun disebut lebih keras dibandingkan gempa susulan yang terjadi sebelumnya. Hal ini membuat warga yang masih bertahan di pengungsian kian cemas dan tidak bisa beraktivitas normal.
Maria, seorang warga Wolowae, Nagekeo, menuturkan bahwa getaran terasa sangat kuat dan membuatnya tidak berdaya. Ia menyebut guncangan terjadi berulang kali dalam selang waktu sekitar sepuluh menit. "Ini gempa lebih keras dari yang gempa- gempa susulan kemarin. Kami tidak sanggup. Ini 10 menit sekali terasa gempanya berulang," ujarnya.
Para pengungsi di Wolowae dan sekitarnya masih bertahan di tempat-tempat yang mereka anggap aman. Mereka menunggu uluran tangan dari pemerintah, terutama untuk kebutuhan makanan dan obat-obatan. Maria mengakui bahwa bantuan yang datang masih sangat terbatas dan distribusinya terkendala akses jalan menuju lokasi bencana yang rusak. Warga berharap ada terobosan dari pemerintah untuk mempercepat pengiriman bantuan, khususnya ke daerah Pantai Utara Ende dan Wolowae.
Komitmen BMKG dan Imbauan Keselamatan
Menanggapi situasi ini, BMKG memastikan akan terus memantau perkembangan aktivitas gempa bumi susulan. Mereka berkomitmen untuk menyampaikan informasi terbaru secara berkala kepada seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat luas. Langkah ini diambil agar masyarakat tetap mendapatkan informasi yang akurat dan dapat dipercaya.
Lebih lanjut, BMKG mengeluarkan imbauan tegas kepada masyarakat agar tidak mudah percaya pada isu-isu yang tidak jelas kebenarannya. Masyarakat juga diminta untuk menghindari bangunan yang sudah retak atau rusak akibat guncangan gempa sebelumnya. Kewaspadaan dan ketenangan menjadi kunci utama dalam menghadapi situasi tanggap darurat seperti ini.
Artikel Terkait
KPK Pastikan Status Mahasiswa Baru Unsoed Tak Terdampak Kasus Dugaan Pemerasan
KJRI Houston Putar Perdana Film Animasi Jumbo untuk Rayakan HUT ke-81 RI
Polisi Tembus Tujuh Titik Terisolir di NTT Usai Gempa, Distribusi Bantuan Terhambat Medan Ekstrem
Manchester United Sepakati Transfer Carlos Baleba dari Brighton Senilai Rp1,5 Triliun