PARADAPOS.COM - Penampilan Ratna Sari Dewi Soekarno, istri keenam Presiden pertama RI Soekarno, pada perayaan HUT ke-81 Republik Indonesia di Jakarta baru-baru ini kembali menyita perhatian publik. Perempuan kelahiran Tokyo, 6 Februari 1940, yang dikenal sebagai sosok pekerja keras dan pendamping setia Bung Karno dalam berbagai kunjungan diplomasi itu hadir dengan balutan kebaya merah putih dan selendang batik. Di usianya yang ke-85, kehadirannya tak hanya menjadi nostalgia masa lalu, tetapi juga mengingatkan kembali jejak perjuangan dan kontribusinya dalam mempererat hubungan bilateral Indonesia-Jepang. Penampilannya kali ini seolah membawa ingatan kolektif pada era 1960-an, ketika ia kerap mendampingi Soekarno dalam lawatan kenegaraan. Gaya busananya yang khas, memadukan kebaya dan batik, memang sudah menjadi ciri yang melekat sejak dulu. Namun di balik penampilan elegannya, tersimpan kisah panjang tentang perjalanan hidup seorang perempuan yang harus berjuang dari bawah sebelum akhirnya berada di pusaran kekuasaan. Dari Panggung Seni Hingga Pusaran Kekuasaan Jauh sebelum dikenal sebagai Ibu Negara, kehidupan Ratna Sari Dewi tidaklah mudah. Ia menghabiskan masa remajanya dengan membagi waktu antara belajar dan bekerja untuk membantu perekonomian keluarga. Ketertarikannya pada dunia seni membawanya mendalami tarian klasik Jepang, bernyanyi, hingga bermain drama di Sishere Hayakawa Art Production. Tidak berhenti di situ, ia juga giat belajar bahasa Inggris untuk memperluas wawasan. Pada usia 19 tahun, takdir membawanya berkenalan dengan Soekarno di Hotel Imperial, Tokyo, melalui seorang pebisnis bernama Masao Kubo pada 16 Juni 1959. Perkenalan itu awalnya bermotif bisnis, namun kemudian berkembang menjadi hubungan yang mengubah hidupnya. Sebelum menikah, ia sempat bekerja sebagai pramuniaga asuransi dan bahkan pernah menjadi Geisha di kelab malam elit Akasaka's Copacabana—pengalaman yang membentuknya menjadi pribadi yang tangguh dan luwes dalam bergaul. Kontribusi Nyata di Panggung Diplomasi Peran Ratna Sari tidak berhenti sebagai pendamping Soekarno. Ia justru aktif memberikan kontribusi nyata dalam hubungan diplomasi Indonesia-Jepang. Kecerdasannya dalam bernegosiasi dan kemampuannya berbahasa asing menjadikannya aset berharga bagi presiden. Ia kerap mendampingi Bung Karno dalam pertemuan dengan duta besar negara asing, seperti Italia dan Belanda. Keahliannya dalam bernegosiasi juga membawa dampak konkret bagi karya Soekarno. Melalui lobi-lobinya, ia berhasil meyakinkan pihak Jepang untuk mencetak buku kumpulan karya presiden di sana. Hal ini merupakan pencapaian yang signifikan, mengingat publikasi karya seni Bung Karno saat itu bukanlah perkara mudah. "Ratna Sari dan Soekarno adalah pasangan yang saling melengkapi. Bung Karno yang gemar melukis, ditimpali oleh Ratna yang mencintai seni. Kesamaan visi itulah yang membawa mereka pada prestasi luar biasa," tutur sebuah sumber yang dekat dengan keluarga. Pada tahun 1964, pengaruhnya semakin menguat ketika ia terpilih sebagai Ketua Kehormatan Lembaga Persahabatan Indonesia-Jepang. Ia juga mendirikan komunitas Nadeshiko, sebuah wadah bagi wanita Jepang yang menikah dengan orang Indonesia. Langkah ini menunjukkan bahwa ia tidak hanya berperan di istana, tetapi juga membangun jembatan sosial antar kedua bangsa. Keberanian Menyuarakan Kritik Sepeninggal Soekarno pada tahun 1970, Ratna Sari menunjukkan sisi lain dari keberaniannya. Ia menerbitkan sembilan surat yang ditujukan kepada Presiden Soeharto, yang sebelumnya telah dimuat oleh media Belanda, Vrij Nederland, pada 16 Desember 1970. Surat-surat tersebut berisi kritik tajam terhadap pemerintahan Orde Baru. Karena isinya yang dianggap sensitif, surat-surat itu gagal terbit di Indonesia pada masa itu. Barulah setelah era reformasi bergulir pada tahun 1998, surat-surat tersebut berhasil diterbitkan dengan judul "Mencekik dengan Kain Sutera, Willem Oltmans en Dewi Sukarno". Publikasi ini menjadi bukti bahwa ia bukan sekadar ratu kecantikan di istana, melainkan juga seorang pemikir yang kritis terhadap kondisi bangsanya. Dari Istana ke Dunia Bisnis Setelah melalui berbagai dinamika politik, Ratna Sari memutuskan untuk berpindah ke sejumlah negara di Eropa. Namun, pada tahun 2008, ia akhirnya memilih untuk kembali ke Jepang. Di sana, ia memulai babak baru sebagai seorang pebisnis yang aktif di bidang fesyen, perhiasan, dan kosmetik. Tak jarang, ia juga tampil sebagai juri di acara televisi Jepang. Kiprahnya yang panjang ini menunjukkan bahwa Ratna Sari Dewi adalah sosok yang adaptif dan mandiri. Ia berhasil melewati berbagai era, dari masa kejayaan Orde Lama, tekanan Orde Baru, hingga menjadi seorang pengusaha di negeri asalnya. Kisahnya adalah bukti bahwa seorang perempuan bisa memiliki banyak peran, tidak hanya sebagai istri dan ibu, tetapi juga sebagai diplomat, kritikus, dan pebisnis. (Yaumil Tianri Rahmi)
Artikel Terkait
KPK Pastikan Status Mahasiswa Baru Unsoed Tak Terdampak Kasus Dugaan Pemerasan
KJRI Houston Putar Perdana Film Animasi Jumbo untuk Rayakan HUT ke-81 RI
Polisi Tembus Tujuh Titik Terisolir di NTT Usai Gempa, Distribusi Bantuan Terhambat Medan Ekstrem
Manchester United Sepakati Transfer Carlos Baleba dari Brighton Senilai Rp1,5 Triliun