Harga Minyak Melonjak 2,5 Persen di Tengah Ketegangan AS-Iran soal Selat Hormuz

- Selasa, 18 Agustus 2026 | 01:25 WIB
Harga Minyak Melonjak 2,5 Persen di Tengah Ketegangan AS-Iran soal Selat Hormuz

PARADAPOS.COM - Harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari dua persen pada perdagangan Senin (17/8/2026) waktu setempat, didorong oleh meningkatnya kekhawatiran gangguan pasokan di tengah ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Ketegangan ini berpusat pada klaim kendali atas Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi titik vital perdagangan energi global. Presiden AS Donald Trump kembali menegaskan klaim Washington atas selat tersebut dan mengeluarkan ancaman militer terhadap Oman, yang semakin memanaskan premi risiko di pasar komoditas.

Lonjakan Harga di Tengah Kebuntuan Diplomasi

Mengutip data pasar, minyak mentah Brent berjangka untuk pengiriman Oktober—yang menjadi patokan harga global—naik 2,5 persen menjadi USD90,68 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Oktober menguat 2,7 persen ke level USD83,64 per barel. Angka penutupan perdagangan bahkan menunjukkan Brent berakhir di USD90,87 per barel dan WTI ditutup pada USD84,50 per barel. Kinerja ini melanjutkan tren penguatan yang sudah terlihat pada pekan sebelumnya. Brent tercatat naik hampir enam persen, sementara WTI menguat lebih dari 5,5 persen. Pasar tampaknya sedang merespons ketidakpastian yang terus berlanjut di kawasan Teluk, di mana setiap perkembangan politik kecil langsung tercermin pada fluktuasi harga.

Ketegangan AS-Iran Menekan Pasar

Kenaikan harga terjadi di tengah kebuntuan upaya diplomasi antara AS dan Iran. Nota kesepahaman yang ditandatangani Washington dan Teheran pada pertengahan Juni resmi berakhir pada Senin, setelah sebelumnya mengalami keretakan pada Juli. Trump secara tegas menyatakan tidak berniat memperpanjang kesepakatan tersebut, sebuah sikap yang menambah ketidakpastian terhadap prospek pembukaan kembali Selat Hormuz. Trump pada Senin kembali menyatakan bahwa AS memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz. Di sisi lain, Teheran juga mengklaim kendali atas jalur tersebut dan menuntut sejumlah persyaratan dipenuhi sebelum selat dibuka kembali. Pernyataan-pernyataan yang saling bertentangan ini menciptakan suasana mencekam di pasar. “Kami mengendalikannya dengan blokade,” kata Trump, merujuk pada blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Trump sebelumnya juga sempat menyatakan akan mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah AS. Ketika kembali ditanya mengenai pernyataan tersebut, ia menyatakan mendukung gagasan itu. “Kami mengeluarkan jutaan barel minyak setiap minggu,” tambah dia.

Lalu Lintas Kapal di Hormuz Menurun

Menariknya, klaim mengenai lalu lintas minyak melalui Selat Hormuz berbanding terbalik dengan data pergerakan kapal yang ada. Data dari Kpler menunjukkan hanya tiga kapal yang terkonfirmasi melintasi selat tersebut pada Minggu. Secara keseluruhan, jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz pada pekan lalu turun 19,5 persen menjadi 95 kapal. Sebelum konflik berlangsung, lebih dari 130 kapal tercatat melintasi jalur tersebut setiap hari. Laporan dari Reuters juga mengonfirmasi bahwa aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mengalami penurunan tajam akibat konflik dan ketidakpastian keamanan yang melanda kawasan tersebut. Di tengah situasi ini, Iran berupaya menyusun kerangka pengelolaan Selat Hormuz bersama Oman. Oman sendiri selama ini terlibat aktif dalam upaya diplomasi antara Washington dan Teheran, menjadikannya aktor kunci dalam dinamika politik kawasan. Pada akhir pekan, Menteri Luar Negeri Iran kembali menegaskan posisi Teheran yang menyatakan tidak terlibat dalam pembicaraan langsung dengan AS. Washington, di sisi lain, memperingatkan akan meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran. Fox News pada Senin mengutip pernyataan Trump yang mengancam tindakan militer terhadap Oman jika negara tersebut dinilai menghambat upaya penyelesaian persoalan Selat Hormuz. Reuters dan Financial Times juga melaporkan adanya peringatan serupa yang diberikan Trump kepada Oman di tengah kebuntuan pembicaraan mengenai pembukaan kembali selat tersebut.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar