Rombongan Smile Train Tersesat Berjam-jam di Laut Halmahera Usai Antar Pasien Bibir Sumbing

- Rabu, 19 Agustus 2026 | 09:00 WIB
Rombongan Smile Train Tersesat Berjam-jam di Laut Halmahera Usai Antar Pasien Bibir Sumbing

‌

PARADAPOS.COM - Sebuah perjalanan dinas yang tampak sederhana nyaris berubah menjadi tragedi bagi Country Manager Smile Train Indonesia, Deasy Larasati. Saat mendampingi seorang pasien bibir sumbing di Halmahera, Maluku Utara, rombongannya tersesat di laut lepas selama berjam-jam hingga harus diselamatkan oleh kapal nelayan. Kejadian ini terungkap dalam perbincangan tentang kerja kemanusiaan di balik layar, di mana akses layanan kesehatan bagi warga di daerah terpencil masih menjadi tantangan besar.

Perjalanan itu berawal dari niat baik. Deasy, bersama seorang bidan setempat, berencana mengantar seorang pasien sumbing pulang ke kampung halamannya di dekat Pulau Bacan. Ia juga mengajak dokter anestesi dan dokter bedah plastik dalam rombongan tersebut. Tujuan utamanya bukan sekadar antar-jemput, melainkan juga untuk mengedukasi orang tua dari seorang pasien lain berusia 10 tahun yang sebelumnya menolak operasi.

Tersesat di Tengah Laut

Apa yang direncanakan sebagai perjalanan tiga jam berubah menjadi ujian kesabaran dan nyawa. Speedboat yang mereka tumpangi melenceng dari jalur saat hari mulai gelap. Deasy mengenang momen mencekam itu dengan detail, ketika harapan untuk tiba tepat waktu sirna seiring tenggelamnya matahari.

"Harusnya 3 jam sampai, tapi di tengah perjalanan kami itu nyasar... Kami terdampar, harusnya kami sudah kembali di Labuha itu jam 5.00 sore. Tapi sampai saat itu kita jam 10 malam hilang di antah berantah," kenang Deasy.

Suasana di atas kapal berubah menjadi hening dan mencekam. Rasa cemas mulai menggerogoti setiap anggota rombongan. Deasy menggambarkan bagaimana masing-masing dari mereka larut dalam doa dan kepasrahan.

"Semua masing-masing sudah berdoa, sudah berserah ke Tuhan, udah enggak tahu, udah ada yang muntah, udah stres kami hilang arah, kami hilang arah," ujarnya.

Situasi semakin genting ketika salah satu mesin speedboat terpaksa dimatikan. Bahan bakar yang tersisa menipis, membuat mereka semakin rentan terombang-ambing di tengah laut.

"Kita sudah sempat matiin mesin satu karena bahan bakar sudah mau habis," tuturnya.

Pertolongan di Tengah Kepasrahan

Saat harapan mulai menipis, secercah cahaya muncul dari kejauhan. Suara mesin kapal nelayan terdengar samar, memecah kesunyian malam yang mencekam. Rombongan yang tadinya pasrah sontak berteriak sekencang mungkin untuk menarik perhatian.

"Sampai ada kapal nelayan berbunyi, semua kita teriak. Barulah si nelayan itu datang dan mengarahkan kami ke desa terdekat," ucapnya.

Meski nyaris kehilangan nyawa, pengalaman pahit itu tak lantas membuat Deasy jera. Justru ia merasa mendapat pelajaran berharga tentang arti sebuah pengabdian. Ia mengaku sempat berdoa dengan harapan bisa kembali bertemu keluarganya dalam kondisi apa pun.

"Walaupun pada saat itu saya berdoa sama Tuhan paling tidak terjadi apa-apa sama saya, keluarga saya bisa temuin saya kondisi apapun," ungkapnya.

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler